|
Saran Anda
Nama: yosep gobai Dari: paniai/papua Saya: Mahasiswa sekolah tinggi teknilogi adisujipto STTA yogyakarta Saran: GURU SEBAGAI TENAGA PROFESIONAL
Maaf Pak, sarannya sangat menarik tetapi bukan KBK, jadi saya memasang info Bapak di http://Berjuang.Org bagian "Mutu Pendidikan".
Nama: AH. Sobri Dari: Semarang/Jawa Tengah Saya: Guru Kab. Semarang Saran:
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Bagian 2
Keterkaitan Komponen Dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kecanggihan ilmu pengetahuan dan globalisasi membutuhkan upaya sistematis untuk mengantisipasinya. Area pasar bebas di Asia yang ditandai dengan AFTA menyeret negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) untuk siap bersaing dalam dalam segala bidang, termasuk pengembangan kurikulum nasional (Kurnas) 1994 tidak relevan dengan realita kehidupan dan kurang mempersiapkan peserta didik di zaman globalisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tahun 1998, UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan (1) Learning to know (landasan ilmu pengetahuan) (2) Learning to do (aplikasi) (3) Learning to be (penggalian potensi diri dan learning together (team work)
Kerangka pendidikan dunia inilah yang mendasari kebijakan berbagai negara untuk menerapkan kurikulum berbasis kompetensi, seperti negara-negara Afrika (Beliz, Trinidad, dan Tobago) telah mendahului Indonesia. Amerika (sejak tahun 70-an) dengan sebutan "Competency Based Education (CBE)" dan kurikulumnya disebut "Competency Based Curriculum". Adapun Inggris dan Jerman telah menerapkan sejak tahun 80-an dan Australia pada tahun 90-an. Adapun berdasarkan keputusan Mendiknas RI. No. 045/U/2002 kompetensi didefinisikan sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab, yang dimiliki seseorang sebagai syarat kemampuan untuk mengerjakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu. implementasi keputusan tersebut kemudian terwujud dalam tindakan-tindakan perubahan terapan kurikulum nasional (Kurnas) 1994 ke arah terapan KBK. Sebelum secara nasional diberlakukan, pemerintah (melalui kinerja Puskur Depdiknas) mengawali langkah tersebut dengan melaksanakan uji coba melalui pelaksanaan KBK.
Bagaimana kondisi ( keadaan ) aktual dan kesiapan SLTP berkaitan dengan pelaksanaan perintisan KBK , khususnys dalam proses pembelajaean mata pelajaran Biologi kelas I semester II tahun pelajaran 2002/2003 ?
Bagaimana peranan dan kinerja unsur-unsur pelaksana ( kepala sekolah, guru, peserta didik dan tenaga administrasi ) dalam proses pembelajaran di SLTP atau SMU dalam rangka pelaksana perintisan KBK ?
Bravo KBK, yuk kita coba..... E-mail Pengirim: adeutok@plasa.com Tanggal: 05 Februari 2002
Jadi KBK masih perlu di uji cobakan di Indonesia untuk menuai hasil yang benar-benar kompeten dengan keahlian siswa.
Makalah: Ah Sobri
Guru SMK Muhammadiyah Gentan Susukan 2001
Hp. 08170550374
Banaran 2/5 Semarang
E-mail Pengirim: adeutok@plasa.com Tanggal: 15-1-2005
Nama: kelik Dari: surabaya jawa timur Saya: Masyarakat jawa timur Saran: bukan saran sih tapi saya lagi butuh informasi atau data mengenai perkembangan pendidikan taman kanak-kanak di jawa timur berkaitan dengan berlakunya kurikulum berbasis kompetensi ( KBK )
informasi atau data yang saya butuhkan menyangkut sekolahnya, gurunya, siswanya dan masyarakat. terima kasih Cepeten ya?????/ E-mail Pengirim: semut_indah@plasa.com Tanggal: 15 januari 2005
Nama: tritian nurmansyah Dari: semarang/jawa tengah Saya: Mahasiswa BPLP SEMARANG Saran: Di dunia mahasiswa tidak boleh diatur terus berikan kebebasan pada mahasiswa agar dapat mengembangkan potensi (KBK) dan bagi siswa sltp atau smu jangan kayak tritian ya....?? nakal banget nanti akan menyesal dikemudian hari
bravo bplp semarang (diklat perhubungan laut) E-mail Pengirim: aan@plasa.com Tanggal: 16 JANUARI 2005
Nama: Arief Sattya Dari: Palembang / SUM SEL Saya: Mahasiswa Universitas PGRI Palembang Saran: KBK adalah polesan dari kurikulum terdahulu 1994 yang sebenarnya diharapkan dapat membperbaiki generasi generasi yang akan datang dalam berpikir dan bertindak. Permasalahan yang ada skrg adalah generasi yang akan diperbaiki ini (katanya) mendapatkan dan melihat contoh contoh yang sebenarnya harus segera diperbaiki oleh para pengajar itu sendiri ataupun mereka yang berkompeten dalam mengambil keputusan bagi kemjuan pendidikan di Indonesia. E-mail Pengirim: Satya@plasa.com Tanggal: 16 01 2005
Nama: Meliana Dari: Bandung Saya: Mahasiswi Universitas Padjadjaran (Psikologi) Saran: Karena saya benar-benar tertarik dengan KBK, Tolong beritahu saya buku yang berisi tentang KBK dan berisi tentang kemampuan-kemampuan yang harus dipebuhi guru dalam KBK. Serius dan penting untuk Skripsi saya. Terima Kasih E-mail Pengirim: mels_kamel@plasa.com Tanggal: 17 januari 2005
Nama: Miftah... Saya: Mahasiswi Smg Saran: Menurut saya KBK cukup menantang untuk dilaksanakan. Hanya perlu persiapan yang benar-benar muatangg agar bisa benar-benar meningkatkan pendidikan di Indonesia. Jika tidak... yah mungkin nasibnya akan sama dengan metode yang sudah-sudah. Bagi temen-temen senasib sepenanggungan (calon guru...??!!) mari kita persiapkan sebaik-baiknya. Allohu Akbar!!!!! E-mail Pengirim: ifta_cute@plasa.com Tanggal: 18 Januari 2005
Nama: siti zulfikarini Dari: malang Saya: Mahasiswi UM Saran: memang Indonesia harus berani melakukan perubahan kalo menginginkan kemajuan. terlebih lagi dalam bidang pendidikan, bidang yang bisa menentukan masa depan indonesia.
KBK memang bagus untuk sebuah perubahan itu. tapi masalahnya, agak ruwet. ruwetnya dimana? bagi guru harus dituntut kerja keras. it's ok kalo memang guru dituntut keprofesionalannya. yg susah disini untuk penilaian psikomotor siswa. misalnya, siswa praktikum dan terdiri dari banyak kelompok, sangat sulit bagi guru untuk memperhatikan satu per satu siswa.
pada saat praktikum, seorang guru mungkin masih berada dekat sebuah kelompok dan menilai kerjanya, terus bagaimana dengan kelompok lain yg juga tengah bekerja tetapi guru tidak sempat mengamatinya, apakah mereka tidak akan mendapatkan nilai? kalau gurunya lebih dari satu, mungkin tidak begitu repot dalam melakukan penilaian. tetapi menurut saya itu juga masih belum bisa obyektif banget sebab harus menilai siswa satu persatu dan juga di lapangan guru yang ngajar cuman satu orang. bagaimana solusi untuk hal ini?
pada pemerintah...janjinya untuk meningkatkan kesejahteraan guru (menaikkan gaji guru) ditunggu oleh semua guru dan juga calon guru di Indonesia. E-mail Pengirim: v_icka@yahoo.co.in Tanggal: 23 januari 2005
Nama: samsul bahri Dari: Lendang Nangka lombok Timur Saya: Guru SMPN 3 Kopang Saran: Yang enak ngomongin KBK buat sekolah-sekolah yang sudah punya pendukung baik itu sarana maupu prasarana bagaimana kalau sekolah sekolah seperti tempat saya mengajar, buku yang ada sudah lapuk semua peninggalam kurikulum-kurikulum terdahulu anak mau beli tidak punya duit, kemampuan berpikir anak jauh dari ambang batas, disuapin aja susah apalagi tuh mau cari sendiri makannya, gimana kalau Bapak-bapak yang pintar-pintar bikin kurikulum terjun sekali aja untuk memberikan contoh mengajar pakai KBK ke sekolah-sekolah yang memang boleh dikatakn masih jauh tertinggal dengan segala kekurangannya,.... E-mail Pengirim: smslbahri@yahoo.com Tanggal: 30 januari 2005
Nama: ridha Dari: medan/sumut Saya: Mahasiswa unimed Saran: saya lagi nulis skirpsi tentang KBK tapi saya banyak mendapatkesulitan, karena sekolah yang saya teliti guru nya juga masih pada bingung tentang apa itu kbk, saya harap memang masalah kbk ini harus segera dituntas kan dalam artibukan hanya pada tataran diseminar kan tapi guru-guru ini melakukan praktek langsung kalau hanya seminar dan dialog interaktif nampaknya belum dapat dipahami sekali oleh para guru-guru itu. kalau ada info tentang harapan dan tujuan pokok dalam KBK saya harap di informasikan ke saya saya butuh sekali E-mail Pengirim: ridha_83azra@yahoo.com Tanggal: 01-02-05
Nama: Agus Wuryanto,S.Pd Dari: Karanganyar, Jawa Tengah Saya: Guru SMA Negeri Jawa Tengah Saran: Saya, guru bahasa inggris. Saya sendiri mengalami kesulitan ketika harus mencari referensi untuk materi pelajaran. Kami masih bingung dengan model pembelajaran bahasa Inggris Genre based text. Mohon teman-teman guru bahasa inggris yang punya banyak rujukan kasih bantuan dong contoh textnya. Send ke e-mail saya : guswurr@plasa.com. E-mail Pengirim: guswurr@plasa.com Tanggal: 3 Pebruari 2005
Nama: eggie Dari: the black city Saya: Siswa sman somewhere Saran: sebenernya tuh saya menghargai dan mendukung banget ada kurikulum baru...!!! toh maksudnya juga baek, biar pendidikan di negara kita maju kan!!!!1 tapi knyataan di lapanggannya boleh percaya ato engga beda banget(suerr deh!!!!). kalo murid di suruh adaptasi sih itu mungkin udah lumrah dan jadi tugas kita sebagai SUBYEK DIDIK ato apalah namanya..............Namun skarang tu kasusnya.. gurunya sendiri tu mayoritas ga paham CARA MENDIDIK DG SISTEM KBK. jadinya kita bukannya makin semangat utk maju.. tapi kita jd merasa sbg OBJEK PENDERITA.... krn tugas2 yg buannyak2 bgt tanpa di beri arahan/ ato literatur yg bisa kami buat contoh!!!!1 dan lagi yg namanya REMIDI tuh memberatkan kita banget, masa saya remidi kimia stiap KD tp tetep nga lulus.... mana ada REMIDI PEMBELAJARAN lagi... huh.... menyebalkan...saya dan temen2 sampe capek blajar KD yg sama mulu........,..JADI KESIMPULANNYA TOLONG DIPERHATIKAN SETIAP ASPEK PENDUKUNG DARI SISTEM INI KALO ENGGA PASTI NANTINYA JADI ANCUR:-( E-mail Pengirim: Tanggal: 04-02-2005
Nama: Dian Rahma Dari: Malang Saya: Mahasiswi UNISMA Saran: Dalam teorinya Kurikulum Berbasis Kompetensi, sangat ideal untuk pembelajaran disekolah, tapi pada pelaksanaannya kurikulum ini masih mendatangkan berbagai masalah bagi guru dan siswa, khususnya di sekolah-didaerah.
KBK akan terlaksana apabila sarana dan prasarana pendidikan tersedia secara optimal,dan kita tidak mendapatkan itu disekolah - sekolah yang ada didaerah, himbauan dari saya agar pemerintah memandang hal tersebut,bukankah seluruh warga negara Indonesia berhak mendapat pendidikan yang setara dengan yang lain?
Saya menemukan kesenjangan pendidikan ini ketika saya mengikuti kegiatan BAKSOS didaerah-daerah, pada saat itu saya melihat ada ketidakadilan atas fenomena yang ada. E-mail Pengirim: diantien2002@yahoo.com Tanggal: 05 februari 2005
Nama: susminto Dari: Kediri -Jawa Timur Saya: Guru SMA Hang Tuah 4 Surabaya Saran: saya telah dua kali mengikuti sosialisasi dan workshop KBK oleh petugas dari Diknas. dari apa yang dipaparkan oleh petugas, sepertinya tidak ada hal-hal baru yang mendasar sama sekali dari apa yang ditawarkan oleh sistem baru ini. ya... memang begitulah idealnya sebuah proses pembelajaran; membelajarkan siswa untuk mencari dengan kreatifitasnya sebanyak-banyaknya bekal yang dibutuhkan, bukan hanya menerima apa yang disampaikan guru.
dari sisi guru, saya pikir, meskipun tidak ada sistem ini, bagi guru yang memang paham betul apa itu "mendewasakan siswa", pasti tiap hari akan mengajak siswa untuk belajar menggunakan kreatifitasnya dalam menilai dan memecahkan masalahnya. jadi, bagi sebagian teman guru yang masih bingung, sebenarnya bukan kita yang bingung, cuma kita memang dibuat bingung dengan sistem administrasi yang ditawarkan oleh birokrat diknas, kenapa kita tidak membuat administrasi sendiri menurut apa yang kita lakukan? kita harus jujur, bahwa sebagian dari teman guru (termasuk saya) memang terkesan terkejut dengan administrasi yang demikian banyak, barangkali karena memang selama ini kita belum terbiasa bekerja secara maksimal, jadi perlu pembiasaan lagi untuk mewujudkan proses pembelajaran yang ideal tersebut, kita memang harus terus belajar.
dari sisi siswa, kita harus akui, bahwa sebagian anak-anak kita juga belum siap dengan usaha untuk memunculkan kreatifitasnya. ya... barangkali karena mentalitas yang terbangun sejak mereka kecil memang mentalitas "menerima instruksi". jadi barangkali perlu dikaji ulang, apakah tidak sebaiknya yang menerapkan kurikulum ini dimulai dulu dari tingkat sekolah dasar terlebih dahulu, untuk sementara sekolah menengah masih menggunakan sistem lama dengan perbaikan seperlunya. jika lulusan SD sudah terbiasa dengan pembelajaran kreatif tersebut, maka di sekolah lanjutan mereka sudah tidak canggung lagi untuk memunculkan kreatifitasnya.
dari sisi birokrat, sebaiknya apa yang sudah diputuskan sebagai sistem itu harus selalu ditindaklanjuti dengan memberikan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. sebaiknya dihindari, tiap ganti birokrat ganti kebijakan (kita ingat, KBK ini kan mirip CBSA yang pernah diterapkan sekitar tahun 1994, hanya saja kurang berhasil). jadi bukan ide pokok tentang sistem yang penting (karena kita semua sudah paham dengan ide ideal tersebut), tetapi bagaimana menjaga sistem ini mampu bertahan dan berkembang dengan maksimal. dan tanpa supervisi yang bagus dan "bernurani", saya pikir sistem ini tidak akan bertahan lama, karena memang sebagian kecil teman-teman guru (termasuk saya) adalah guru untuk mencari nafkah (sekedar bekerja, tidak disertai nurani mendidik) jadi enggan untuk bekerja secara maksimal. E-mail Pengirim: simento2806@yahoo.com Tanggal: 5 Pebruari 2005
Nama: Moch Ichsan Wibowo Dari: Malang Saya: Mahasiswa UIN Malang Saran: KBK sebenarnya adalah produk pemikiran barat yang sangat bertumpu pada pengamatan secara mendetail. Dalam dunia pendidikan pengamatan tersebut sangat bertumpu pada siapa siswa, bagaimana siswa. Implikasinya, kemudian, adalah bagaimana kita memperlakukan siswa, bagaimana kita mengetahui kompetensi siswa dan pokoknya, bagaimana kita memperhatikan secara mendetail kebutuhan siswa dalam belajar.satu hal yang barangkali luput dari pandangan pemerintah adalah bahwa produk barat tersebut sangat mengandalkan penelitian. Karena dari penelitian yang mendetail itulah dapat di ungkap berbagai hal dan juga dapat di buat sebuah sistem penilain standar.
seperti, misal dalam pengajaran bahasa, ada penelitian interlanguage yang berusaha mengungungkap pola perolehan bahasa siswa di mana pola tersebut dapat menginformasikan kepada guru kelemahan siswa. Selama ini kan guru bahasa hanya bertumpu pada error yang ditemukan namun mereka jarang sekali mengidentifikasi dan atau mengkategorisasikan error-error tersebut menjadi minimal data yang dapat mereka manfaatkan atau bahkan kamus interlanguage. Dan tentunnya dari kamus tersebut, guru bahasa dapat terbantu untuk menidentifikasi error (interlanguage) siswa dan dengan segera dapat mengambil strategi yang sesuai.Karena ini merupakan hal yang baru bagi dunia pengajaran bahasa kita meskipun, di sisi lain, sudah menjadi hal yang sangat berkembang di negara barat sana maka tentunya pemerintah kita harus mengembangkan paradigma tentang interlanguage terlebih dahulu pada para pengajar bahasa kita.
dengan kondisi guru kita seperti ini maka akan sulit sekali menerapkannya karena jelas sekali ini merupakan kerja berbasis research. Di katakan begitu karena kerja tersebut sarat dengan prosedur-prosedur research dan hasilnyapun merupakan hasil research.So, jika pemerintah kita benar-benar ingin menerapkan KBK, maka intensitas penelitian harus menjadi perhatian utama. Kalau tidak maka tidak layak kita menyebut kurikulum yang baru di terapkan pada tahun 2004 ini sebagai KBK. Itu akan lebih baik jika di ganti dengan nama "kurikulum 94 modern" karena evaluasinya masih berkutat pada hasil dan bukannya proses. pada hal KBK adalah kurikulum yang berkomitmen pada proses. E-mail Pengirim: ixan_wb@Yahoo.com Tanggal: 06-02-2005
Nama: aNgEL Dari: MALANG Saya: Siswi MALAng Saran: KBK apaan tuh?? pusing gw... diskusi2 gak jelas!!!!
cara pengaturan nilainya gak enak!!! kLo gw gak naik kelas gmana???
pake penilaian motorik, dlll segala!!!
truz, knapa standar nilai buat lulus parah banget??? kLo banyak gak lulus INDONESIA hancur tau!!! E-mail Pengirim: angl_error@yahoo.com Tanggal: 06 februari
Nama: yeyon Dari: sumsel Saya: Masyarakat pagaralam Saran: moga dengan adanya kbk ini kota pagaralam bs lwbih maju d bidang pendidikan, mohon bantuan krm modul untuk smun2 pagaralam,di jl masik siagim karang dalo 31551 E-mail Pengirim: yeyon_78@yahoo.com Tanggal: 8 februari 2005
Nama: isha Dari: cirebon jabar Saya: Siswa sd wanlor Saran: sebenarnya kbk mata pelajaran bahasa inggris sd sudah ada belum dari pemerintah? sementara pelajaran yang lain sudah ada E-mail Pengirim: nisya_putry@yahoo.com Tanggal: 10-2-2005
Nama: Agung Sukawati Dari: DKI Jakarta Saya: Dosen Ubinus Saran: Pemahaman KBK ini masih banyak guru belum mampu mlakanakan, saran saya agar sosialisasi dipercepat dan dipebanyak menggunkan istem jaringan. Kemudia hasil tsb di evaluasi, ampai sejauh mana pemahaman guru. Karena masih banyak sekolah belum melaksanaknnya . Kasian para guru yang masih kebingunagn. Pada hal ini tahun ke 2 nampaknya strategi sosialisasi yang kurang tepat. Atau dana dihabiskan tanpa sasasran yg jelas, mutunya dsbnya E-mail Pengirim: anakagung2150@hotmail.com Tanggal: Jumat, 11 Februari 2005
Nama: meliya Dari: yogyakarta Saya: Mahasiswi UNY Saran: KBK.., OH KBK...
semoga kurikulum baru ini dapat menjadi suatu program pendidikan yang tidak hanya menjadikan generasi penerus kita sebagai generasi 'a worker' tapi sekaligus generasi 'a thinker'
jadi apa pilihan anda? menjadi seorang praktisi? atau akademisi? atau keduanya? E-mail Pengirim: maiya_3@plasa.com Tanggal: 11 Februari 2005
Nama: ellen Dari: yogyakarta Saya: Mahasiswi Universitas Kristen Immanuel Saran: tolong saya diberikan referensi buku-buku tentang KBK untuk skripsi saya. E-mail Pengirim: ellenmaniez1983@yahoo.com Tanggal: 11-02-2005
Nama: Marwandi Dari: Pontianak, Kalimantan Barat Saya: Guru Sekolah Menengah Teknologi Industri Saran: Saya sangat setuju dengan rekan-rekan yang lain, bahwa harus ada keserempakan dalam mengaplikasikan sistem KBK ini, lagipula masih banyak guru-guru yang lainnya, terutama daerah yang terpencil belum mengetahui apa itu KBK. Saya berharap kepada Pemerintah pusat, terutama yang berwenang, untuk mengadakan semacam seminar atau Diklat bagi guru-guru yang ingin menerapkan sistem KBK ini agar tidak terjadi kekeliruan teknis dalam pelaksanaannya; seperti cara penilaian dan sebagainya. E-mail Pengirim: marwandi81@yahoo.com Tanggal: 12 Februari 2005
Nama: novita anggraini Dari: malang, jawa timur Saya: Mahasiswi STIBA Malang Saran: Kenapa KBK baru diterapkan sekarang padahal di luar negeri kalau tidak salah sudah dari tahun 80-an. jadi maklumlah kalau Indonesia "left behind" dengan orang-orang barat. E-mail Pengirim: Maztenk@yahoo.com Tanggal: 16 februari 2005
Nama: teresia Dari: salatiga, jawa tengah Saya: Mahasiswi jpmipa UKSW Salatiga Saran: Pengembangan KBK yang mulai berjalan di sekolah-sekolah menengah, memerlukan banyak sekali persiapan. Kecenderungan sistem PBM secara konvensional yang telah dilakukan selama ini, memerlukan usaha dan kerja keras dari berbagai pihak untuk mengubah ke arah KBK yang mengutamakan siswa sebagai subjek pendidikan. Pengalaman saya sendiri sebagai mahasiswa jpmipa Fisika UKSW selama hampir 4 tahun, sangat berat sekali harus dapat menjadi fasilitator di dalam kelas, tidak hanya memberi tugas kepada siswa tetapi harus benar2 dapat menguasai materi serta bagaimana mengarahkan siswa agar dapat berkompeten untuk suatu materi tertentu. Sependapat dengan Saudara Nino dari USD, bahwa yang diperlukan adalah usaha bukan hanya kritik saja agar KBK benar2 dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Menurut saya yang paling perlu ditingkatkan adalah SDM dari pengajar, pelatihan yang bersifat sementara tidak akan membawa hasil jika pengajar tersebut tidak benar2 mempraktekkannya secara langsung dan berkelanjutan pada anak didik. Khusus untuk Fisika, adalah dengan pengajaran secara metode ilmiah (discovery). Bukan alasan kalau ada yang mengatakan kurangnya sarana prasarana seperti peralatan laboratorium sehingga pratikum tidak dapat dilaksanakan, karena dengan alat sederhana, yang ada di sekitar kita pun pengajaran secara KBK dapat dilaksanakan. Masalah utama sekali adalah bagaimana cara mengarahkan anak didik agar dapat berpikir dan berkompeten, bukan hanya memberikan resep instant. Kiranya hal ini dapat menjadi perenungan kita sebagai calon pengajar, dan untuk teman2 yang ingin berkonsultasi tentang pemanfaatan alat2 sederhana untuk pengajaran Fisika dapat mengirim email kepada saya. E-mail Pengirim: levi_laplace@yahoo.com Tanggal: 17 februari 2004
Nama: imam s. Dari: malang Saya: Mahasiswa unibraw Saran: saya cuma ingin mengetahui apa kurikulum berbasis kompetensi itu. saya juga butuh form-form atau data -data yang berkaitan dengan proses penilaian nilai raport siswa. bagi yang mengetahui, mohon kirimkan melalui email saya ini. E-mail Pengirim: iim_arema@yahoo.com Tanggal: 19 februari 2005
Nama: MUSTAFA Dari: Tanbu Kalsel Saya: Mahasiswa UIN Malang Saran: Apa sich K B K bingung gito lho E-mail Pengirim: mustafa_tanbu@yahoo.com Tanggal: 23/02/2005
Nama: Pita murwani Dari: Klaten Saya: Mahasiswi unwidha Saran: Saya ingin tanya, sistem pengajaran, pengertian & pelaksanaan KBK BHS INGGRIS SMK 2004. Mohon di jelaskan, terima kasih. E-mail Pengirim: dear_pysha@yahoo.com Tanggal: 3 maret 2005
Nama: syafruddin Dari: polmas/sulbar Saya: Guru smp neg. 3 polewali Saran: kiranya petunjuk pelaksanaan KBK khususnya silabus dab penilaian perlu cepat dikirim ke sekolah -sekolah mengingat di polmas 99 % smp di kabupaten polmas belum menerima silabus dan penilaian akhirnya sebagian besar sekolah belum menyelesaikan rapor kelas satu katanya terbentur pada cara pengolahan nilai kelas dan nilai blok oke ! E-mail Pengirim: saparuddinc6yahoo.co. Tanggal: 3 maret 2005
Nama: Juwariyah Dari: Jombang/ Jawatimur Saya: Dosen STAIM Nganjuk Saran: ini bukan hanya sekedar wacana, tapi bisa disosialisasikan sampai ke daerah/ Kota pinggiran/ lembaga pendidikan di Pedesaan dengan perangkat yang memadai E-mail Pengirim: lepas_ngk@yahoo.com.sg Tanggal: 4 maret 2005
Nama: Kristian Dari: Pontianak Saya: Mahasiswa Jogja Saran: Saya pikir harus ada sebuah penelitian untuk melihat emperical truth dari penerapan KBK. Apakah stakeholders di sekolah sudah memahami betul apa yang harus dilakukan. dan sekarang saya sedang melakukan riset kecil tentang hal itu dalam kuliah saya tp masih sangat terbatas. E-mail Pengirim: Sangke_12345@yahoo.com Tanggal: 4 Maret
Nama: ANTONIUS SUGIANTO Dari: SAMARINDA Saya: Mahasiswa UNMUL Saran: kurikulum berbasis kompetensi, sangat baik diterapkan. tetapi yang menjadi problema saat ini adlah guru kurang memahami kbk scr keseluruhan. saran saya agar guru2 diberika pelatihan agar dalam mengajar tidak terpaku pada kurikulum yang lama E-mail Pengirim: anton_lavenda@yahoo.com Tanggal: 04-03-2005
Nama: ANTONIUS SUGIANTO Dari: SAMARINDA Saya: Mahasiswa UNMUL Saran: MOHON DIJELASKAN MENGENAI KBK KEPADA KHAYALAK RAMAI E-mail Pengirim: anton_lavenda@yahoo.com Tanggal: 04-03-2005
Nama: MIZAN SYA'RONI Dari: PUNGGING, MOJOKERTO/JATI Saya: Guru MOJOKERTO Saran: 1. Berikan petunjuk teknis untuk membagi dua bagian dalam kurikulum antara smester I dan II
2. Berikan contoh teknis untuk lintas kurikulm.
3. Berikan contoh format yang idial untuk penilaian berbasis kelas untuk SD/MI E-mail Pengirim: mizansy2004@yahoo.com Tanggal: 6 - 2 - 2005
Nama: Off Henko Dari: kertek/jateng Saya: Siswa smuda Saran: kurikulum berbasis kompetensi sangat baik di terapkan pada anak didik, karena melatih anak didik untuk lebih mandiri dalam belajar E-mail Pengirim: off17henko@yahoo.com Tanggal: 06march2005
Nama: yeti dwi masyruroh Dari: jawa timur Saya: Mahasiswa universitas jember Saran: Saya sarankan agar semua yang berhubungan dengan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi di tampilkan dalam web ini. Misalnya seperti bagaimana pelaksanaan KBK pada SMP dan SMA serta bagaimana sistem penilaian yang diterapkan dalam KBK ini. Saya mohon agar di balas, karena saya benar-benar membutuhkannya. Terimakasih E-mail Pengirim: kuda_betina@plasa.com Tanggal: 7 maret 2005
Nama: anis noor laylly Dari: Semarang/Jateng Saya: Mahasiswi UNNES Saran: Saya sangat teertarik denagn KBK, dan saat ini sedang mencari bahan-bahan untuk skripsi. Mohon diberitahu tentang
1.apa itu KBK ?
2.kemampuan yang harus dipenuhi oleh guru Pengetahuan Sosial dalam KBK
3.referensi buku-buku yang berkaitan dengan KBK
4.data-data yang berkaitan dengan penilaian raport KBK E-mail Pengirim: petualanghidup@plasa.com Tanggal: 8 Maret 2005
Nama: rahman maeda Dari: tondano/sulut Saya: Mahasiswa universitas negeri manado Saran: Berbicara masalah KBK maka pemerintah diharapkan dapat memberikan fasilitas pendidikan yang menunjang karena ini merupakan suatu hal yang fital dalam proses PBM namun jangan hanya terfokus pada daerah perkotaan saja karena anak2 sekolah yang keberadaanya pada umumnya lebih banyak dipedesaan agar supaya sumber daya manusia yang diinginkan oleh negara dapat terwujud dan berbicara KBK maka kita harus berbalik arah lagi dimana kita harus merubah kurikulum yang lalu lagi E-mail Pengirim: man_poki@plasa.com Tanggal: 9 maret 2005
Nama: rahman maeda Dari: tondano/sulut Saya: Mahasiswa universitas negeri manado Saran: KBK suatu kurikulum yang memang bagus untuk di kembangkan akan tetapi KBK akan membawa dampak yang negatif bagi masyarakat dibawah standar mengingat pada umumnya anak2 sekolah lebih besar jumlahnya pada daerah pedesaan... yang menjadi pertanyaan sekarang mampukah pemerintah untuk memberikan sarana bagi mereka.....? mengapa kita harus bertanya dmikian karena fasilitas merupakan hal yang sangat vital dalam proses PBM selain itu lagi kurikulum yang lama harus dirubah kemmbali alias di perbaharui yang menyebabkan kita harus berbalik arah kebelakang yang sebenarnya kita telah maju satu langkah. E-mail Pengirim: man_poki@plasa.com Tanggal: 10 maret 2005
Nama: nisa faridz Dari: jakarta Saya: Pengamat indonesia Saran: sebenarnya kalau 'sekedar' melihat konsep KBK,merupakan konsep yang ideal sekali,pertama, penilaian tidak lagi bersifat kuantitatif semata, kedua, memperhatikan isu kelokalan, dan ketiga (harusnya) mendidik, bukan sekedar 'mengajar' siswa. tapi yang selalu menjadi concern saya, sebenarnya sejauh apa SDM siap menjalankan konsep2 canggih tersebut, sejauh apa kesungguhan pemerintah dalam mensosialisasikannya? E-mail Pengirim: Tanggal: 11 maret 2005
Nama: M. Ichsanudin Hasbie Dari: Bumi Serpong Damai, Tangerang Saya: Guru Insan Cendekia Serpong Saran:
1). KBK hanya dapat berjalan dengan baik bila didukung oleh sumber data, sumber informasi, dan sumber pengetahuan yang memadai, tanpa ini semua, KBK gagal total.
2). Data, informasi, dan pengetahuan tersebut terdapat dalam berbagai media, antara lain media cetak & elektronik. Media cetak seperti buku, kamus, ensiklopedi, peta, majalah, surat kabar, jurnal, almanak, buku pintar, dan lain-lain. Media elektronik, seperti kaset, CD, film, filmstrip, pita rekaman, laser disc, disket, video, TV, CD ROM, dan internet. Semua media ini (cetak & elektronik) tersedia (disediakan) di perpustakaan. Oleh karena itu, bila ingin KBK berhasil, berdayakan dulu perpustakaan. Di negara-negara maju sudah dilakukan puluhan bahkan ratusan tahun lalu, dan hasil pendidikan mereka sudah terbukti, kan?
3). KBK itu konsep pendidikan yang diadopsi dari berbagai negara maju (Australia, Kanada, Amerika, Inggris, Hongkong, Selandia Baru, dan sebagainya). Jangan lupa, Penerapan KBK di sana benar-benar didukung oleh sumber data, sumber informasi, dan sumber pengetahuan yang disebut dengan Library (perpustakaan) yang sangat mapan, yang berfungsi sebagai "learning resources center", di samping laboratorium-laboratorium.
4). Yang lucu, di mana-mana pelatihan KBK, tidak satu pun yang menyinggung perpustakaan. Yang di singgung sumber dan media pembelajaran saja, akhirnya sumber dan media pembelajaran itu ada di mana-mana, terpencar-pencar, diurus oleh masing-masing guru. Akibatnya biaya jadi mahal, pemanfaatannya tidak maksimal, masing-masing guru punya "kerajaan" sendiri-sendiri. Perpustakaan itu "learning resources centre" (pusat sumber belajar), lihat saja di Australia, Inggris, Amerika, dan bahkan tetangga kita Singapura dan Malaysia, mereka punya "school resources centre" itu di perpustakaan. Dengan demikian, pengelolaannya jadi murah, efektif, pengelola dan penanggung jawabnya jelas.
5). Pustakawan benar-benar dididik, di sekolahkan, minimal S1, seperti guru. Jadi pustakawan dan guru komunikasinya nyambung. Pustakawan dan guru harus bekerjasama terlibat langsung dalam perencanaan, proses, dan evaluasi pembelajaran. Makanya, di negara-negara maju, pustakawan di sekolah itu mereka sebut "Teacher-Librarian" (Guru-Pustakawan), atau biasa mereka singkat "TL". Ini menggambarkan betapa dekat dan pentingnya kerjasama guru dan pustakawan.
6). Sekarang ini pendidikan tentang perpustakaan atau "Library and Information Science" itu sudah canggih. Objek kajian mereka juga luas dan mendalam, karena mereka disiapkan ahli dalam penelusuran, pengelolaan, pemanfaatan, dan penilaian informasi, khususnya di CD ROM dan internet. Sayangnya, hal ini kurang diketahui oleh masyarakat kita, karena kurangnya pengetahuan dan sosialisasi dari pemerintah yang berwenang, seperti Diknas. Akhirnya mereka-mereka alumni LIS (Library and Information Science) banyak bekerja di perusahaan-perusahaan asing, kedutaan asing, atau badan-badan asing, seperti Unesco, dan sebagainya. Karena masyarakat asing(pengusaha, pejabat, badan-badan asing) tahu betul kemampuan pustakawan yang terdidik ini. Mereka pustakawan terdidik/profesional juga senang, karena merasa lebih dihargai oleh orang asing daripada masyarakat dan pemerintah Indonesia sendiri.
7). Pendek kata, mulai sekarang, Diknas dan Depag yang mengurusi pendidikan di negeri ini, sadar bahwa berpikirlah komprehensif (jangan sepotong-potong), proaktif, membuka diri selebar-lebarnya terhadap berbagai masukan, sebab perkembangan semua bidang pada saat ini sangat cepat dan dinamis, jangan merasa (maaf ya) "paling tau sendiri". Demikian saran saya untuk KBK. Terima kasih. E-mail Pengirim: kayla-najmi@yahoo.com Tanggal: 15 Maret 2005
Nama: agus supriatna Dari: bandung jawa barat Saya: Dosen UNSUR CIANJUR Saran: PADA DASARNYA K 2004 (KBK) SUDAH MENDARAH DAGING PD DIRI GURU ITU SENDIRI SETIAP MEMBERIKAN PEMBELAJARAN. AKAN TETAPI, MEREKA TIDAK TAHU ISTILAH2 BARU DLM KBK. MISAL, KETIKA GURU MEMBAWA ANAK2 PIKNIK KE SUATU TEMPAT AKHIR THN., MEREKA SELALU BERDIALOG DGN SISWA HAL2 YG DILIHAT DAN DIRASAKAN SISWA DI TEMPAT PIKNIK TERSEBUT. SETELAH USAI DAN MASUK KLS, SISWA DITUGASKAN MENCERITAKAN PENGALAMANNYA, BAIK DGN BHS TULIS ATAU LISAN DI KELAS. BUKANKAN ITU PRINSIF "LEARNING BY DOING" ATAU "OUT DOOR LEARNING" DLM ISTILAH KBK?
JADI SARAN SAYA JANGAN TIDAK PERLU DICEMASI DAN DIBUAT SUKAR KURIKULUM, TAPI JALANKAN SEPERTI BIASA DAN ADMINSTRASINYA PERLU DIKEMBANGKAN SEPERTI DLM PENILAIANNYA. MISALNYA, DAFTAR PERKEMBANGAN KEMAJUAN BELAJAR SISWA (PORTOFOLIO) KETIKA SISWA MENGARANG ATAU BERCERITA. DI SAMPING ITU, UBAH SIKAP GURU YANG "SERBA TAHU" DENGAN JIWA DEMOKRASI, SEHINGGA SISWA DIBERI KEBEBASAN DALAM BELAJAR. GURU MEMPOSISIKAN SEBAGAI PEMBIMBING DAN MOTIVATOR DLM KEGIATAN BELAJAR SISWA. TRIMS. E-mail Pengirim: ayahtea@yahoo Tanggal: 15 MARET 2005
Ke Halaman 4 >>
|