Index ForumPendidikan MahalMemperbaiki PemerintahKBK FORUMFORUM UMUMKegiatan ProyekAnggota AktifLinks ProyekKegiatan Pendidikan

The Voice of Indonesian Educators and Learners
TOPIK
"Mengatasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)"
Halaman: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8


Saran Anda
A Moment for Reflection

Nama: Jibral Risman
Dari: Yogyakarta
Saya: Masyarakat Yogyakarta
Saran: J Risman, Yogyakarta, Abdi Masyarakat, risman_1350@yahoo.com, 10 Mei 2005
Komentar
Luar biasa ! Ya, ada secercah harapan muncul di lubuk hati ini, walau masih juga berselubung was-was ! Tak ngira aku ini, bahwa ternyata masih banyak juga generasi kita yang peduli bangsa, meski baru sekedar melontarkan komentar-komentarnya terhadap masalah pendidikan. Yah, salut deh. Selamat buat web-masternya, tetapi lebih dari itu, ijinkanlah pula aku memberikan apresiasi yang teramat tinggi buat keseluruh pengasup, terutama buat 'si kecil Arancha' (halaman 1)! Wuihhh, hebat kamu Cha ! Polos, apa adanya, berani, tapi mengandung nilai-nilai lebih apa yang kamu cetuskan itu ! Alirkan saja terus bakat dan kreativitasmu itu dengan merdeka, tak usah ragu ! Tapi tentu saja kamu juga harus terus dan terus belajar, dan, jangan takabur ya ? Sayang kalau kamu lantas ngikut-ngikut pendahulumu, yang ketika mulai memang bagus, tetapi di tengah jalan toh tidak juga tahan uji, mlempem lagi, atau, nyimpang jalan ! Sayang kalok gitu ya ? Mudahan kagak gitu deh kamu ! Selamat belajar dan maju terus !

Yaaah, mau ngomong apa lagi aku ini ? Kalau mau ngomentari KBK, sudah dalu warsa (PAKEM juga bagus, begitu pula MBE Proyek, bahkan setiap program yang pernah dicanangkan pemerintah, rasanya tak ada yang bermaksud buruk. Tapi apa arti semua itu bila mental dan kapabilitas para birokratnya masih begitu-begitu saja ?). Aku yang selalu setia memegang teguh prinsip bahwa: kebenaran alami tak bisa lagi ditawar-tawar, sudah terlalu jenuh dan bosan membicarakan perilaku para birokrat-birokrat tanggung bangsa ini. Telah semenjak akhir tahun tujuh puluhan aku suka bicara lantang tentang 'kebobrokan sistem pendidikan' kita. Tapi ya itu tadi, menjadi pandai memang terlalu mahal harganya. Sia-sia kok bicara dengan orang-orang sok pinter, sok tahu, apalagi yang disertai dengan berbagai pamrih yang ujung-ujungnya memang sudah mudah ditebak, uang, money, doku, dsb biangnya maksiat itu ! Sungguh ! Bikin letih ! Salah-salah malah bisa menumbuhkan rasa dongkol yang membekas lama. Buntutnya ? Bisa ikutan bodoh, jelas itu ! Maka ya sudahlah. Kalau memang sebagian besar orang-orang di negeri ini sudah rela bahwasanya bangsa ini mau 'tergadaikan' kepada bangsa lain ? Mau apalagi aku ? Terserah saja bukan ? Begitulah pikirku waktu itu

Tapi kini ? Wah, nyerah deh aku. Baiknya kok ya nyobak-nyobak lagi ikut-ikutan untuk bisa urun-urun rembuk. Lho ? Lha iya, kenapa tidak ? Kan sekurang-kurangnya, ada 120 pembaca/ pendengar yang rada-rada peduli kan ? Cukup kok segitu itu. Dan rasa-rasanya kok, masih banyak juga yang lain ya ? Subhanallah ! Alhamdulillah !

Okay, akan kucoba memulai ikut menjadi pengasup (walau saat ini belum sampai ke inti permasalahan KBKnya Juga tak peduli dulu dengan salah ketik di sana-sini, walau semestinya ini juga perlu. Sebab ? Kita bicara masalah pembenahan. Maka kita juga harus belajar berbenah. Termasuk, nulis juga harus yang bener. Tapi lain kali sajalah yang itu, karena perlu waktu dan ruang yang cukup dan harus konsisten)

Yang pertama, sebagai rasa empatiku kepada web-master (Yang rupanya keletihan ya ? Karena single fighter katanya ? Hingga terkesan kurang konsisten ?) kucoba untuk mendokumentasikan keseluruhan 120 nama pengasup (79 dari Jawa, 37 Luar Jawa, 2 suara Webmaster, dan 2 suara tanpa alamat). Siapa tahu dengan sistematika lebih rapi ini lebih ada manfaatnya dari pada asal tampung. Tentu juga dimaksudkan untuk menghormati dan menghargai para pengasupnya ! Silahkan dilihat kembali pada halaman berikut setelah halaman komentar ini !

Yang kedua, KBK itu bukan barang baru, hanya 'dibungkus baru'. Biasalah di negeri ini, selalu saja begitu. Tapi sebentar, kita tidak boleh serta-merta sinis dan mencerca dulu. Biarlah itu, tak apa. Toh maksudnya baik. Hanya belum diplaning secara benar saja. Yah kita harus maklum, SDM ! Ya, SDM kita, kan masih terlalu payah ! Tak terkecuali yang ada di jajaran 'pembuat kebijakan'. Tapi sekali lagi, tak apa, biar saja dulu. Sebab, sesungguhnya, hal-hal demikian itu memang sulit sekali dielakkan. Siapapun mereka, termasuk mungkin juga kita pasti akan menghadapinya, kalau tiba-tiba harus menjadi birokrat. Lucu dong kalau hanya 'ngikut-ngikut' atau 'ngekor' dari pendahulunya (walau menurutku sah-sah saja, malah jentelmen kalau bisa lebih menyempurnakannya). Tapi apa semua orang sanggup bermental begitu ? Apalagi, PROYEK, ya PROYEK ! Awas, siapapun akan sulit menghindari fenomena ini ! Boleh saja kita bersikap idealistis mau berbuat yang terbaik, tetapi kalau sudah masuk di lingkungan birokrasi-politis, susah mas, mbak, dik, nang, neng ! Obyektif sajalah, susaaah ! Maka ya menjadilah hal itu (bongkar pasang program demi proyek) suatu tradisi buat kaum politisi-birokrat kita. Percaya saja ! Trus, gimana kalau gitu ?

Jawabnya ya itu, pendidikan semenjak muda ! Pendidikan dalam artian sebenar-benarnya, bukan yang 'out of concept' apalagi hanya instan dan bongkar pasang. Bukan pendidikan yang asal niru produk asing tapi tidak tahu persis makna apalagi kegunaannya (Contohnya, bicara kompetensi, tapi sesungguhnya tak tahu apa itu arti kompeten, maka ya tidak tahu bahwa kompetensi terpentingnya adalah: apakah yang ngomong ini beserta jajarannya juga sudah cukup kompeten ? Tahukah bahwa 'inner competency' justru lebih perlu sebelum menuntut kompetensi fihak lain ? Tahukah bahwa 'organ-pengggerak' suatu kerja besar lebih dulu harus dibenahi sebelum mau dipakai untuk bekerja ? Dsb, dst). Pendidikan yang sekurang-kurangnya sanggup meneladani 'konsep Ki Hajar Dewantara', sokur kalau sanggup 'mencerna ajaran para nabi, rasul dan filsuf besar' kita terdahulu ! Pendidikan yang sanggup membuat anak didik hari ini lebih baik dari hari kemarin. Pendidikan yang telah siap membangun ranah afektif peserta didik, kemudian juga psikomotornya dan tentu saja juga kognitifnya (tapi jangan pernah terbalik urutannya ! Afektif harus di nomor satukan !). Pendidikan yang dikawal oleh orang-orang berkompeten bukan oleh sembarang orang (gelar, pangkat dan jabatan bukan jaminan ! Justru ini yang telah lama mengecoh bangsa ini menuju keterpurukan prestasi, citra bahkan harga diri !). Pendidikan yang telah menyadari bahwa justru yang sedang tumbuh itu memerlukan 'pengawal (guru)' hebat dari pada yang sudah dewasa, bukan sebaliknya. Pendidikan yang menyeluruh (komprehensif), sistematik, sesuai kaidah alam dan sesuai dengan kebutuhan alam lingkungannya ! Pendidikan yang sesuai pula dengan minat dan bakat peserta didiknya, bukan yang asal dijejalkan sehingga justru bisa bikin muntah-muntah dan akhirnya gagal total ! Pendidikan yang dilaksanakan sepanjang hayat, selalu dimonitor dan dievaluasi, serta tidak alergi terhadap perubahan dan tuntutan jaman ! Pendidikan yang sanggup menggugah hati nurani generasi bahwasanya Indonesia adalah bangsa besar, ditinjau dari sudut pandang apapun ! Pendidikan yang sanggup menciptakan sikap 'nasionalis-rasionalistis', atau 'nasionalis yang pakai otak', atau, nasionalis yang tetap menghormati internasionalisme, humanisme, dan tak terjebak oleh iming-iming apapun, tak terkecuali faham-faham politis dan agama yang memang banyak disimpangkan itu ! Dan, tentu yang demikian itu bukanlah tanggung jawab birokrat yang hanya ditarget 'lima-tahunan', karena mereka pasti lebih memilih 'aji mumpung' dari pada memikirkan kepentingan jangka panjang ! Jadi ? Tanggung jawab siapa ? Jawabnya: KITA, KITA BERSAMA ! Kita siapa ? Ya tentu: YANG TERPANGGIL ! Trus apa ciri-ciri keterpanggilan itu ?

Cerdas, berintuisi tajam, suka belajar, banyak pengalaman, tangguh (lahir batin), berani (sokur berani mati membela prinsip kebenaran), pandai bersyukur, pandai menghargai teman apalagi guru, pandai menghargai apa yang telah diperoleh, tak putus asa dengan apa yang belum diperoleh dan punya sikap lebih mementingkan kepentingan fihak lain dari pada kepentingan pribadinya. Biasanya orang-orang begitu sudah tidak bisa silau dengan 'harta', karena dengan cerdasnya dia akan tahu, bahwa dirinya akan jauh lebih bernilai dari pada 'harta' yang hanya buatan manusia juga. Nah kalau sudah berprinsip gitu, lumayanlah ! Amanlah program-program yang sedang diembannya ! Percaya saja !

Wah susah dong om ! Lho ! Ya susah, emangnya hidup ini enak ? Emangnya kalau mau enak harus berpangku tangan aja ? Dan ini: PENDIDIKAN lho ! Pendidikan itu yang dijadikan sasaran kan individu ? Kita-kita para manusia ini ? Yang oleh Sang Pencipta sungguh bernilai tinggi dan dilengkapi dengan otak brilian ? Masa harus diremehkan ? Anda-anda mau dibuat remeh ? Mau ? Silahkan kalau mau, tapi aku tidak mau. Demi Allah Sang Maha Pencipta, aku harus punya rasa malu, diriku 'ciptaan dan titipan'Nya ini tak akan pernah kusia-siakan. Akan selalu kujadikan 'yang terbaik'. Dan itu hanya bisa dengan : PENDIDIKAN ! Tak ada yang lain. Bohong dan omong kosong kalau ada 'program lain' selain pendidikan yang sanggup membentuk manusia menjadi 'insan kamil'. Omong kosong dan hanya akan bikin penyakit, huru-hara, dan walhasil kehancuran saja ! Apalagi referensi juga sudah terlalu-amat-sangat-buanyak sekali ? Sudah dirintis pula oleh para pendahulu dengan segenap dedikasinya dan tanpa pamrih (bayangin, sudah semenjak Aristoteles beratus abad sebelum Masehi lho !). Kita kan tinggal ngikuti (asal konsekuen, jeli, teliti, berpandangan jauh ke depan !) saja ?

Hehehe, kok jadi trus serius ya ? Nggak kok ya ? Tapi jangan trus pesimis apalagi takut duluan. Yah, memang sulit mendapatkan figur seperti itu, ibarat sejuta satu. Tapi kan ada ? Asal di 'scouting', di'sweeping' dengan telaten, setelah dapet dibina dan dipelihara, ya pasti bisa. Oh ya, tentu, tentu, semua itu tidak bisa trus begitu saja. Tidak bisa ! Kita tidak boleh hanya berpangku tangan menunggu ! Harus berjuang, berusaha, untuk mendapatkannya. Betul, harus sepenuh kesungguhan pula untuk mendapatkan 'kader pendidik' (yang tentu juga bisa menjadi figur teladan, bahkan pemimpin bangsa !) seperti itu. Socrates kan pernah bilang, bahwa hanya orang-orang pandai (pandai beneran lho !) dan yang telah menjadi arif saja kan yang layak menjadi pemimpin itu ?

Tapi, sebagai tip, kalau ada yang bertanya, apa sekarang ini sudah ada 'siluman' macem gitu di negeri tercinta ini ? Jawabku: ADA ! Dan beliau siap tempur bila memang dikehendaki ! Orangnya memang 'low-profile', dan lebih suka mempersilahkan yang lain dulu saja kalau masih ada, atau maksimal, hanya ikut membantu, mendukung, atau berjuang dari belakang layar saja ! Jangan ditampilkan di depan ! Nah lho, hebat kan dia ? Apa yang dijanjikannya seandainya ada yang mau berjuang bersama beliau ? INDONESIA JAYA ! INDONESIA MENCAPAI ERA EMAS TAK SAMPAI SEPULUH TAHUN MENDATANG ! Bahkan kalau tiba-tiba seluruh bangsa mendukungnya ? Tak sampai lima tahun kita akan menjadi bangsa besar, terbesar di dunia ini ! Percaya saja ! Hehehe, nggoda ya ? Tapi gimana lagi, emang gitu kok !

Wah, wah, wah, kok jadi serius beneran ini ye ? Hehehe, nyapek ya bicara-bicara yang ginian ini ? Ya maapin deh kami ! Habis, udah emang keterlaluan banget kok kita-kita ini. Bangsa besar kok mau-maunya dibodohin seperti ini. Ya makanya bangkit dong !

Okay, semoga memang pernah ada sejarah mencatat, bahwa kita memang bangsa besar, sempat terpuruk sekian lama, tapi atas hidayah dan tuntunanNya, diperkenanlkan kembali untuk dapat bangkit ! Insya Allah !

Untuk sesi ini sebaiknya sekian dulu 'intervensi'ku yang tiba-tiba begitu bersemangat, lantaran turut merasa simpati terhadap apa yang telah ditampilkan SuaraKita.Com.

Bye, bye, and hoping God blessing us !

(Pengasup bersama beberapa teman peduli bangsa bernaung di dalam Paguyuban Abdi Nusantara, PANUS. Websitenya sedang disiapkan. Tapi bagi yang berkenan ingin berinteraksi, terhadap masalah apa saja asal bermuara kepada pembangunan spirit generasi bangsa, silahkan kontak ke: panusnsa2005@yahoo.com)

Statistik

Dari 120 nama pengasup saran yang telah tercantum di SuaraKita.com, bila sekurang-kurangnya 46 (35%) adalah wanita, maka yang 65% adalah Pria. Para pengasup dapat dikatakan sudah merata ke seluruh pelosok Nusantara sejak dari Namroe Aceh Darussalam (NAD) sampai Papua. Hanya beberapa daerah (propinsi) yang belum memunculkan partisipasinya seperti: Kalteng, Jambi & Gorontalo. Jumlah partisipan dari Jawa 79 suara (67%), dan yang dari luar Jawa 37 suara (31%). Sisa yang 4 suara adalah 2 suara dari website (no 04 & 09) dan 2 suara tanpa alamat (no 13 & 52). Sayangnya, masih ada 11 pengasup yang tidak disertakan nomor e-mailnya (nomer-nomer: 06, 20, 32, 37, 41, 52, 79, 95, 105, 106 dan 110). Kota terbanyak pengasup: Jogjakarta (10), Malang (9), Semarang (8), Bandung (7), DKI (5), Purwokerto (4). Propinsi terbanyak pengasup untuk keseluruhan: Jawa Timur (25), Jawa Tengah (21), Jawa Barat (14), DIY (10), DKI (6). Propinsi terbanyak pengasup untuk Luar Jawa: Papua (4), Sumatera Selatan (4), Sulawesi Selatan (4). Pengasup termuda: nomer 03, Arancha Shinta (wanita), 11 tahun, dari Banten. Sungguh penuh bakat anak ini. Ada hadiah dari sponsor ? Hehehe, selingan aja kok ? J Risman, risman_1350@yahoo.com, Yk09052005
E-mail Pengirim: risman_1350@yahoo.com
Tanggal: 10 Mei 2005


Nama: Supangat
Dari: sanarinda/kaltim
Saya: Masyarakat samarinda
Saran: Pendidikan di Indonesia tidak maju-maju bukan karena kurikulumnya. Menurut saya perhatian pemerintah yang belum menjadukan pendidikan sebagai programprioritas. Itu dibuktikan dengan minimnya anggaran selama ini. Biar kurikulum diubah seribu kali, pendidikan kita akan tetap seperti sekarang ini. Misalkan masalah kualitas guru, bagaimana guru memiliki kualitas unggul kalau kekampuan dasanya tidak unggul,karena anak-anak yang pintar tidak akan memilih profesi guru. Profesiguru tidak menjanjikan massa depan. Hidupnya selalu terlilit dengan hutang.Mau ini kridit, mau itu kridit, semuanya harus kridit. Belum lagi tugas guru yang seabrek-abrek. Menyiapkan materi, menyiapkan alat evaluasi, mengadakan evaluasi,mengoreksi, mengadakan remidi, dan sebagainya.

Coba bayangkan,seorang guru harus mengajar minimal 18 jam (ini untung, biasanya lebih dari 24 jam), dengan jumlah 10 kelas dan tiap kelasnya terdiri dari 40 siswa. Bisa dibayangkan, satu kali evaluasi ia harus memeriksa 400 lembar perjaan siswa. Kalu 1lembar diperlukan waktu 2 menit, maka diperlukan waktu 800 menit (kira-kira 13 jam) untuk mengoreksi. Apalagi KBK, penilaian yang terdiri dari 3 ranah, kognetif, psikomotor dan afektif, guru bisa klenger sebelum pekerjaannya selesai. Mungkin yang paling mendesak adalah meningkat anggaran pendidikan yang berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan guru, sarana dan prasarana sekolah, sekaligus membenahi sistem pendidikan. Jadi bukan melulu titik beratnya pada kurikulum. Mau bukti? Indonesia telah berapakali ganti kurikulum, nyatanya kualitas pendidikan kita tetap jeblok terus. Perubahan kurikulum seoalah-oalah hanya proyek semata. Tidak menyentuh akar permasalahan pendidikan. Disamping itu, pengawasan di bidang anggaran haruslah betul-betul dilakasanakan. Jangan sampai anggran yang meningkat yustru menyuburkan para koruptor.
E-mail Pengirim: panggih10.com
Tanggal: 9 mei 2005


Nama: Dina Anggraini Milanda Sari
Dari: Jakarta
Saya: Staf Administrasi Perusahaan Konsultan
Saran: Dra. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd (konselor Pendidikan dan staf pengajar pada Universitas Pendidikan Indonesia:
"Bila berharap pada kurikulum rasanya berat. Pasalnya, yang ada saat ini saja sudah terlalu padat. Saat ini saja sudah terlalu overlapping. Di luar negeri pendidikan dasar hanya menerapkan 5 mata pelajaran, sementara di Indonesia sudah 11 pelajaran."
Sumber: Pikiran Rakyat, 30 Januari 2005
Jadi, yang bener yang mana??!
Lagian kalau setiap kali ganti kurikulum kasihan murid dan orang tua, sebab harus beli buku baru terus, padahal isinya gak jauh beda. Jadi yang harus diperhatikan adalah bagaimana penerapan KBK dan pengaruhnya pada semua pihak, kalo positif, harus dilestarikan. Cuma ya, itu kalo setiap ganti menteri kurikulum juga harus di ganti repot juga. Meski saya sudah tidak sekolah lagi, tapi dulu2 pernah ngerasain juga jadi anak sulung yang pertama kali menerapkan kurikulum 1994. Trus denger2 dari semenjak saya lulus tahun 1997 sampai sekarang kurikulum-nya udah ganti lagi. Repot gak sih Indonesia!
E-mail Pengirim: sweetdna_ms@yahoo.com.sg
Tanggal: 10 Mei 2005


Nama: badrun
Dari: jogja
Saya: Mahasiswa jogja
Saran: kalo saya menyikapi mengenai kbk, kurikulum inim memang cock sekali jika diterapkan di smk umumnya dan smk indonesia khususnya, kenapa? karena dengan diadakannya suatu kompetisi maka setiap siswa akan berusaha untuk dapat berlomba-lomba menguasai kompetisi tersebut, dimana mereka tahu bahwa kompetisi adalah bentuk lain dari suatu keahlian dan ini sangat cocok sekali dengan orang indonesia yang hampir dikatakan hanya mempunyai sedikit sekali keahlian, kalo dosen saya bilang kalian itu mental kuli kapal semua.
E-mail Pengirim: buwana_1038@yahoo.com
Tanggal: 10 mei 2005


Nama: Maryati
Dari: DKI
Saya: Guru Jakarta
Saran: Saya ingin informasi, apakah sudah ada penelitian atau survey mengenai sejauh mana "Keberhasilan penyelenggaraan KBK di suatu sekolah. Saya sangat membutuhkan data tersebut. Terimakasih
E-mail Pengirim: maryatitamba@yahoo.uk
Tanggal: 10-05-2005


Nama: jainuri
Dari: bandarlampung
Saya: Mahasiswa bandarlampung
Saran: tolong perbanyak tentang materi-materi kbk
E-mail Pengirim: jai_mma_lpg@plasa.com
Tanggal: 11 mei 2005


Nama: nur yakin
Dari: malang
Saya: Mahasiswi univ.kanjuruhan malang
Saran: Saya adalah mahasiswi fkip fisika, saya merasa bangga bisa mengikuti program KBK ini karena banyak senior saya belum menempuh mata kuliah tentang KBK,jadi mereka terpaksa belajar sendiri tentang KBK ini. Tapi kenapa pengajaran menurut KBK ini kok masih GONJANG GANJING ya?
Kemarin saya dapat tugas dari dosen saya tentang perta dan pormes banyak terjadi kesalahan. Padahal aku sudah ambil sumber yang benar.
mohon kalau ada info tentang KBK terbaru segera hubungi saya. makasih.
E-mail Pengirim: ayik_yuni@yahoo.com
Tanggal: 11 mei 2005


Nama: m.thoyib hm
Dari: pontianak/kalbar
Saya: Mahasiswa IAIN
Saran: saya mengharapkan bahwa kbk yang pada saat ini dilaksanakan, untuk lebih diprofesionalkan lagi ke dalam materi bahasa arab, karena bahasa arab merupakan mata pelajaran no 3 yang dianggap murid paling membosankan, karena itu saya berharap agar kbk materi bahsa arab untuk lebih ditingkatkan dalam segi tulisan, bacaan dan terjemahan, agar siswa dapat lebih memahami dan tidak menganggap materi bahasa arab materi yang membosankan.
E-mail Pengirim: oyib_HM@yahoo.com
Tanggal: 15 mei 2004


Nama: nana
Dari: Yogyakarta
Saya: Mahasiswi Yogyakarta
Saran: KBK memang merupakan inovasi pendidikan yang baik karena disini siswa dituntut agar aktif dalam belajar. Namun hal ini membutuhkan perencanaan yang matang dan sungguh- sungguh agar dapat mencapai hasil yang diinginkan.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 16 mei 2005


Nama: yuli astuti
Dari: jakarta
Saya: Mahasiswi UNJ
Saran: Menurut saya saat ini KBK belum dapat diterapkan di Indonesia secara penuh karena anak-anak Indonesia terbiasa dengan materi pelajaran yang secara langsung diberikan oleh guru padahal di dalam KBK guru hanyalah sebagai fasilitator. Selain itu, KBK juga memerlukan kesiapan serta kemauan dari guru itu sendiri, misalnya dalam pemberian remerdial.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 17 Mei 2005


Nama: Drs. Muhammad Ashar
Dari: Makassar/ Propinsi Sulawesi Selatan
Saya: Guru BLPT Makassar
Saran: Saya sependapat bila guru merupakan kunci pokok dalam melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi. tapi perlu diingat bahwa semuanya berpulang pada komponen-komponen pendidikan yaitu
1. Guru
2, Kepala sekolah
3. Sarana peralatnnya
4. Menajemennya
5. Kondisi gedungnya
6. Peran serta masyarakat
7. lingkungannya
dan takkala pentingnya pemerintah harus sepenuh hati memperhatikan pendidikan anggaran pendidikan yang 20 % sampai sekarang belum juga mencapai 20 %
E-mail Pengirim: Ashar_MKS @yahoo.com
Tanggal: 20 Mei 2005


Nama: Abdul Syukur
Dari: DKI Jakarta
Saya: Guru Ponpes Darunnajah Jakarta
Saran: Mohon kepada lembaga terkait agar lebih profesional menanggapi KBK, hal ini karena ketika pembuatan soal UAS (sekarang US) terdapat perbedaan persepsi menggunakan KBK atau Kurikulum 94. Ketegasan pihak terkait sangat diharapkan agar tidak membingungkan guru khususnya guru honorer (swasta)
E-mail Pengirim: syukur_65
Tanggal: 21 Mei 2005


Nama: Parulian Sinaga
Dari: Pematangsiantar / Sumatera utara
Saya: Guru SMP Negeri 3 Raya, Kabupaten Simalungun Sumut
Saran: Kurikulum Berbasis Kompetensi agar berjalan secara benar, harus dapat memotivasi guru untuk mau menginovasi dirinya yang memang profesi guru itu bukanlah prioritas utamanya.

Guru harus mau menerima kenyataan yang keadaan ekonominya harus pas -pas an. Komentar para teman guru yang mengajar di desa sudah sepatutnya harus didengarkan para pakar pendidikan dan perumus kurikulum kita DI INDONESIA ini.
E-mail Pengirim: drsparuliansinaga@yahoo.com
Tanggal: 23 Mei 2005


Nama: Parulian Sinaga
Dari: Pematangsiantar / Sumatera Utara
Saya: Guru SMP Negeri 3 Raya
Saran: KBK akan mengukir Pendidikan Indonesia di mata Dunia jika kita Guru khususnya di pedesaan mau menerima perobahan dengan keadaan ekonomi guru yang hanya pas-pasan, dan memprioritaskan cita-cita pekerjaan pertama adalah Guru bukan pelarian semata,-

Para Perumus Kurikulum, Para Pakar Pendidikan sebaiknya mau melibatkan para rekan guru yang di pedesaan yang menghadapi siswa/i bersekolah hanya terpaksa situasi.
E-mail Pengirim: drsparuliansinaga@yahoo.com
Tanggal: 23 Mei 2005


Nama: Ratna Fauziah
Dari: jakarta timur/ DKI Jakarta
Saya: Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta
Saran: Sebaiknya diadakan seminar-seminar mengenai kbk sesering mungkin, karena masih banyak para guru yang belum mengerti apa itu kbk dan bagaimana cara melaksanakannya. Juga bagi para tenaga pendidik teruslah belajar, belajar dan belajar, karena ini adalah ladang pahala kita!
E-mail Pengirim: Ratnaf_84@yahoo.com
Tanggal: 24 Mei 2005


Nama: Ny. IRHAM LUBIS
Dari: MEDAN / SUMATERA UTARA
Saya: Masyarakat KOTA MEDAN
Saran: KBK YANG DILAKSANAKAN DI SEMUA SEKOLAH HARUS MAMPU MENYERAP SEMUA BAHAN PELAJARAN DAN DENGAN MUDAH DITERIMA ANAK DIDIK DALAM MENINGKATKAN DAYA PIKIR SERTA DAYA NALAR PADA ANAK DIDIK.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 25 MEI 2005


Nama: dewi masitoh
Dari: depok/jabar
Saya: Mahasiswi universitas indonesia
Saran: teruskan program penerapan kbk di sekolah-sekolah. sesuaikan dengan penerapan metode di sekolah daerah dan di di sekolah tingkat kota untuk mempermudah penerapan dan kelancarannya. di kota kbk distilahkan "murid yang belajar secara mandiri " di daerah kbk diistilahkan" guru dan murid memecahkan soal bersama-sama". kbk tdk berarti murid belajar sendiri namun membutuhkan bimbingan dari guru untuk meningkatkan skill belajar mereka sendiri.
E-mail Pengirim: dew_ms03@yahoo.com

Terima kasih
RE: "murid yang belajar secara mandiri"
Tidak hanya di "sekolah-sekolah" tetapi di kampus-kampus, melihat: Mahasiswa/i yang Mencari Bantuan Akademik - Klik Di Sini!
Salam Hormat dan Selamat Berjuang!
Phillip R. (Webmaster)

Tanggal: 24 mei 2005


Nama: LINAi
Dari: surabaya
Saya: Mahasiswi IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA
Saran: saya masih bingung dengan kbk, terutama masalah evaluasinya. so kalau teman-temantahu tentang masalah ini tolong bagi-bagi infomasinya dong.
E-mail Pengirim: itnay83@yahoo.com
Tanggal: 28 MEI 2005


Nama: Nasrul Azwar,S.Pd.
Dari: Purus Baru,Padang /Sumatera barat
Saya: Guru SMA Negeri 10 Padang
Saran: KBK merupakan kurikulum baru yang menuntut Siwa lebih aktif melakukan kegiatan belajar baik secara kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler. Siswa dituntut mampu memiliki lefskill baik secara kognitif, afektif dan psikomotor sehingga jika mereka menyelesaikan pendidikan mampu mandiri di tengah masyarakat atau melanjutkan keperguruan tinggi
E-mail Pengirim:
Tanggal: 28 Mei 2005


Nama: KUNDANG S.Pd
Dari: Sumedang / Jabar
Saya: Guru Sekolah dasar
Saran: Serius sekali untuk penilaian kbk masih beragam. Tolong penilaian yang standar untuk setiap mata pelajaran di Sekolah Dasar
E-mail Pengirim: sindra_sd@yahoo.com
Tanggal: 31-05-2004


Nama: s.janto
Dari: sulawesi selatan
Saya: Guru sulawesi selatan
Saran: KBK snagt baik, tahap awal memang perlu kerja keras. Masih banyak guru yang nunggu juklak,juknis dari atasan.Saatini berbagai macam juk..juk itu harus ditinggalkan. mau nunggu petujnjuk siapa, wong atasannya saja juga gak paham KBK ?Diperlukan keberanian mencoba dan keluar dari sistem lama.
E-mail Pengirim: srijnt@yahoo.com
Tanggal: 31 Mei 2005


Nama: ENNY KURNIALISA FIRDIANA
Dari: PEKALONGAN/JAWA TENGAH
Saya: Mahasiswi UNIKAL
Saran: U ARTIKELNYA BAGUS BANGET
MAKASIH YA
E-mail Pengirim: KURNIELIEZ@PLASA.COM
Tanggal: 01 JUNI 2005


Nama:
Dari: GRESIK/JAWA TIMUR
Saya: Siswi SLTPN 1 GRESIK
Saran: PARIWISATA, BUDAYA SEHARUSNYALAH DIBAHAS DALAM FAKTOR PRNGHAMBAT PENDIDIKAN KARENA TANPA HAL NIN TAK BISA DISEBUT KOTA BERKEMBANG
E-mail Pengirim: LAILY_CUTE@TELKOMNET.COM
Tanggal:


Nama: agus budianto
Dari: bontang/kalimantan-timur
Saya: Guru smp ypvdp
Saran: 1.bentuk raport yang baku 2.peningkatan dan pemberdayaan guru mapel daerah.
E-mail Pengirim: joko_jombang@yahoo.com
Tanggal: 2 juni 2005


Nama: Muhammad Fauzan Ansyari
Dari: Pekanbaru, Riau
Saya: Dosen Bhs. Inggris (Luar Biasa) UIN Riau
Saran: Konsep KBK sangat bagus. Namun, saya ingin menyarankan agar pihak-pihak terkait mendesign assessment (test) yang memang benar-benar mengukur dan menghindari bentuk test yang membuat peluang kepada siswa untuk berlaku tidak jujur.
E-mail Pengirim: mfaan2002@yahoo.com
Tanggal: 2 Juni 2005


Nama: alan
Dari: bandung
Saya: Masyarakat bandung
Saran: kenapa, penerapan kbk di hanya pada administrasi guru saja pada pengajaranya sama saja, kasihan dong siswanya
E-mail Pengirim: pinno@rilaks.com
Tanggal: 6-06-05


Nama: Panggih
Dari: Samarinda
Saya: Masyarakat s
Saran: Mungkin KBK itu baik, yang menuju pengajaran yang bermakna bagisiswa. Tetapi perlu diingat, kurikulum yang lamapun mengisyaratkan hal itu, walaupun tidak bernama KBK. Namun itu berpulang pada kondisi dilapangan. Mungkin KBK bisa diterpkan jika siswa yang dilayani oleh guru tidak seperti sekarang ini. Kalau tidak, saya pikir pengajaran akan kembali ke metode sebagaimana yang sekarangberlangsung. Tanpa pembenahan sistem pendidikan, kurikulum yang baik tetap lahmen jadi konsep saja, sementara pengajaran berlangsung dengan arahnya sendiri. Mungkin pendapat saya tidaktepat, oleh karena itu bagi rekan-rekan yang tahu banyak tetang KBK bisa membantu saya.
E-mail Pengirim: Panggih2@plasa.com
Tanggal: 6 juni 2005


Nama: dewi
Dari: bandung
Saya: Siswi bandung
Saran: Menurut saya sistem kbk belum saatnya diterapkan di Indonesia. Menurut saya sistem kbk menuntut fasilitas yang cukup serta sdm yang memadai. Jadi mungkin sebaiknya di Indonesia tetap digunakan kurikulum yang lama tetapi dengan mengintegrasikan sistem kbk sesuai perkembangan dan iptek sehingga sdm dapat meningkat. Yang saya amati, sistem kbk cenderung memberatkan masyarakat, dengan buku yang banyak dan ini itu sehingga timbul persepsi bahwa pendidikan sangat mahal dan sulit dijangkau.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 8 juni 2005


Nama: ratri
Dari: bogor/jawa barat
Saya: Mahasiswi UPi
Saran: menurut saya KBK itu memang diperlukan sekali, maksudnya diharapkan dengan KBK setiap siswa akan mendapat suatu nilai plus ketika ia lulus dari suatu sekolah. tetapi yang ingin saya tanyakan apakah KBK juga diterapkan untuk anak berkebutuhan khusus mengingat anak berkebutuhan khusus memiliki kecacatan atau kelainan dibandingkn anak normal pada umumnya?
terima kasih sebelumnya
E-mail Pengirim: ninjahatori26@yahoo.com
Tanggal: 08062005


Nama: Agus Supriatna
Dari: Bandung
Saya: Mahasiswa Bandung
Saran: Menarik bila membicarakan Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi. Akan tetapi, banyak artikel atau saran-saran yang tidak membumi. Oleh karena itu, saran saya sbb.
a. Alokasikan dana dalam RAPBN untuk sosialisasi K 2004.
b. Berdayakan MGMP tiap daerah untuk merealisasikan K 2004
c. Undang para guru ke LPMP tiap propinsi untuk perlatihan oleh Guru inti atau widyaiswara.
d. Sebarluaskan Naskah K 2004 ke setiap sekolah tiap jenjang menjangkau sekolah terpencil
f. Bubarkan UN, gunakan portofolio untuk penilaian siswa, dan berikan keleluasaan guru untuk menilai anak didiknya.
terima kasih
yang peduli pendidikan
E-mail Pengirim: ayahtea@yahoo.com
Tanggal: 9 Juni 2005


Nama: MUSDA
Dari: MAJALENGKA/CIREBON
Saya: Mahasiswa SUMEDNG
Saran: KENAPA KURIKULUM SEKARANG MEMBERIKAN KEBEBASAN ON LINE BAGI GURU, KENAPA PULA KALO MAU KURIKULUM SEKARANG HARUS LEBIH LENGKAP SAMPAI KE MATERI MULOKNYA?
E-mail Pengirim: TEH_NDA
Tanggal: 8 JUNI 2005


Nama: rara
Dari: solo/jawa tengah
Saya: Mahasiswi FKIP Sebelas Maret
Saran: Assalamu'alaikum
Babak baru dalam dunia pendidikan telah dimulai. Sudah saatnya Indonesia bangun dari tidurnya. Telah muncul suatu sistem pendidikan yang dapat dibilang spektakuler, dimana dalam sistem tersebut sangat menuntut keaktifan siswa dalam belajar. jadi, siswa tidak hanya DDCH alias duduk dengar catat dan hafal. Namun yang terpenting siswa dapat menerapkan ilmu yang dimilikinya dalam dunia nyata. Sistem itu diberi nama KBK. Dalam sistem ini guru sebagai fasilitator harus memiliki wawasan yang dapat mengantarkan siswanya menuju tujuan yang diinginkan.

Guru harus menyadari bahwa siswanya adalah seorang manusia yang memiliki rasa ingin tahu yang tak kan pernah terpuaskan.

Kami butuh informasi mengenai metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam sistem KBK, bagi rekan2 yang tahu tolong kirim ke email kami!
E-mail Pengirim: prada-bio@plasa.com
Tanggal: 9 juni 2005


Nama: nopi marlina
Dari: Batusangkar/Sumbar
Saya: Mahasiswi STAIN Batusangkar
Saran: Perlu sosialisasi secara meluas tentang kurikulum KBK sebelum diterapkan di sekolah, baik kepada guru maupun kepada orang tua bahkan kepada masyarakat sebagai lingkungan pendidikan yang penting.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 13 Juni 2005


Nama: SITI RABIAH .S.RAUF
Dari: GORONTALO
Saya: Mahasiswi IAIN GORONTALO
Saran: DENGAN PERALIHAN STATUS DARI STAIN GORONTALO MENJADI IAIN KAMI DARI SEGENAP MAHASISWA IAIN GORONTALO MENYARANKAN KEPADA LEMBAGA YANG BERSANGKUTAN UNTUK MELENGKAPI BERBAGAI SARANA DAN PRASARANA DIIAIN GORONTALO GUNA MENUNJANG KBK.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 3JUNI2005


Nama: Madya
Dari: Purwokerto
Saya: Siswa SMU N 2 Purwokerto
Saran: Saya hanya memberikan pendapat serta menceritakan pengalaman saya. Saya siswa SMU N 2 Purwokerto yang menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi.Dalam pelaksanaannya KBK tidak berbeda jauh dengan kurikulum terdahulu (1994). Guru yang seharusnya hanya menjadi "fasilitator", pada kenyataannya masih saja menggunakan metode lama dalam melaksanakan proses belajar-mengajar. Ya, memang tidak semuanya begitu. Banyak siswa yang merasa gagal dalam mengerjakan UAN 2004/2005 yang baru saja dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Harapan saya semoga kami, angkatan pertama SMU ber-KBK di kota Purwokerto tidak menjadi "kelinci percobaan" yang gagal. Kelulusan yang akan diumumkan pada tanggal 30 Juni 2005 sangat menentukan nasib siswa-siswa. Apabila gagal, kami harus mengikuti UAN gelombang 2. Kemungkinan UAN gelombang 2 dilaksanakan pada bulan September atau Oktober. Namun Tahun ajaran baru pada tingkat perguruan tinggi sudah dimulai pada awal bulan September. Apakah siswa yang gagal lulus UAN harus "Nganggur" sampai tahun ajaran berikutnya? Apakah akan ada kebijakan dari pihak pemerintah bagi siswa-siswa tersebut?
E-mail Pengirim: sukma_1987@yahoo.com
Tanggal: 14 Juni 2005


Nama: Nur Amali
Dari: Surabaya/Jawa Timur
Saya: Mahasiswa IAIN SUNAN AMOEL SURABYA
Saran: PENDIDIKAN BERBASIS KOPETENSI KURANG BEGITU MENINGKATKAN KUALIFIKASI MORAL PELAJAR/MAHASISWA TETAPI MEREKA DICETAK MENJADI PELAJAR YANG KASAR DAN LEMAH DALAM RELEGIUS EDUCATION. ALANGKAH BAIKNYA SPESIFIKASI ARAHAN PENDIDIKAN DISESUAIKAN DENGAN CITA-CITA YANG INGIN DICAPI OLEH ANAK SEJAK DINI AGAR MEREKA BENAR-BENAR TERAMPIL DIBIDANGANYA.TERIMAKASIH DAN MAAF JIKA KURANG BERKENAN
E-mail Pengirim: KESLEM@Plasa.com
Tanggal: 14 JUNI 2005


Nama: arie
Dari: palu
Saya: Mahasiswa universitas tadulako palu
Saran: kbk bagus....tapi disesuaikan dengan keadaan lingkungan sekolah. artinya yaaaah kalau memang memunkinkan dibutuhkan apa salahnya.adapun kalau tidak saya rasa pakai cara lama aja. contohnya di daerah saya (TERPENCIL) tidak harus memakai kbk ya gak?.
E-mail Pengirim: memetmalaya@yahoo.com
Tanggal: 16 juni 2005


Nama: ichie
Dari: bengkulu
Saya: Masyarakat bengkulu
Saran: KBK perlu suasana kondusif, terutama siswa yang menjadi objeknya. kalau siswa tidak kondusif untuk menerimanya, susah berharap program ini akan berhasil, malah akan menjadi kelemahan dalam pendidikan. ini perlu perhatian dari semua pihak, apalagi pihak yang besar pengaruhnya dalam hal ini adalah para pengguna/guru. siswa tidak akan mengelak jika siswa telah diberikan pilihan, apalagi pilihan itu sudah diteliti oleh orang yang berkompetens. hanya saja perlu hati yang lapang dan tulus untuk menuju perbaikan.
E-mail Pengirim: ichie_maizora@yahoo.com
Tanggal: 16 juni 2005


Nama: Yan Andrian Tuhuteru
Dari: Jakarta
Saya: Pengamat Jakarta
Saran: KBK Dirembug oleh pendidik tertentu tapi tidak melalui pengetahuan ortu dan pendidik kebanyakan. Soalnya supaya pendidikan kita maju padahal tambah mundur. pikir dong ortu dari murid waktu luang kurang dan itngkat pendidikan belum tentu menjangkau, dengan adanya KBK malah ortu yang sekolah jadi anak banyak bertanya kepada ortu sedangkan dikota jakarta ortu berangkat pagi pulang malam, bagaimana lagi mau ngajarin ana yang banyak nggak mengerti soal yang ada dibuku sedangkan soalnya nggak ada sama sekali pembahasannya dibuku.

jadi bagi tingkat SD sd SMU yah model seperti dulu diterangkan seperti dulu tapi sudah ada dibuku

jawaban pembahasan soal tinggal guru menjelaskan saja dari mana dan mengapa begini jawabannya.

kemudian soalnya baru dibuat dari yang mudah sampai yang sukar.

jadi anak sudah tidak catatan lagi karena dibuku sudah ada.

jadi bisa perbanyak soal latihan.

karena tingkat SD sampai SMU perlu bimbingan sangat.

jadi menurut saya tidak cocok KBK dilaksanakan karena yang korban ortu dan anak.

jadi jika buat sesuatu program tolong ortu dari anak2 diundang seluruhnya. begitupun juga dewan sekolah hanya diduduki segelintir orang yang punya maksud tetentu utk mencari uang karena ortu seluruhnya nggak pernah diundan, segelintir orang yang bukan ortu dari murid2.

jadi hidupkan lagiPOMG hapus dewan sekolah. mubazir dewan sekolah karena segala keputusan hanya dari orang yang bukan ortu murid atau ortu dari kurang dari 5 murid yang tidak mewakili keseluruhan murid.

Jika utk berikut2nya sayamau diundang utk berbicara tentang pendidikan sekolah yang baik bagi anak didik.

Terima kasih sudah mendapatkan kesempatan utk memberikan masukkan.
E-mail Pengirim: yanandrian@cbn.net.id
Tanggal: 17 Juni 2005


Nama: Dra Sundarsani
Dari: Makassar / Sulawesi Selatan
Saya: Guru Sekolah Dasar
Saran: Penyelenggaraan KBK di daerah agar diberi kepercayaan kepada sekolah untuk membenahi diri, sebab kapan pelaksanaan KBK selalu ada instruksi bahwa harus diikuti sesuai petunjuk dari dinas Pdan K maka guru akan selalu bermasa bodoh, menunggu perintah baru mau bekerja , pada hal guru sudah sebagian besar potensil untuk mengembangkan Kompetensi Dasar di daerah dimana mereka berdomisili.

Harapan penulis agar guru diberikan kesempatan kuliah S2 dengan bantuan pemerintah demi peningkatan mutu pendidikan anak didik.
E-mail Pengirim: sundarsani@yahoo.com
Tanggal: 20 Juni 2005


Nama: fajar krisna c
Dari: bandung / jawa barat
Saya: Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
Saran: kbk erat kaitannya dengan privasi kemampuan siswa, artinya setiap siswa akan memerluka fasilitas/perlakuan yang berbeda dalam belajar. oleh karena itu diperlukan fasilitas yang sangat memadai dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan, supaya kbk ini dapat berjalan lancar.

bagaimana kbk mau diterapkan secara menyeluruh, sementara jumlah siswa dalam satu kelas mencapai 42 orang, sedangkan fasilitas alat peraga paling banyak 5 set untuk satu jenis alat.
itu saja, terima kasih. mudah-mudahan menjadi kontribusi yang positif.
E-mail Pengirim: jar_thebat@yahoo.com
Tanggal: 22 juni 2005


Nama: Abu Zainuddin
Dari: Jawa Timur
Saya: Dosen Universitas Negeri Surabaya
Saran: Sebaiknya kurikulum Berbasis Kompetensi:
1. Dilakukan secara konsisten dan ada standart yang jelas, baik PBM maupun format penilaian.
2. Mengingat makin banyaknya tugas guru, sehingga perlu segera diperhatikan kesejahteraannya.
3. Lebih digalakkan lagi pelatihan-pelatihan guru yang lebih terstruktur.
4. Selebihnya terimakasih!!!!
E-mail Pengirim: az17yp@yahoo.com
Tanggal: 23 Juni 2005


Nama: bani wikarta
Dari: sumsel
Saya: Guru sma
Saran: semua sibuk membicarakan kbk, baik orang tua, siswa maupun para pejabat terkait. namun dari kesimpang siuran itu menunjukkan minat yang tinggi dari masyarakat untuk memahami kbk. tetapi sayangnya baik tenaga pelaksana maupun sarana pendukung kurang siap untuk menghadapi sebuah perubahan. ambillah contoh masalah format yang hingga kini belum baku dan masih banyaknya guru yang masih melaksanakan pola pembelajaran dan penilaian gaya lama. untuk itu kami berharap adanya panduan penilaian pada mata pelajaran dan sistem pembinaan pada bp/bk
E-mail Pengirim: ucok_karnadi@yahoo.com
Tanggal: 24 juni 2005


Nama: haviz
Dari: jambi
Saya: Mahasiswa universitas jambi
Saran: assalamualaikum...
saya mohon bantuan,dimana saya skr sedang membuat proposal skripsi masalah pendidikan..jadi saya mohon bantuan untuk dikirimkan GBPP dan kurikulum smp pada mata pelajaran fisika..email saya co_cukeeil@yahoo.com...
saya sudah bingung mencarinya..sekali lg kalo ada mohon bantuan saudara - saudara yg membaca surat ini...
terima kasih...
wassalam
E-mail Pengirim: co_cukeeil@yahoo.com
Tanggal: 25-06-2005


Nama: Dewi Dermawan
Dari: Chicago, AS
Saya: Guru Mather High School
Saran: Assalamu'alaikum. Di AS, termasuk di tempat saya mengajar, guru bersaing didalam melaksanakan KBK demi meningkatkan kemampuan anak didalam menganalisa, menyimpulkan ilmu pengetahuan. Adapun KBK yang kami usahakan diantaranya:

1. Integrasi tehnology kedalam kurikulum. Tehnology termasuk alat-alat mengajar, laboratorium, dan yang paling harus adalah Internet.

2. Tingkatkan program membaca untuk guru dan anak-anak, karena hanya dengan membacalah ilmu pengetahuan guru dan anak-anak akan bertambah

3. Tingkatkan diskusi di dalam kelas antara guru dan murid atau antara murid untuk meningkatkan kreatifitas dan daya berpikir anak-anak dengan memberikan kesempatan mengutarakan pendapatnya dari pengalamannya dan dari membaca (terutama Internet). Biarkanlah mereka yang memecahkan masalah didalam dunia ilmu pengetahuan, bukan guru. Guru hanya mengemukakan masalah, murid yang memecahkan. Catatan, setiap pendapat harus dihargai dan yang benar dipuji. Kritik atau kecaman terhadap anak baik dari teman kelas maupun guru akan mengurangi keberanian dan usaha anak didalam mengemukakan pendapatnya.

4. Adakan pertandingan ilmu pengetahuan (Science Fair) mulai dari tingkat antar murid, kelas, sekolah, kota, dan provinsi.

5. Hubungan murid, guru, dan orang tua harus dekat.
E-mail Pengirim: dewidermawan@yahoo.com
Tanggal: 25 juni, 2005


Nama: cahyajajal
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswa yogyakarta
Saran: kbk adalah suatu program khusus untuk meningkatkan pembelajaran di indonesia. namun kayaknya indonesia serba ruwet karena pendidikan yang berlangsung selama ini adalah pendidikan bekas kolonialis belanda yang menerapkan guru ajar, tapi kbk selain menerapkan guru ajar juga murid ajar yang antara guru dan siswa saling mengajar dan memberi informasi, namun sejauh mana sih kompetensi murid dan guru yang diinginkan apakah modelnya seperti pembelajaran di negara2 barat? kalau demikian sangat susah karena sebagian besar masyarakat masih kental dengan pendidikan kolonialis dan budaya pesantren yang erat kaitannya dengan peranan guru. apalagi menurut orang pesantren bahwa guru adalah pintunya ilmu maka jangan menggurui guru, apalagi menurut pepatah jawa yaitu guru"digugu dan ditiru"
E-mail Pengirim: cahyajajal@yahoo.com
Tanggal: 25 juli 2005


Nama: Sutrisno
Dari: Lamongan Jawa Timur
Saya: Masyarakat Lamongan
Saran: KBK atau Kurikulum 2004, merupakan terobosan yang bagus, namun belum dibarengi oleh infrastruktur pendidikan yang memadai sehingga KBK "justru" beban baru bagi guru dan siswa.

KBK harusnya dibarengi dengan sistem pendidikan atau sistem persekolahan yang baik, baru KBK berfungsi optimal.

1. Terapkan otonomi pendidikan hingga ke tingkat sekolah dengan Manajemen Berbasis Sekolah (dokumen MBS sudah ada lho). Sehingga sekolah leluasa menyusun silabus pendidikan, menyusun mata pelajaran minimal dan mata pelajaran ciri khas sekolah. Sehingga suatu saat nanti sekolah-sekolah memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Misalnya setelah SMP anak yang pingin mahir IPA, ia harus ke sekolah A karena porsi pelajaran IPA&Matematika dominan, ingin berkembang bakat olah raganya, ia harus ke sekolah B karena porsi pelajaran IPA&Matematika minimal saja tapi banyak waktu untuk latihan olah raga (ingat disini olah raga bukan ekskul tapi mata pelajaran), ingin mahir mesin, masuk ke sekolah C, dst. Jadi yang namanya sekolah favorit bagi seorang siswa itu sekolah yang memiliki ciri khas sesuai dengan bakat dan minat siswa. Bagaimana jika siswa pindah sekolah tidak masalah karena pindah sekolah yang dilihat adalah kemampuan pelajaran minimal yang setiap sekolah wajib ada secara nasional (ya sekitar 3 mata pelajaran saja)

Saya nggak ngerti mana yang lebih penting bagi hidupnya, setelah lulus SMP seorang anak pandai Matematika atau terampil Pertolongan Pertama pada Kecelakaan.

2. Sistem Evaluasi Pendidikan harus di bedakan antara evaluasi pembelajaran dengan evaluasi manajemen sekolah.

Evaluasi Pembelajaran menjadi hak dan kewajiban guru sebagai bagian dari proses pembelajaran yang menjadi wewenangnya, jadi tidak ada ujian yang bersifat nasional meskipun pelajarannya adalah standar minal nasional (UAN sekarang ini yang sebenarnya bikin siswa bodoh, biasa UAN kan "proyek"). Atau dibuat sistem nasional tapi bentuknya beda misalnya UAN Matematika hanya di kelas 5, UAN IPS hanya di kelas 8 (2 SMP), UAN IPA hanya di kelas 11 (2 SMA). Mengapa tidak di kelas 6 SD, 9 (3 SMP) dan 12 (3 SMA), atau serentak, karena jika dia gagal (kemampuan minal ini) dia punya waktu memperbaikinya dan ikut UAN tahun depan, tahun depannya lagi terus meskipun dia sudah SMA kan tidak masalah ia ikut UAN Matematika bareng anak kelas 5 SD, apanya yang masalah? tidak masalah, toh dia punya prestasi lain menyanyi misalnya (sekarang penyanyi lebih banyak uangnya dibanding ahli matematika, ya nggak, bukannya materialistis tapi ini realitas hidup, cari maknanya dibalik itu. Orang sekolah agar menjadi hidup yang lebih baik. Sekolah adalah tempat seorang anak belajar sesuatu: kejujuran, kesadaran, integritas, solidaritas dan bertanggung jawab, Tuhan aja memberi ujian sesuai dengan kemampuan manusianya. Lulus UAN SD di usia SMA dengan jujur lebih baik daripada lulus SD tepat waktu tapi hasil ketidakjujuran. Bagi yang lulus ia dapat memperbanyak pelajaran yang ia anggap perlu ke jenjang pendidikan berikutnya. Bagi saya yang terpenting bukanlah seorang anak dapat nilai UAN tinggi, tapi ia mampu mengembangkan minat belajarnya di sekolah dengan senang hati, beban ia satu-satunya hanyalah bagaimana minat belajarnya menjadi prestasi dan profesi yang bermanfaat kelak (ini yang perlu dimotivasi).

Evaluasi Manajemen Sekolah (EMS)ini yang berskala nasional. Termasuk evaluasi kepemimpinan kepala sekolah, kualitas guru, tenaga pendidikan non guru, keuangan, sarana-prasarana sekolah. Dengan standar dan proses evaluasi yang transparansi, maka akan memacu sekolah untuk maju. Jadi seharusnya yang diuji secara nasinal setiap tahun adalah guru dan kepala sekolah. Guru dan KS yang kemampuannya kurang tidak boleh mengajar, tapi ia harus ikut program pelatihan 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun atau sekolah lagi. Guru yang baik diberi penghargaan, dipromosikan, diberi bonus.

3. Sistem penerimaan siswa dari SD ke SMP adalah bebas, setiap siswa boleh masuk hanya dilihat dari kedekatan rumah dan sekolahnya (kan wajib belajar 9 tahun). Baru dari SMP ke SMA lewat tes bakat dan minat. Ingat sistem tes dan bakat minat, bukan nilai rapornya (kan wajib belajar 9 tahun, jadi tidak ada istilah bodoh dan pinter disini, hanya persoalan perbedaan minat dan bakat).

4. Perpustakaan sekolah, bagaimana KBK tanpa perpustakaan adalah "payah". Ibaratnya anak disuruh makan buah kelapa tapi hanya boleh pakai gigi. Ya ada yang bisa misalnya pakai "debus" tapi itu kan magic, bukan IPTEK.

5. Hapus korupsi. ini akar dari seluruh kebijakan ngawur.

Sebenarnya masih buanyak lagi, yang intinya KBK tidak memiliki akar manajemen pendidikan di sekolah, sehingga menjelma menjadi sebuah tali yang memperkuat beban di pundak siswa dan guru yang seharusnya beban itu tidak ada lagi.

Jika ada guru dan kepala sekolah di Indonesia bilang telah melaksanakan Kurikulum 2004 dengan baik, ia harus jujur pada dirinya sendiri baik bagi siapa? Sebenarnya ia tahu bahwa itu bukan KBK tapi tetap Kurikulum 1994 dengan sedikit modifikasi format penilaian, dan raportnya.
E-mail Pengirim: siji_sepuluh@yahoo.com
Tanggal: 27 Juni 2005


Nama: Mardi Wiyono
Dari: Malang/Jawa Timur
Saya: Dosen Un. Negeri Malang
Saran: Saya setuju jika faktor guru menjadi perhatian (kendala) dalam penerapan Kurikulum 2004. Banyak guru SMK di Malang yang kompetensinya kurang memadai, sehingga perlu ditungkatkan kemampuannya melalui magang atau lokakarya. Banyak guru sekedar memenuhi kewajiban jam mengajarnya tetapi kurang konsentrasi baik dalam PBM maupun evaluasi. Konsentrasi banyak terpecah dengan kepentingan mengajar di luar. Pengawasan dalam implementasi KBK 2004 sangat diperlukan.
E-mail Pengirim: m_wiyono@hotmail.com
Tanggal: 27 Juni 2005


Nama: zakaria aziz
Dari: padang
Saya: Mahasiswa padang
Saran: Mencermati kurikulum berbasis kompetensi masih banyak meninggalkan persoalan antara lain:
1. Persepsi pakar tentang KBK itu sendiri berbeda.
2. kemampuan guru menterjemahakan KBK sangat terbatas.
3. Fasilitas pendukung untuk menerapkan kurikulum KBK sangat terbatas
semua permasalahan diatas harus kita jawab bersama.Tujuan dari pendidikan pada hakikatnya mewujudkan manusia yang berkompetensi akan tetapai bagaimana mewujudkannya pada masing-masing level pada jenjang pendidikan tertentu. mari kita coba jwab pertanyaan ini:
1. Ukuran Kompetensi untuk tingkat pendidikan dasar apa?
2.Ukuran kompetensi untuk tingkat menengah apa?
dan seterusnya...
yang utama harus kita wujudkan adalah manusia yang punya kompetensi untuk dapat hidup berguna dan dapat hidup berdampingan dengan seluruh komponen masyarakat. terima kasih
E-mail Pengirim: uncu_scc@yahoo.com
Tanggal: 29 Juni 2005


Nama: sukarto ahmad
Dari: purwokerto
Saya: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Saran: Sebetulnya istilah KBK bukanlah satu hal yang baru, karena hanyalah sebuah kurikuilum jiplakan dari Amerika yang telah usang. satu hal yang paling penting dari adanya KBK adalah bagaimana kita bisa mempersiapkan diri kita terutama para calomn guru untuk benar-benar menjadi guru yang berkualitas. kita selama ini sering tidak adil pada institusi pendidikan kita selama ini, denagn hanya melakukan kritik yang sebenarnya ketika kita kuliyah pun kita tidak melakukan upaya persiapan untuk menjadi generasi pendidik yang lebih baik. ketidak siapan para pendidik sekarang adalah bukan alasan yang harus menyurutkan langkah kita, tapi itlah tantangan, dan kita hendaknya belajar dari proses yang nantinya bisa kita evaluasi keberhasilannya. jangan kita beraharap berlebihan pada apa yang masih "dianggap baru " bagi kita. ketertinggalan pendidikan kita adalah salah satunya karena ketidak mauan kita memutuskan rantai pendidikan yang bobrok, dan menggantinya dengan yang lebih baik, kita cenderung adalah para penerus saja, bukan inovator. seperti apapun KBK akan menjadi sebuah jalan yang akan memeberikan kita hikmah jika kita mau belajar dan cermat menaganalisa keadaan kita. jangan kita menga-underestimate- diri kita denagn beranggapan kita tidak mampu. ada tantangan besar yang akan dihadapi oleh generasi menadatang, tantangan globalisasi yang salah satunya menggunakan alat pendidikan untuk kepentingan politik tertentu, salah satunya adalah transformasi iedologi dan cara berfikir kita, itu adalah hal yang harus kita siapkan. janagan sampai kesuksesan KBK nanatinya adalah kesuksesan kekuatan politik global tertentu dalam memanfaatkan sumberdaya manusia dari negara kita. kita ingat lima atau sepuluh tahun lalu para TKI kita belaajar bahasa Inggris dan ketrampilan lainnya untuk keluar negeri sebagai pembantu rumah tangga karena para tuan rumah mereka berbahasa inggris, jangan sampai kita nanti kita belajar bahasa dan teknologi hanya untuk menyambut mereka datang sebagai pemilik modal dan kita menjadi pembantu dinegeri kita sendiri. pendidikan moral adalah priopritas yang harus kita tanamkan pada generasi sekarang ini, yang itupuun bisa kita lakukan dengan pendekatan pada KBK asalkan kita jeli dan bisa melihat peluang untuk itu.
E-mail Pengirim: adinda04aprillia@yahoo.com
Tanggal: 27 Juni 2005


Nama: novi muharrami
Dari: depok/jawa barat
Saya: Pengamat
Saran: bagusnya program KBK adalah mengubah paradigma belajardi Indonesia. hanya saja, ternyata saya mengetahui bahwa sosialisasinya kurang bagus. bagaimanapun semua memang ingin melihat hasil 'anak gue jadi pinter" namun tanpa diiringi bagaimana proses pembelajarannya tersebut. orangtua memang menginginkan anaknya selalu menjadi juara, hanya saja ... cara berpikir orangtua masih sangat konvensional karna, "gw dulu belajar nggak kayak begini". lantas mereka menyerahkan sepenuhnya ke sekolahan. itu sangat timpang.

kenyataan di sekolah konvensional adalah para guru belum siap menjalaninya. ada lagi satu kasus, ketika seseorang sudah mengetahui seperti apa itu KBK, kenyataannya "dia tidak mampu menerapkan ketika kelas berlangsung". banyak misunderstanding di kasus metode KBK.

ada satu lagi, sepertinya saya belum mendengarkan dari kawan2 di FKIP tentang bagaimana mereka mendapat kuliah khusus untuk ini... mungkin tahun ini ada kurikulumnya, namun yang lulus 2 tahun yg lalu mereka harus sparetime untuk mempelajari sesuatu yang baru yang harusnya mereka sudah dapat dari bangku kuliah. bagaimana? jika ada yang masuk dari FKIP UNS. saya mohon tanggapannya. trims!
E-mail Pengirim: nopay98@gmail.com
Tanggal: 30-06-2005


Nama: SUTRISNO MOHAMD
Dari: GORONTALO
Saya: Mahasiswa UNS
Saran: saya mahasiswa pasca sarjana uns saya ingin meneliti pelaksanaan KBK di SMA terutama mata pelajaran sejarah.
lho tiba-tiba pelaksanaan KBK pada pelajaran sejarah ditunda dan untuk sementara masih menggunakan kurikulum lama.
apakah ini tidak membingungkan terutama guru di sekolah.
KBK menjadi kurikulum berbasis kebingungan.
sebaiknya kurikulum 2004 ini dikaji lebih mendalam dulu baru diberlakukan di sekolah
secara menyeluruh dan harus konsekuwen.
E-mail Pengirim: tris_moh@yahoo.com
Tanggal: 3 Juli 2005


Nama: andre
Dari: medan
Saya: Mohon Pilih
Saran: kbk kayaknya belum cocok karena di kbk sangat diperlukan guru yang sangat profesional. sedangkan sebagian besar guru indonesia kurang profesianal dimana :
1.guru bukan tujuan utamanya guru hanya sebagai pelarian untuk mendapat nafkah.
2. gaji guru kurang jadi guru banyak kegiatan lain bagaimana jadi guru profesional kalau demikian.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 4 juli 2005


Nama: afik
Dari: semarang/jateng
Saya: Mahasiswi unnes
Saran: klo KBK dilaksanakan di negara kita OKE. tapi standar baku bahwa guru benar dikatakan paham KBK itu bagaimana indikator/tolak ukurnya?supaya guru dapat mengimplementasikan secara maksimal.makasi........
E-mail Pengirim: afikcay@plasa.com
Tanggal: 4 juli 2005


Nama: iukz zz
Dari: Surabaya/ Jawa Timur
Saya: Mahasiswa PTS
Saran: Saya ingin membuat aplikasi penilaian siswa berdasarkan KBK, guna membantu para guru dalam mengimplementasikan KBK. Tetapi, saya masih belum mengerti mengenai format penilaiannya.
Bagaimana detail format penilaian dalam KBK ?
Mohon informasinya. TERIMA KASIH.
E-mail Pengirim: iukz@yahoo.com
Tanggal: 5


Nama: charlie masri
Dari: Nanggroe Aceh Darussalam
Saya: Mahasiswa UNUMHA- Aceh
Saran: KBK merupakan sistem pendidikan yang tidak cocok bagi guru yang kwalitas SDMnya kurang, karena guru yang ada di Indonesia ini kurang profesional dalam bidangnya, terbukti dalam proses belajar mengajar (KBM) guru sering mendapat kendala apabila ada sesuatu masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan ke profesional sebagai guru. sehingga dengan disebabkan oleh keterbatasan mampuan guru, siswa-siswa banyak yang tidak berhasil dalam menjalankan tugas sebagai penerima ilmu, yang seharusnya siswa menerima ilmu yang jauh lebih profesional. apa lagi pada UANAS tahun 2005 ini di Aceh hampir lebih kurang 60% tidak lulus disebabkan oleh yang diatas tadi. jadi saya kira kurikulm yang di canangkan oleh pemerintah di cocok.
wassalam
Charlie
E-mail Pengirim: charliemasri@yahoo.com
Tanggal: 5 Juli 2005


Nama: Suparnen
Dari: Rembang Jateng
Saya: Guru Rembang
Saran: Menurut saya baik KBK adalah baik, tetapi apakah "manusianya" sudah diprogram baik baik?
Ingat, gaji guru menganut PBBP (pinter bodo bayaran podo).
E-mail Pengirim:
Tanggal: 7 juli 2005


Nama: Bujang, Drs., M.Si.
Dari: Bekasi/Jawa Barat
Saya: Dekan FKIP-UNISMA Bekasi
Saran: Pelaku pendidikan di Indonesia sebenarnya belum memahami secara mendalam hakikat kurikulum berbasis kompetensi, baru membahas kulit-kulitnya saja, bahkan lebih mengarah pada proses pelaksanaan KBK itu sendiri.

Menurut saya KBK itu lebih kepada penyusunan kurikulum yang berorientasi pada pasar (siswa dan tuntutan lingkungan) sehingga industri pendidikan betul-betul mengarah pada demokratis dan desentralisasi tidak ada lagi otoriter dan sentralisasi. Disamping itu KBK bisa berjalan dengan baik apabila dikelola secara otonom (MBS).

Dengan demikian kalau KBK berjalan dengan yang sebenarnya, maka setiap siswa ada kemungkinan berbeda kurikulum, setiap sekolah juga akan berbeda kurikulumnya, bahkan setiap daerah tidak mempunyai kurikulum yang sama. Baru itu KBK namanya.

Outputnya, akan menghasilkan specific life skill, (baik educational maupun vocasional)dan bukan life skill yang difaksakan, demikian terima kasih nanti ketemu lagi
E-mail Pengirim: si_malin61@yahoo.com
Tanggal: 08 Juni 2005


Nama: elia dwi lisnawati
Dari: malang/jawa timur
Saya: Mahasiswi universitas negeri malang(UM)
Saran: sebenarnya kbk mata pelajaran kimia SLTP sd sudah ada belum dari pemerintah? tolong saya diberikan referensi buku-buku/informasi tentang KBK mata pelajaran kimia SLTP untuk skripsi saya.
E-mail Pengirim: el_mns.com@plasa.com
Tanggal: 10 juli 2005


Nama: Betania Fitriani
Dari: Metro / Lampung
Saya: Guru SMK
Saran: Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Sebenarnya sangat bagus jika bisa di laksanakan sesuai dengan aturan, Agar dapat melaksanakannya, sebaiknya kualitas SDM dan Sarananya disesuaikan dengan permintaan kurikulum.jadi guru benar- benar berkompeten di bidangnya. Modul-modul juga harus disiapkan termasuk peralatan praktiknya. tanpa itu semua tidak ada bedanya antara kurikulum 1999 dengan 2004. hanya beda judul aja, diterapkan di lapangan tidak bisa. Begitu juga dengan sosialisasi KBK itu sendiri, Untuk SMK Pemahaman Guru tentang kurikulum 2004 masih kurang, bagaimana bisa menerapkan kalau seperti itu. Jadi masih sangat perlu diadakan Sosialisasi Kurikulum 2004 terutama pada bagian sistem penilaian yang harus melibatkan dunia usaha dan industri, serta sertifikasinya.
E-mail Pengirim: betaniafitriani@yahoo.com
Tanggal: 10-07-2005


Nama: Dian Puspasari
Dari: Jakarta Timur
Saya: Mahasiswi Jakarta
Saran: Saya belum mau memberi saran,karena saya sendiri blm mengerti apa sich KBK..walaupun saya sdh browsing internet sana sini, tetep aja nggak nemu,kepanjangan KBK saya tahu...cuma pertanyaan saya...apakah setiap mata pelajaran mempunyai KBK?? kalau iya...utk pelajaran bahasa inggris di tingkat SD, SMP, SMU, apa isi dari KBK tsb? saya mohon bantuan dengan sangat,agar dapat penjelasan dari rekan2 guru yg sudah mengerti,sdh pernah menghadiri seminar/apapun itu ttg KBK atau sdh mempraktekan KBK tsb?Apakah worth it?
E-mail Pengirim: Dian.Puspasari@plasa.com
Tanggal: 10 Juli 2005


Nama: siti azizah
Dari: yogyakarta
Saya: Guru MI wahid hasyim
Saran: Bagaimana cara menerapkan CTL untuk pelajaran bahasa arab? memerlukan sarana atau media yang banyakkah? yang dimaksud berguna untuk dirinya sebagai anggota keluarga dan masyarakat dalam CTL itu apa? terima kasih.
E-mail Pengirim: izzut_83@plasa.com
Tanggal: 15 juli


Nama: I Wayan Andreas Dwipayana
Dari: Mataram/NTB
Saya: Mahasiswa Malang
Saran: saya cuma mau tanya, apa kelebihan dan kelemahan kurikulum berbasis kompetensi?
E-mail Pengirim: and_re_4s@yahoo.com
Tanggal: 18-07-2005


Nama: Ida Fauziah
Dari: Malang- Jatim
Saya: Mahasiswi Malang
Saran: Menurut saya KBK saat ini masih bisa diterapkan pada sekolah yang sudah mengetahui tentang kegunaan tentang KBK. Namun pada sekolah yang masih tertinggal dengan sekolah lain dan didaerah terpencil akan sulit sekali mendapatkan informasi tentang KBK. Dilain sisi KBK seharusnya bisa menampakkan kelebihan dan untuk penerapannya masih proses yang panjang.Semoga KBK membawa kemajuan khususnya pendidikan yang ada diIndonesia.
E-mail Pengirim: Ida_kdr@Yahoo.com
Tanggal: 21 Juli 2005


Nama: suprianto
Dari: brebes jawa tengah
Saya: Mahasiswa solo
Saran: bagaimana mengajarkan kompetensi writing untuk kelas 1 SMA
E-mail Pengirim: riansalemba@plasa.com
Tanggal: 25 juli 2005


Nama: yuniar endang madyawati
Dari: bandung
Saya: Mahasiswi uninus
Saran: saya sangat memerlukan contoh rencana pembelajaran bahasa inggris....
apabila diantara anda ada yang tahu, saya mohon untuk mengirimkannya ke alamat email saya. thanks a lot
E-mail Pengirim: niar2306@yahoo.com
Tanggal: july, 29 2005


Nama: Nanang Sumanang
Dari: Davao City, Philippines
Saya: Guru Sekolah Indonesia Davao
Saran: Menurut saya kurikulum adalah respon atau boleh juga produk dari suatu masa. Setiap masa punya problema dan tantangannya masing-masing. Jadi kita tidak usahlah mendewa-dewakan KBK dan menjelek-jelekkan kurikulum tahun-tahun yang lalu.

Secara keseluruhan ada yang saya ingin kritik dari para penatar KBK, PAKEM, CTL dllnya, adalah sikap mereka yang sangat membangga-banggakan kurikulum luar negeri. Setiap mereka memberikan penataran, pasti yang disebut kurikulum Australia, Jerman, Amerika dan negara-negara maju lainnya sebagai acuan mereka. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kurikulum apapun juga yang " menyontek " dari kurikulum asing tidak akan pernah berhasil mencetak manusia-manusia Indonesia yang berkualitas lahir dan batin, sebab kuikulum yang " menyontek " dari asing tidak pernah menganggap penting suatu proses dan pergumulan pendidikan.

Yang kedua, yang harus kita sadari bahwa sistim pendidikan, termasuk kurikulum haruslah lahir dari jati diri bangsa Indonesia itu sendiri, dari pergumulan perjalanan bangsa itu sendiri menghadapi perjalanan hidupnya. Saya tidak anti terhadap kurikulum asing, sebab saya juga mengajar di University of Philippines Mindanao, Brokenshire College dan sebuah sekolah Internasional Amerika di Philippines. Maksud saya mari kita gali sistim pendidikan kita berdasarkan jati diri bangsa Indonesia.

Ketiga, yang saya lihat agak kurang dari pendidilan kita adalah " kita mengajar sangat kering dengan cinta yang ilahiyah "

Semoga tukar pikiran ini bermanfaat untuk kita semua. Amiin
E-mail Pengirim: n_sumanang@yahoo.com
Tanggal: 25 Juli 2005


Nama: Linda handayani
Dari: Kabupaten nagan raya propinsi Nanggroe Aceh darussalam
Saya: Guru SLTP (SMP) Neg.1 Alue Bilie
Saran: kbk mereupakan terobosan genial yang mesti diterapkan secara dini. untuk melahirkan siswa-siswi yang berkualitas dan mandiri perlu di sosialisasikan sampai ke sekolah-sekolah yang berada di pelosok desa seperti di desa saya di Alue Bilie. sistem ini belum berkembang. malahan ada sebagian guru yang bertanya tentang kurikulum kbk ini.
E-mail Pengirim: opit_lin@yahoo.co.id
Tanggal: 26 Juli 2005


Nama: hadi susanto
Dari: Banda Aceh NAD
Saya: Guru Kab Aceh Besar Prov NAD
Saran: Janganlah seorang Guru mengejar jabatan tapi pikirkan bagaimana kita guru memang betul bisa menjadi yang profesional dan kemampuan didalam membimbing anak didik yang sekarang berjalan dan saya lihat banyak guru mengabaikan tugas pokoknya sebagai guru karena orang yang mengejar jabatan pasti anak maksud-maksud tertentu jadi bukan berdasarkan kemampuan pada diri sendiri dan mulai sekarang marilah kita bangun dan terapkan system seperti yang di galakan sekarang ini semoga anak didik kita dan kita sendiri akan bangga untuk membangun bangsa yang berbudi luhur bila pemimpin sendiri merebut kekuasaan bagaimana kita bisa mendidik anak-anak ?......
demikian saran dan komentar saya lebih kurang mohon dimaafkan.
E-mail Pengirim: radhatu@yahoo.com
Tanggal: 26 Juli 2005


Nama: Afrian Danny Santoso
Dari: Sidoarjo, Jawa Timur
Saya: Siswa SMA Negeri 1 Sidoarjo
Saran: Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Saya rasa KBK adalah kurikulum yang sangat bagus bagi siswa, tetapi seharusnya pemerintah memberikan sosialisasi kepada guru dan murid dengan sejelas-jelasnya, sehingga antara guru dan murid telah mengetahui tugasnya dalam menjalankan sistem KBK ini.

Saya adalah alumnus MTs Negeri Bangil, disana masih menggunakan kurikulum 1994, jadi sewaktu masuk ke SMA saya agak kaget menerima pembelajaran dengan sistem KBK, tapi untungnya banyak teman-teman saya yang berasal dari SMP kabupaten sidoarjo yang ternyata dari kelas 1 SMP mereka telah berKBK, jadi saya agak mudah untuk beradaptasi dengan KBK itu.

Jadi, itulah sedikit uneg" saya, sorry saya nulis ini pake handphone so tulisannya ga bisa panjang.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
E-mail Pengirim: afri4n@yahoo.co.id
Tanggal: 26 Juli 2005


Nama: sri surono
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswa UNY
Saran: menurut saya KBK tidak jauh berbeda dengan CBSA. karena sama-sama dibutuhkan peran aktif dari siswa dalam belajar. sehingga dari hal ini sebenarnya dibutuhkan kesungguhan pelaksana kurikulum itu sendiri untuk melaksanakanya, yaitu guru, jika guru masih enggan merubah cara mengajar dia maka akan sama saja nasib KBK dengan CBSA, hanya sebatas slogan yang ideal namun pelaksanaannya nol, karena tidak ada perubahan sama sekali dalam proses belajar mengajar.
E-mail Pengirim: srisurono@yahoo.com
Tanggal: 26-7-05


Nama: Imelda Novita Sari
Dari: Jatinangor/Bandung
Saya: Mahasiswi UNPAD
Saran: Saya setuju dengan adanya penerapan KBK pada bidang pendidikan. Karena hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk dapat menghasilkan SDM yang berkualitas yang dapat mendukung dalam proses pembangunan. Dimana dalam hal ini, manusia bukan lagi menjadi obyek, tetapi manusia sekarang menjadi subyek dalam pembangunan. Hanya saja, mungkin dalam pelaksanaanya masih belum maksimal, sehingga kita sebagai warga negara yang baik harus dapat mendukung program pendidikan tersebut. Karena masih ada harapan bagi bangsa kita untuk membangun dan menjadi lebih baik lagi. Mari kita bersama-sama membangun negeri kita yang tercinta ini. MAJULAH INDONESIAKU!
E-mail Pengirim: imel_marsiela@yahoo.com
Tanggal: 28 Juli 2005


Nama: harwanto (hawe)
Dari: Tangerang, Banten
Saya: Guru MAN Insan Cendekia Serpong
Saran: Anda semua kalau belum baca Kurikulum 2004 secara utuh jangan komentar dulu, jadi lucu dan wagu tahu nggak loh...!

Aku jadi guru (17 th), setelah baca kurikulum dengan bener nich..yee..., rasa-rasanya baru sekarang merasa jadi guru. Dihargai kreatifitasnya, paling tidak dihadapan siswa. Tidak bete ngajar dengan materi itu-itu saja, tapi dapat lebih berimpropisasi hee...heee. Bisa bikin materi sendiri, tidak harus pakai buku paket, jadi tidak harus ikut-ikutan bikin para yang epunya penerbit tiap tahun merauf untung dan kasih suap sama pejabat diknas, biar bukunya dipakai wajib!!!

Lho..., kalau ente semua jadi guru yang kreatif, kurikulum 2004 itu solusinya, tapi... kalau ente memang cuma pingin jadi guru kaya PNS (berangkat siang pulang cepet) ya... pakai aja tuh kurikulum yang lama.

Jadi bangsa mbok...ya maju dikit gitu...loh..! Kreatiiiip dan inovatiiiip... dan latihan berpikir positiiiip..he..he...
E-mail Pengirim: harwantocom@yahoo.com
Tanggal: 30 Juli 2005


Nama: Cut Yulia Rizky
Dari: Banda Aceh / Nanggroe Aceh Darussalam
Saya: Mahasiswi Manajemen Pendidikan (reguler class), Syiah Kuala
Saran: Faktor utama terlaksananya suatu program adalah faktor sumber daya manusia. dengan diterapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) ini maka diharapakan akan lahir manusia2 dengan kemampuan dan bakatnya masing2. karena dalam kurikulum ini yang dikupas adalah teori plus, yang artinya setelah belajar dengan teorti yang dituntut adalah prakteknya, maka KBK memahaminya. diharapkan pihak Dinas Pendidikan atau siapa saja yang mampu membuka link, network dan mampu melakukan negoisasi dengan pihak asing untuk perkembangan KBK itu sendiri. kita ketahui bersama dalam hal pendidikan dan informasi kita banyak ketinggalan, manfaatkanlah kesempatan emas ini, kita jalin kerjasama dalam hal memperoleh program dan pelatih/pengajar yang berbakat dari pihak asing. kalau Pemerintah belum bisa menanganinya (mungkin keterbatasan waktu, tenaga karena banyak masalah lainnya) berikan kepercayaan kepada mereka yang peduli terhadap pendidikan.
jangan katakan tidak terhadap suatu perubahan kearah positif.
Hidup adalah perjalanan bukan perhentian.
E-mail Pengirim: yulia3yupy@yahoo.com
Tanggal: 30 Juli 2005



Ke Halaman 6 >>

Kembali ke Halamam Utama