Index ForumPendidikan MahalMemperbaiki PemerintahKBK FORUMFORUM UMUMKegiatan ProyekAnggota AktifLinks ProyekKegiatan Pendidikan

The Voice of Indonesian Educators and Learners
TOPIK
"Mengatasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)"
Halaman: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8


Saran Anda

Nama: suryudi
Dari: selong
Saya: Siswa sma 1 terara
Saran: menurut aku sistem kbk ini amatlah merepotkan apalagi sekolah kami bisa digolongkan sekolah kacangan jika dilihat dari segi fasilitas dan kecakapan guru, guru masih sulit mengerti apa yang haris disajikan dalam usaha pemenuhan kompetensi dasar siswa rapat mgmp yang hanya bertaraf lokal tidak mampu menutupi hal tersebut, apalagi dalam sistem kbk yang diutamakan adalah siswa berarti itu juga semakin merogok kantong kami sbg siswa !
E-mail Pengirim: su@plasa.com
Tanggal: minggu,31 juli 2005


Nama: M. Achmad
Dari: Jakarta
Saya: Masyarakat Jakarta
Saran: Saya mempunyai anak yg sekolah di SMU Unggulan di Jakarta yg mana sekolah tsb. telah menerapkan sisitim KBK.

Anak saya mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran terutama pelajaran matematika , dimana si Guru sama sekali tidak menerangkan masalah teory , si murid diwajibkan belajar sendiri dengan membaca buku .

didalam kelas si guru cuman bilang buka buku hal sekian dan kerjakan soalnya. Bila simurid bertanya kenapa tidak dijelaskan teorynya , dgn enteng si Guru menjawab sisitim KBK mengharuskan murid aktif belajar sendiri.

Pertanyaan saya kalau murid harus belajar sendiri dengan membaca buku , lalu apa gunanya sekolah ? .

Hal ini akan menyebabkan simurid mencari pengetahuan tsb. diluar sekolah dgn ikut bimbingan atau les yg diberikan guru tsb ; lalu apa gunanya sistim KBK ? bagaimana nasib orang tua yg tidak mampu sehingga tidak dapat menLes kan anaknya ??
E-mail Pengirim: yahoo@achmadmansyur
Tanggal: 1 Agustus 2005


Nama: DRS. ENDANG HAMBALI
Dari: JAWA TENGAH
Saya: Guru SMA NEGERI 1 KERTEK
Saran: SEMOGA KBK BERMANFAAT UNTUK MASA DEPAN BANGSA KITA
E-mail Pengirim: elisahifi@yahoo.com
Tanggal: 05-08-2005


Nama: syamsu hunian, S.Pd.
Dari: Riau
Saya: Guru Pekanbaru
Saran: Apakah modul Bahasa Indonesia kurikulum 2004 (KBK) untuk SMK Bisnis Manajemen kelas 1 di sudah ada ? kalau ada mohon dong dipublikasikan.
E-mail Pengirim: syamsujunior@yahoo.co.id
Tanggal: 11 Agustus 2005


Nama: ary yanto
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswa UNY
Saran: minta bantuan mengenai materi kesiapan kerja siswa aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dan bagaimana cara mengukurnya
E-mail Pengirim: aryynt@yahoo.com
Tanggal: 12 agustus 2005


Nama: Tiar Nurita
Dari: Surabaya
Saya: Siswi SMAN 9 Surabaya
Saran: KBK....ehm,menurutku penting banget pake KBK,masalahnya kita sebagai siswa dituntut untuk belajar sendiri dan bakal lebih mudah memahami.lagian kan bisa langsung diaplikasikan dalam keidupan seari2..tapi masalahnya ya buat anak2 yang pemalu.itu bisa jadi bumerangcoz kita kan dituntut lebih aktif...aq jadi punya rumusan masalah buat karya tulis ilmiahku tentang KBK...hidup KBK !!!
E-mail Pengirim: tiar_aja@plasa.com
Tanggal: 14 agustus 2005


Nama: Drs. Suryadi Permana
Dari: Ciputat-Tangerang-Banten
Saya: Guru SMP Negeri 1 Ciputat
Saran: KBK itu ibarat nikah, siap tak siap ya siap-siap aja!
E-mail Pengirim: suryadi@hotmail.com
Tanggal: 17-08-2005


Nama: Nur Muhayyati
Dari: Yogyakarta
Saya: Mahasiswi UNY
Saran: KBK, baik jika guru sebagai fasilitator dapat menerapkannya dengan baik di kelas. oleh karena itu guru harus paham benar mengenai KBK, sehingga penerapannya sesuai dengan tujuan dari KBK. penilaian dalam KBK pun lebih bersifat individual, tidak lagi kelas. hal itu dapat menguntungkan siswa yang mempunyai kepintaran yang lebih dari teman-temannya. Tapi sayangnya, untuk mengontrol siswa secara individu dibutuhkan kelas yang ideal, max 20 siswa perkelas.agar guru lebih mudah untuk memberi penilaian. dan sistem ebtanas belumlah sesuai dengan KBK, jika mau diterapkan secara total. Sudahkah hal tersebut di terapkan?
E-mail Pengirim:
Tanggal: 18 Agt 205


Nama: IRZON JALIL,S.SI
Dari: BANGKINANG/RIAU
Saya: Guru SMP NEGERI 1 KAMPAR
Saran: JANGAN JADIKAN KBK MENJADI SUATU AJANG DEBAT KUSIR JADIKANLAH IA MERUPAKAN SISTEM PENDEWASAAN BAGI PENDIDKAN KITA, KARENA SELAMA INI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL/KLASIK SEKALIPUN TIDAK PERNAH MEMBUAT BANGSA INI MAJU DAN MAMPU UNTUK BERDIRI DIKAKI SENDIRI, DIBUKTIKKAN DENGAN BANGGANYA BANGSA INI MEMNGGUNAKAN HASIL CIPTAAN BAGSA LAIN TAPI MAU BERPIKIR APAKAH KITA MAMPU UNTUK MEMBUATNYA MEMANG PADA AWALNYA BEARAT SISTEM INI TAPI YAKINLAH DENGAN SISTEM INI DUNIA PENDIDIKAN KITA AKAN MATANG DAN BENAR-BEANR MAMPU MENELURKAN PENERUS BANGSA YANG LEBIH MAMPU BERDIRI SENDIRI, KREATIF, INOVATIF DAN TIDAK HANYA MAMPU MEMBELI TAPI AKAN MAMPU MEMBUAT LEBIH BAIK PAHIT DAN TERTATIH DARI PADA MEMAKAI YANG LAMA TAPI MEMBUAT BANGSA INI AKAN SEMAKIN BODOH DAN TERPURUK DIMASA MENDATANG
E-mail Pengirim: OCUIRZON@PLASA.COM
Tanggal: 19 AGUSTUS 2005


Nama: Zakaria
Dari: Bandung
Saya: Guru bandung
Saran: saya ingin bertanya berapakah setiap sekolah (apakah ada standar nasional?) menentukan % penguasaan KD, untuk bisa melanjutkan ke kompetensi selanjutnya. apakah 75 % penguasaan materi atau ........
tolong berikan sumber data terkait
terima kasih sebelumnya
E-mail Pengirim: oqzac@plasa.com
Tanggal: 21 Agustus 2005


Nama: Brnadetha Wikandiarti
Dari: Yogyakarta
Saya: Siswi Yogyakarta
Saran: Menurut saya sistem KBK seharusnya dilaksanakan apabila dari sarana dan prasarananya sudah siap. Jangan hanya asal jalan saja. Kita lihat dulu kualitas dari para staf pengajarnya, apakah benar-benar sudah siap? Selain itu berilah dulu pengarahan tentang pengertian dari KBK itu sendiri terutama pada siswa-siswinya sehingga mereka tidak kaget dengan cara pengajaran yang bisa dibilang cukup sulit karena mereka harus aktif dan harus berusaha untuk dapat cepat memahami pelajaran tersebut.
E-mail Pengirim: d3th4_gokiL@yahoo.com
Tanggal: 21 Agustus 2005


Nama: Dea Swe3Tie
Dari: jakarta
Saya: Siswi MAN 4 MODEL JAKARTA
Saran: KBK(kurikulum berbasis kompetensi) dmana yang diterapkan pada sistem ini adalah siswa/i yang aktif dalam berbagai pelajaran. Biasanya dalam KBK ini siswa/i terjun langsung dalam mengatasi sebuah masalah misalkan pada pelajaran biologi,siswa/i hrs seimbang antara praktek maupun teori.Dalam KBK guru hanya sebagai fasilitator dan yang bergerak adalah murid.Dalam KBK yang dinilai ada 3 yaitu afektif, kognitif dan psikomotor, namun pada KBK ini siswa/i terbebani dengan berbagai macam tugas, tapi itu membuat siswa/i mengalami pengalaman yang menarik.
E-mail Pengirim: dhe@_swe3tie.com
Tanggal: 21 AGUSTUS 2005


Nama: Muliadi
Dari: Banda Aceh/Atjeh
Saya: Dosen IAIN Ar-Raniry
Saran: KBK itu perlu digalakkan, dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di tanah air yang selama ini dianggap telah jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan bangsa lain
E-mail Pengirim:
Tanggal: 22 Agustus 2005


Nama: aprieX
Dari: JOGJA
Saya: Mahasiswa El-Rahma
Saran: Emang bener sich, saya merasakan sistem KBK ini sejak saya masih siswa SMK N1 Batang Hari di JAMBI. Saya merasakan bahwasanya sistem KBK ini cukup baik sehingga masing-masing dari siswa/i bahkan mahasiwwa/i itu sendiri dapat mengetahui seberapa jauh sich mengenai kemampuan dan apa keahlian yang mereka punyai. Sehingga itu menurut saya bisa menjadi tolak ukur kita dalam mengambil langkah atau jalan untuk kemajuan kita di masa depan nanti, yang mana dengan mengetahui keahlian kita, kita daat mengambil jenjang apa yang baik dan cocok untuk kita.
E-mail Pengirim: an3dis_bay@yahoo.com
Tanggal: 24 Agustus 2004


Nama: acep
Dari: Yogyakarta
Saya: Masyarakat Yogyakarta
Saran: Guru yang dahulu sangat dihargai eksistensinya di masyarakat kini mulai pudar, bahkan nyaris tak terdengar. Hal ini disebabkan ulah guru-guru yang tidak lagi memiliki etika dalam mendidik peserta didiknya. Masih sering terjadi kekerasan, baik fisik maupun psikis oleh guru kepada murid=muridnya. Orientasi pendidikan yang sosialis dan humanis telah bergeser menjadi kapitalistik yang berujung pada du-it. Anak didik tidak dihargai sebagai manusia, tetapi sebagai benda ekonomis yang menguntungkan. Apabila sikap dasar pendidikan ini telah melenceng, apa pun kurikulumnya, setinggi apa pun gaji guru, tetap sia-sia
E-mail Pengirim: hujan_biru99@yahoo.com
Tanggal: 25 Agustus 2005


Nama: hujanbiru
Dari: yogyakarta
Saya: Masyarakat Yogyakarta
Saran: kalau pemerintah serius dengan model KBK, mengapa UAN menjadi titik tolak kelulusan siswa? Mengapa tidak diberi kebebasan sekolah tuk mengembangkan KBK sesuai dengan kondisi siswa, alam, dan potensi yg lain?
E-mail Pengirim: hujan_biru99@yahoo.com
Tanggal:


Nama: Syukri
Dari: banda aceh
Saya: Mahasiswa Unsyiah
Saran: sebenarnya kbk di Aceh bukan hal baru, dari dulu anak-anak aceh sudah mampu melaksanakan pendidikan denga sistem kompetisi. tempat kami anak-anak sltp aja udah pinter buat bom sendiri. ngak percaya boleh datang aja ke Aceh. Buktikan sendiri.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 26 Agustus 1982


Nama: Suryadi
Dari: Tangerang
Saya: Guru SMP Negeri 1 Ciputat
Saran: KBK harus dicoba, dianalisis hasilnya, diperbaiki, barulah ditetapkan sebagai kurikulum baku.
E-mail Pengirim: suryadi@hotmail.com
Tanggal: 27-08-05


Nama: safri kamaria
Dari: maluku utara
Saya: Guru MTS
Saran: untuk menjawab tuntutan KBK, maka dalam hal peningkatan mutu guru perlu dilakukan secara terencana dengan baik terutama jika kegiatan tsb dilakukan oleh pihak DIKNAS maupun DEPAG, kegiatannya tidak sekedar berorientasi pada penghabisan dana proyek, tetapi diupayakan berorientasi pada hasil yang maksimal, selain itu, guru-guru yang memiliki keinginan untuk mengembangkan kemampuannya lewat studi lanjut agar diberi kesempatan atau difasilitasi.
E-mail Pengirim: ZIDNA@TELKOM.NET
Tanggal: 28 agustus 2005


Nama: Suhuri
Dari: Palembang
Saya: Guru SMA Negeri 2 Palembang
Saran: Pembelajaran Bahasa Inggris yang menerapkan KBK diharapkan akan menghasislkan keluaran SMA yang berkualitas. Dengan demikian sumber daya manusia Indonesia akan dapat berdaya saing tinggi, bermutu, dan selalu memiliki ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 5 September 2005


Nama: Agustinus Supriyono
Dari: Semarang/Jawa Tengah
Saya: Guru SMA Don Bosko Semarang
Saran: Mencermati dunia pendidikan di tanah air, saya merasa prihatin karena apa yang disebut dengan KBK atau lebih yang dikenal dengan Kurikulum 2004 dalam prakteknya masih sama dengan pengajaran model lama. Guru lebih banyak mendominasi kelas dengan memberikan bahan ajar yang sebenarnya dapat dicari di internet. Yang menjadi pokok dari proses pembelajaran adalah bagaimana menciptakan suasana belajar yang lebih baik sehingga anak didik dapat mengembangkan potensinya menjadi manusia dewasa. Jika seorang pembelajar (siswa) diajar oleh pendidik yang masih kurang informasi, bagaimanakah ia dapat memperkembangkan dirinya? KBK nampaknya masih jauh dari harapan jika kita (para pendidik) masih berkutat pada paradigma lama. Kita sendiri harus mau meng-upgrade kualitas kita dengan cara belajar terlebih dahulu.

Saya mengajak rekan-rekan pendidik untuk terlebih dahulu memberikan teladan dengan lebih banyak memberi teladan dan bukan hanya nasehat. Sebagai contoh guru bahasa Inggris. Berapa guru yang sudah menguasai bahan ajar dengan penguasaan jenis-jenis teks (genre) dengan generic structure dan linguistic feature yang benar? Materi semacam ini dapat diperoleh di internet; misalkan dengan mengakses pada Systemic Linguists Community; dan dengan belajar dari para ahli mengenai systemic functional linguistics, kita dapat mengajarkan anak didik jenis teks yang tepat. Pengalaman saya contact dengan beberapa profesor dibidang Systemic Functional Linguistics memberikan saya cara pandang yang baru mengenai pengajaran bahasa.Demikianlah beberapa masukan dari saya, semoga berguna bagi para pendidik dan secara khusus guru-guru bahasa Inggris. Jika membutuhkan informasi mengenai pembelajaran bahasa Inggris, saya dengan senang hati akan membantu.
Salam, Agustinus Supriyono
E-mail Pengirim: priyo_2005@yahoo.co.uk
Tanggal: 05 September 2005


Nama: listzha
Dari: pontianak/kalbar
Saya: Mahasiswi FKIP Untan
Saran: kalau pendidikan di negara ingin cepat maju kenapa pelaksanaan kurikulum KBK masih setengah hati dilaksanakan mohonlah kepada lembaga pendidikan yang di berikan pemahaman jangan hanya pada segelintir guru yang dianggap mempunyai kredibelitas tapi perhatikan yang lain, kita semua ingin negara kita maju seperti negara lainnya yang pendidikannya jauh lebih maju
E-mail Pengirim: list_zha@yahoo.com
Tanggal: 5 september


Nama: Dalton Sero, S.Pd
Dari: Kab. Halmahera Utara/Maluku Utara
Saya: Tobelo/Ternate
Saran: Pelaksanaan KBK sebaiknya dikaji kembali tentang pelaksanaanya, mengingat tidak seimbangnya program dengan dana yang tersedia di sekolah khusus di provinsi Maluku Utara kab. Halmahera Utara.
E-mail Pengirim: Tonces yahoo.com
Tanggal: 8 September 2005


Nama: fitri utami
Dari: serang/banten
Saya: Siswi sman 1 serang
Saran: kbk hanya membuat siswa menjadi tertekan. kbk di serang belum berjalan sebagai mana mestinya. mohon pemerintah memberikan perhatian.
E-mail Pengirim: lazer_chie@yahoo.com
Tanggal: 8 september 2005


Nama: M.Jakfar
Dari: PEkanbaru
Saya: Guru Sekolah Luar BIasa
Saran: Maaf saya bukan saran tapi mohon bantuan sumber metode kontesktual (CTL-contectual teaching learning ) di buku apa atau sdr bisa bantu sesungguhnya apasih pengertian atau ada beberapa pendapat tentang metode kontekstual, mudah-mudahan saya tidak salah alamat saya baru belajar Internet, maaf ya ?
E-mail Pengirim: mjakfar@ypc.or.id
Tanggal: 10 September 2005


Nama: fauzi ibrahim
Dari: jakarta
Saya: Mahasiswa UIN JKT
Saran: saya pribadi menilai dengan adanya KBK justru akan tambah membuat standarisasi kualitas pendidikan indonesia akan semakin kabur dan tidak jelas arah tjuannya.
E-mail Pengirim: fair_ozy@yahoo.com
Tanggal: 13 September 2005


Nama: Salah Satu Siswi SMA 2 Surabaya
Dari: Surabaya/Jawa Timur
Saya: Siswi SMA 2 Surabaya
Topik: KBK
Saran: Aku masih binggung ama KBK. Sebagai murid aku ngerasa KBK tuh berat. Tapi, kadang juga asyik. Kalo gurunya enak, kita juga bisa enjoy. Tapi, di SMA 2 tugas KBK nya banyak, udah gitu pulangnya sore lagi. Kita jarang banget bisa istirahat. Tiap guru mesti ngasih tugas dan ulangan dalam waktu yang bersamaan. Mereka mau balas dendam atau gimana??? Semoga Indonesia bisa lebih maju dengan KBK.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 13/09 /2005


Nama: Astuti
Dari: sawahlunto/ Sumbar
Saya: Guru SMAN1
Saran: Dalam pelaksanaan KBK dibutuhkan kemampuan, waktu bagi guru untuk menyusun bahan ajar dan pengembangannya. oleh karena itu jam wajib guru 14 jam saja
E-mail Pengirim:
Tanggal: 14SEPTEMBER2005


Nama: Gloria
Dari: Depok
Saya: Guru Sekolah Tiara Bangsa
Saran: Saya suka banget dengan kurikulum berbasis kompetensi. Bukan karena saya malas ngajar tetapi justru dengan adanya KBK saya sangat terpacu untuk menggali kreativitas saya demi menemukan cara-cara baru yang kreatif dalam menyampaikan pelajaran kepa murid-murid saya.

Memang betul bahwa guru perlu men-set up sistem penilaian yang baik atas hasil kerja anak-anak, dan indikatornya sebaiknya terbuka.

Hal lainnya adalah guru perlu memiliki sumber yang banyak sehingga dalam mengarahkan pelajaran dia nggak kagok karena tuntutan dan pernyataan murid (tapi kalo sekali-kali nggak bisa jawab yang bilang aja ntar dulu, ibu cari dulu yah, ibu juga nggak tau).

Saya cukup terbiasa dengan cara mengajar sistem KBK, sekalipun saya masih baru jadi guru (4 tahun). Mungkin karena memang dari pertama sudah diarahkan untuk mengajar ala KBK.

Saya percaya bahwa kebanyakan murid itu bukannya males tapi lagi bingung aja. Jadi adalah kewajiban guru untuk menerangkan INSTRUKSI KEGIATAN dengan SEJELAS-JELASNYA dan menjawab pertanyaan murid (bukan nerangin sedikit aja dan mendiamkan murid yang kebingungan).

Buat teman-teman guru, mari manfaatkan seluruh fasilitas (baik yang melimpah maupun yang terbatas) termasuk alam sekitar kita, dan menjadikannya alat dan sumber belajar bagi murid-murid.

Where there is a will, there is a way.
GLORIA
E-mail Pengirim: Gloria_Sitorus@yahoo.com
Tanggal: 16 Sept 2005


Nama: hartini ariani
Dari: penajam kalimantan timur
Saya: Guru sma 1 penajam
Saran: Sampai hari ini KBK belum dikuasai oleh semua guru, perlu adanya pelatihan yang lebih mendalam, akibat ketidakmengertian labelnya KBK tapi prosesnya tetap seperti kurikulum yang lama. Akibat tidak mengerti pula banyak guru yang berpendapat KBK itu mumet, bikin repot, njelimet, dll,dll,dlll.
E-mail Pengirim: minura@telkom.net
Tanggal: 17 september 2005


Nama: sigid santoso
Dari: bogor - jawa barat
Saya: Masyarakat Bogor
Saran: anak saya sejak klas 1 SD sudah memakai KBK di sekolahnya (Al-azhar 27 Bogor). Yang saya lihat, kemampuannya dapat tumbuh, rasa demokrasinya bergerak, keberanian untuk mengungkapkan apa yang disuka dan apa yang seharusnya muncul, sikap ingin tahu atas sebuah berita di media masa juga tumbuh. Saya berpendapat, untuk KBK ini, kita para orang tua murid memang harus memebkali diri dengan ilmu yang mirip dengan apa yang diajarkan di sekolah. Keterlibatan OTM sangat membantu. Urusan membuat anak pintar dan maju bukan pekerjaan sang guru saja. Guru lebih berperan sebagai mediator, fasilitator. Bukan seperti guru jaman saya dulu. Materi diberikan seluruhnya didepan kelas, minggu depan ada ulangan. Nilai 100 berati pinter. Kayaknya dengan KBK ini, seluruh murid akan mendapat angka 100. Yang membedakan adalah potensi masing-masing anak. Saran saya bagi OTM, mulailah aktif mengimbangi putra-putrinya, aktif bertanya di sekolah (sekolah harus sangat terbuka berkomunikasi dengan OTM).
E-mail Pengirim: jananuragadi@plasa.com
Tanggal: 19 September 2005


Nama: Wadi sapar
Dari: Samarinda Kaltim
Saya: Mahasiswa Universitas Mulawarman
Saran: Saya sangat setuju dengan diadakannya sistem kurikulum berbasis kompetensi (KBK) seperti ini. Karena sebagai seoarang siswa/mahasiswa seharusnyalah kita lebih mengembangkan kemampuan dan kreativitas kita yang lebih kompeten. jangan selalu guru/dosen yang mati-matian menjelaskan, sedangkan kita hanya sebagai pendengar setia yang membingungkan.Sekarang adalah zaman dimana kita harus mampu bersaing dalam bidang pendidikan.

saran: kepada pihak manapun yang lebih mengetahui tentang keuntungan dan kekurangan sistem KBK, tolong dipaparkan secara lengkap dan akurat. terimakasih!!!
E-mail Pengirim: sapar_82@plasa.com
Tanggal: 20 September 2005


Nama: edy
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswa yogya
Saran: kbk menurut saya sangat bagus dan tepat biala dimulai sekarang di era yang global ini karen dapat menciptakan ide-ide yang terpendam dari masing masing anak didik, namun yang perlu ditingkatkan adalah inovasi dari metode para pendidik
E-mail Pengirim:
Tanggal: 20 september 2005


Nama: Tien Kartina
Dari: Surabaya/Jawa Timur
Saya: Guru SMA Negeri
Saran: Sangat bersyukur dan senang, karena dengan berinternet ria, saya bisa tahu lebih luas tentang Kurikulun Berbasis Kompetensii. Saya sebagai guru belum memahami benar tentang penerapan KBK di lapangan. Untuk itu mohon di berikan contoh pelaksanaan KBM dengan Kurikulum KBK,karena selama ini kalau saya mengajar sangat kesulitan dengan jumlah siswa lebih dari 40 terutama penilaian psikomototik, sekian terima kasih.
E-mail Pengirim: tieka9@yahoo.com
Tanggal: 25 - 09 - 2005


Nama: ARIADI AFRILIANTO
Dari: MATARAM NTB
Saya: Mahasiswa MATARAN
Saran:
E-mail Pengirim: PAK SYA MITA MODEL-MODEL PEMBELAJARAN DALAM KBK seperti: DIREC INSTRUCTIONS, COPERATIF LEARNING, CLASS DISCUSION, PROBLEM BASID, INSTRUK TIONS.
Tanggal: 29-09-2005


Nama: Suryadi
Dari: Tangerang
Saya: Guru SMP Negeri 1 Ciputat
Saran: Bagaimanapun KBK tetap harus dilaksanakan. Hambatan pasti ada, tapi kita memang harus optimis bahwa pendidikan di negeri ini harus lebih baik dan lebih maju.
Sekali KBK tetap KBK!
E-mail Pengirim:
Tanggal: 8 Oktober 2005


Nama: hari yulianto
Dari: jogjakarta
Saya: Masyarakat sleman
Saran: Apakah dengan kurikulum ini bangsa kita akan lebih baik. bukannya saya meragukan pencetus kurikulum ini tetapi apakah masyarakat kita bisa menerima masalahnya pendidikan adalah hal nomer sekian setelah maksiat
E-mail Pengirim:
Tanggal: 5 oktober 2005


Nama: rifa
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswi yogyakarta
Saran: KBK bagaikan sebuah utopia.ia terlalu sempurna untuk dilaksanakan kenapa? karena KBK seakan melupakan budaya yang ada di indonesia. sehingga akhirnya KBK sulit diterapkan

kbk sebenarnya masih memungkinkan dilaksanakan hanya saja perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat luas tentang apa sebenarnya KBK. kerena sejauh ini masayarakat masih bingung tentang apa itu KBK apalagi bagaimana beralih dari sistem lama menuju KBK. kendala penerapan KBK sangat luas diantaranya siswa yang terkena peralihan sistem lama kepada sistem KBk seringkali terabaikan.akibatnya nasib mereka terombang-ambing.bagaimana ini....
E-mail Pengirim: rifa_elpasha@yahoo.com
Tanggal: 5 oktober 2005


Nama: rizki
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswi uny
Saran: kbk belum bisa di laksanakan sepenuhnya karena kurang tahunya guru-guru mengenai kbk sehingga kbk tidak bisa di laksanakan sepenuhnya.sebenarnya tidak hanya guru saja yang bingung tapi para pakar pendidikan saja masih awam dengan apa itu kbk apalagi orang tua murid yang tidak tahu menahu tentang kbk.pemerintah dalam hal ini sebagai penentu kebijakan juga kurang tegas apakah kbk mau di sahkan apa tidak juga masih bingung. sebenarnya sebelum sistem kbk ini di uji coba sebaiknya semua elemen yang terkait di beri penjelasan yang ditel sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran seperti ini dan adanya jaminan hukum yang jelas mengenai ini
E-mail Pengirim:
Tanggal: 6 oct 2005


Nama: wasiman
Dari: semarang
Saya: Mahasiswa stiab smaratungga
Saran: untuk penerapan Kurikulum Berbasis Kopentensi memang sangat perlu diterapkan pada pembelajaran. dan yang lebih penting lagi seorang guru hendaknya memberi contoh yang baik
E-mail Pengirim: ian_r1983
Tanggal: 07/10/2005


Nama: grita anindarini . niindaa .
Dari: jakartaa
Saya: Siswi smp negeri 115 jakartaa
Saran: KBK disekolaah saya udah berjalaan baik... semua guru ada KBK nya mnurut saya metode ini asik banget soalnya menuntut siswa untuk aktif dan mengemukakan pendapatnya.. hal ini juga membantu siswa untuk bisa berpikir cepat dlm nyelesein masalaah dan akan berguna banget untuk kedepannya,, murid2 juga diajarkan tanggung jawab yang besar dalam metode ini.. bagaimana mereka bisa diskusi sambil presentasi kedepan untuk melatih berbicara disepan umum,, KBK juga membantu siswa untuk siap menghadapi segala hal yang kemungkinan akan terjadi, dengan adanya KBK yang dikasih pokok bahasan langsung diskusi trus presentasi itu membantu siswa dalam berpikir cepat, jelas, dan tanggap pokoknya adanya KBK ini melatih kita dasar kepemimpinan dan dipersiapkan untuk generasi muda demi kemajuan bangsa kedepannya,, jadi ga akan rugi menerapkan KBK pada anak-anak kayak kita-kita inii

KBK de bezt daaah!!!
E-mail Pengirim: boygirl_soccer@yahoo.com.sg
Tanggal: 14 oktober 2005


Nama: mustika
Dari: surakarta
Saya: Mahasiswi FKIP UNS
Saran: KBK merupakan kurikulum yang berpusat pada siswa, proses pembelajaran berkaitan dengan kehidupan siswa sehingga siswa mengetahui apa yang ia pelajari, bagaimana mempelajari dan apa kaitannya dengan kehidupan mereka. untuk itu kita sebagai calon guru harus mempelajari KBK dan menerapkannya pada sistem pembelajaran yang kita lakukan sehingga dapat menciptakan belajar bermakna dan kualitas pendidikan yang baik.
E-mail Pengirim: kiara_2@plasa.com
Tanggal: 14 Oktober 2005


Nama: eko purwantoro
Dari: semarang/jawa tengah
Saya: Masyarakat semarang
Saran: agar artikel ini dapat dijadikan semacam gambaran dalam memahami KBK perlu adanya peran aktif supaya sekolah2 di pelosok dapat mendapat informasi ini.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 16 oktober 2005


Nama: dudung js
Dari: jawa barat
Saya: Mahasiswa UIK Bogor
Saran: Mohon diberikan contoh SAP bahasa inggris smp kelas II, berdasarkan kurikulum yang berlaku sekarang/yang direkomendasikan, sebagai bahan untuk dipelajari.
Terimakasih
E-mail Pengirim: dudung_djs@yahoo.com
Tanggal: 19 oktober 2005


Nama: I Made Mudita
Dari: Tabanan/ Bali
Saya: Guru SMKP MENGWITANI - BADUNG
Saran: APA YANG TELAH DICANANGKAN OLEH PEMERINTAH KHUSUSNYA DEPDIKNAS SANGAT BAGUS TETAPI PARA GURU DAN ORANG INDONESIA PADA UMUMNYA SANGAT SUSAH UNTUK BERUBAH APALAGI SEBAGAI GURU YANG TELAH MENGAJAR BERTAHUN-TAHUN AKAN MERASA KESULITAN DALAM HAL MELAKUKAN PERUBAHAN UNTUK MERESPON KBK2004, KARENA MEREKA PARA GURU ITU BERPIKIR BAHWA HAL INI AKAN TERJADI SETIAP LIMA TAHUN DAN DENGAN DEMIKIAN DAPAT DIBAYANGKAN MEREKA BERTINDAK ADEM AYEM DAN SEAKAN CUEK DENGAN PERUBAHAN.....

JADI MENURUT SAYA ," JIKA INGIN MAJU MAKA HAL YANG PALING TEPAT ADALAH MELAKUKAN PERUBAHAN SECARA MENYELURUH TERHADAP DIRI SENDIRI MULAI DARI BERPIKIR, BERKATA DAN BERBUAT"
E-mail Pengirim: mudtta@yahoo.com
Tanggal: 23 - 10 2005


Nama: alfi yunita
Dari: padang
Saya: Mahasiswi Universitas Bung Hatta
Saran: saran saya dalam membahas KBK sebaiknya evaluasi yang ada dalam KBK juga di bahas dan apa kendalanya dalam melaksanakan evaluasi tersebut. Makasih.
E-mail Pengirim: alfi_yunita@yahoo.com
Tanggal: 24 oktober 2005


Nama: Ika.P
Dari: Malang/jawa timur
Saya: Mahasiswi universitas negeri malang
Saran: KBK mungkin dianggaap menguntungkan bagi para guru, nemun pada kenyataannya justru para gurulah yang terkadang bingung, tentang solusi menghadapinya. Banyak masalah yang timbul seiring dengan ddiberlakukanya KBK, para murid atau siswa yang berasaal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah kebingungan bagimana mereka kursus/les ddan mendapatkan buku-buku yang nantinnya digunakan dalam belajar. standar nilai UAN yang seemakin tinggi juga menyebabkan mereka putus asa sebelum menghaadapi ujian
E-mail Pengirim: fs2t_aqua@yahoo.co.id
Tanggal: 24 oktober 2005


Nama: tiyo
Dari: gadingrejo/lampung
Saya: Mahasiswa UNILA
Saran: pelaksanaan KBK disekolah selama masih kurang menampakkan hasilnya, perlu di perbaiki lagi.
E-mail Pengirim: este@plasa.com
Tanggal: 25 oktober 2005


Nama: andi handoyo,spd
Dari: temanggung/jawa tengah
Saya: Guru sma tiga temanggung
Saran: Adanya Kurikulum KBK adalah secerca jalan keluar kearah pembebasan pada paradigma pendidikan kita,maka semua yang merasa dirinya seorang guru ini saatnya kita harus berubah" paradigma meliputi: cara berpikir,metoda/strategi megajar,orentasi pemelajaran serta filosofis n sosiologis pengajarn akhirnya selamat pendidikan bagi pendidikan kita kearah pembebesan
E-mail Pengirim: andi@yahooo.com
Tanggal: 26 kamis


Nama: diaz
Dari: bekasi
Saya: Siswa SMA Islam Al-Azhar 4
Saran: Terlepas sari urusan administrasi yang sepertinya tidak dapat dikompromi di sebagian besar sekolah, untuk pengembangan KBK, saya hanya ingin menyampaikan sedikit saran :

-Yang menjadi sasaran KBK secara langsung adalah siswa, maka sebaiknya sekolah meminta masukan dari siswa tentang apa yang perlu diperbaiki dari penerapan KBK d sekolah tersebut, sehinga sasaran KBK untuk memperbaiki kualitas SDM lewat pendidikan baik kurikuler maupun ekstrakurikuler akan tercapai

-Masalah pengajar, untuk benar-benar memaksimalkan KBK dibutuhkan tenaga pengajar yang benar-benar ahli di bidangnya dan dapat mengerti kebutuhan peserta didik. Melihat kurang dihargainya tenaga pengajar di Indonesia, keinginan orang-orang yang mungkin benar-benar memenuhi kualifikasi sebagai pengajar yang baik, tidak akan berminat untuk memasuki dunia pendidikan sebagai pengajar......

-Sebaik apapun srana dan prasarana pendidikan kalua peserta didik tidak memiliki keinginan atau motivasi untuk belajar maka semua akan sia-sia saja, oleh karena itu marilah kita cari motivasi untuk diri kita masing-masing, apapun itu, untuk menambah semangat kita dalam menimba ilmu.
E-mail Pengirim: revandiaz@yahoo.com
Tanggal: 28/10/2005


Nama:
Dari:
Saya:
Saran: menurut saya memang KBK tu bisa melatih kualitas pemikiran siswa menjadi lebih matang,dewasa dan punya pemikiran ke depan yang mendasar... tetapi berdasarkan kenyataan yang dialami setelah KBK dijalankan, malah justru siswa yang banyak dirugikan, terutama bagi siswa sekolah pelopor KBK (misal : pada KBK apabila sudah mengerti bahan 1 bab, bab tersebut akan ditinggalkan, padahal nantinya kan di SPMB dan ujian akhir, bab2 tersebut akan digunakan kembali, akhirnya banyak siswa mendapat nilai buruk di akhir tahun). pada dasarnya guru di Indonesia belum siap menjalankan KBK... malah banyak guru hanya memanfaatkan siswa untuk kepentingan mereka. misal : siswa disuruh belajar sendiri sementara guru malah ke kantin, dsb padahal kan seharusnya guru siap sedia menjadi fasilitator. mungkin ini sebagian uneg2 saya, apabila ada yang salah maafin yach... makasih... n gud luck
E-mail Pengirim:
Tanggal: 29/10/2005


Nama: Kusumahadi
Dari: Malang/Jawa Timur
Saya: Guru SMAN 9
Saran: PENGERTIAN KBK YANG SALAH KAPRAH
Membaca saran-saran tentang "Mengatasi Kurikulum Berbasis Kompetensi" di Suarakita.Com" sangatlah menyedihkan. Sungguh bukan salahnya teman-teman yang memberikan saran. Tetapi benar-benar 100 persen kesalahan pihak pembuat kurikulum nasional yang memberi nama mentereng KBK. KBK tersebut sebenarnya saja bila dilaksanakan tidak ada kaitannya dengan yang namanya kompetensi. Kompetensi bahasa Jawanya adalah "mumpuni".

Siswa yang mumpuni dalam mempelajari setiap mata pelajaran, hasil akhir belajarnya akan selalu bernilai A atau 9.00 atau 10.00 murni tak peduli berapapun IQ yang dimiliki oleh siswa itu. Coba ingat-ingat: "Pernahkah seorang bayi menuntaskan proses belajar berjalannya dengan nilai kompetensi 7.50? Setiap bayi pasti menuntaskan proses berjalannya dengan kompetensi 10.00." Jadi itu adalah pelajaran pertama dari Tuhan yang diberikan kepada manusia. Begitu juga dengan yang namanya KBK. Dan itu bisa dicapai bila KBK itu memang benar-benar KBK.

Tetapi kurikulum yang namanya KBK itu bukan KBK, tetapi kurikulum paketan. Mana mungkin kurikulum paketan bisa berbicara kompetensi. Karena memang tidak ada logikanya sama sekali. Ujung-ujungnya mereka si pembuat kurikulum itu akan berkelit dengan nama "Kompetensi minimal". Akibatnya: Ebtanas atau UN atau UAN atau UNAS atau apalah namanya akan selalu dipatok dengan 4,01, atau 4,25 atau 4,51 atau entah berapa dengan soal matematika yang diturunkan tingkat kesulitannya dan itupun yang tidak lulus masih 800.000 lebih (hasil UNAS 2005).

Begitu koq masih bicara kompetensi. Sungguh omong kosong yang sangat tidak bertanggungjawab. Jadi Kurikulum 2004 seharusnya tidak usah diberi nama dengan KBK, karena itu adalah menipu dan mayoritas pengguna jasa kurikulum 2004 itu termasuk saya sudah berhasil ditipu habis-habisan dan tidak punya daya untuk menolak tipuan itu. Akan lebih jujur bila kurilkulum 2004 itu disebut dengan nama KURIKULUM PAKETAN, karena siswa dan guru memang dipaksa melaksanakan paket itu dan sampai kiamatpun tidak akan pernah bisa berkualitas. Dan itu adalah pasti seperti pastinya 1 + 1 = 2.

Kalau ingin pendidikan di Indonesia benar-benar berkualitas, maka sifat kurikulumnya bukan lagi berupa paketan dan paksaan seperti kurikulum 2004, tidak pula seperti sistem kredit paket yang diterapkan di perguruan tinggi, tetapi harus berlandaskan pada pencapaian kompetensi maksimum per pokok bahasan yang naik tingkat per tingkat. Siswa atau mahasiswa harus digali bakat dan minatnya secara profesional habis sehingga setelah menentukan pilihan jurusannya, maka jalannya akan optimal. Sementara sistem belajarnya sudah harus dengan modul. Modulnya sudah bukan seperti jaman sekolah PPSP 20 tahun yang lalu yang bertumpu pada kekuatan koqnitif saja, tetapi modul yang berupa CD atau DVD untuk explorasi kekuatan afektif dan psikomotor sudah harus dibuat juga.

Begitu juga dengan pola kerja guru atau dosen. Kalau selama ini pola kerja guru adalah mengajar, mendidik dan melatih atau hanya bermodel memberi kuliah, maka pola ini sudah harus ditinggalkan. Pola kerja guru atau dosen sudah harus langsung kesasarannya, yaitu meluluskan siswa dengan kualitas setinggi-tingginya sesuai dengan IQ siswa masing-masing. Jadi konkritnya siswa baru boleh mengambil modul berikutnya setelah modul yang sedang diambilnya berhasil dikompeteninya dengan nilai A atau 9.00 atau 10.00 baik itu di ranah kognitifnya, afektinya dan psikomotornya. Dalam hal ini guru atau dosen memang akan bekerja berlipat kali sungguh-sungguh dari pada pola sebelumnya dan berhak digaji seperti dokter, lawyer atau akuntan karena hasil kerjanya memang nyata. Jadi pola-pola lama kalau yang namanya guru atau dosen itu harus membuat silabus, penelitian-penelitian, analisis butir soal, pengabdian pada masayarakat dll., mau atau tidak ya sudah harus ditinggalkan dan harus bekerja langsung kesasaran akhir, yaitu meluluskan siswa atau mahasiswanaya dengan kualitas setinggi-tingginya.

Saya berharap teman-teman yang sudah bergabung dalam "Suarakita.Com" untuk tidak lagi merespon KBK yang sudah salah kaprah tersebut. Keruwetan itu akan semakin menjadi-jadi dan sama sekali tidak perlu untuk diterus-teruskan. Karena memang tidak ada gunanya membahas sesuatu yang pada dasarnya sudah sangat salah sekali. Tetapi sebaliknya kita kumpulkan energi kita untuk membuat kurikulum yang benar benar bagus dan punya kebenaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi yang terbaik. Jadi intinya dari sebuah kurikulum yang benar, baik, indah dan berkualitas adalah kalau kurikulum tersebut selalu memberi jalan kepada siswa atau mahasiswa atau guru untuk bisa berhasil dalam belajarnya mencapai kompetensi puncak atau kalau dalam bentuk nilai adalah A atau 9.00 atau 10.00. Tidak susah koq membuat kurikulum seperti itu, yang secara langsung atau tidak senantiasa diimpi-impikan siang dan malam oleh semua anak-anak didik kita di seluruh pelosok tanah air Indonesia.
E-mail Pengirim: kusumahadi58@yahoo.com
Tanggal: 06-11-2005


Nama: Ony Kuswara, A.Md
Dari: Palembang
Saya: Guru SMA PUSRI
Saran: Mana kurikulum untuk Teknologi Informasi dan Komunikasi
E-mail Pengirim: ony_k@stmik-mdp.net
Tanggal: 09 Nopember 2005


Nama: Sukris Priatmo
Dari: Jakarta
Saya: Masyarakat Jakarta
Saran: Saya adalah salah satu masyarakat jakarta yang cukup concern terhadap perkembangan pendidikan di tanah air...dalam kesempatan ini saya ingin lebih banyak tahu lagi mengenai sistem KBK agar pemahaman saya tentang sistem pendidikan itu lebih dalam lagi..trims
E-mail Pengirim: priat_2000@yahoo.com
Tanggal: 13 Nopember 2005


Nama: Joy Ondang
Dari: Manado
Saya: Guru SMP Negeri 1 Manado
Saran: KBK, sudah dilaksanakan terbatas pada beberapa sekolah (Piloting) dan dampaknya sangat terasa pada pencapaian standar Kompetensi (hasil belajar ) yang meningkat. Konsekwensinya adalah bahwa guru harus benar-benar berkompeten pada bidangnya sehingga mulai dari pembelajaran (pendekatan CTL), layanan pembelajaran : Remedial,pengayaan,percepatan sampai pada jenis-jenis penilaian/assesment(proses : performance test,dll) harus dikuasai guru sehingga standar kompetensi dapat terrcapai dengan memperhatikan standar ketuntasan belajar). tapi, dengan adanya PP.19 2005, BERIMPLIKASI pada KBK.

sehingga perlu ada penyesuaian kembali mengenai hal-hal yang terkait dengan penilaian pada kbk dengan standar nasional pendidikan ini. Persoalan apakah Badan standar nasional mempertimbangkan KBK, yang sudah cukup lama diujicobakan di lapangan atau justru BSNP,memiliki altrnatif kurikulum lain yang akan dijadikan acuan kurikulum nasional sampai pada kurikulum satuan pendidikan(kurikulum operasional) mengingat bahwa BSNP memiliki kewenangan mengenai penentuan Kurikulum. semoga Pemirintah, BSNP,dan semua elemen masyarakat memperhatikan mengenai kurikulum ini dan pendidikan pada umumnya termasuk kesejahteraan guru (bagaimana dengan RUU Guru dan Dosen Jadi di Undangkan atau tidak) menggu pilitic wiil pemerintahan SBY dan Legislatif untuk dapat memperjuangkan hal ini. semoga .... pendidikan Di Indonesia mendapat porsi yang lebih layak pada APBN 2006 atau sudah 20% belum..... belum!
E-mail Pengirim: joy_ondang@yahoo.co.id
Tanggal: 14 November 2005


Nama: E .sudarsono
Dari: kendari sulawesi tenggara
Saya: Konsultan kendari
Saran: KBK akan bisa dilaksanakan disekoah sebaiknya alat atau sarana dan prasarana disiapkan lebih dahulu oleh sekolah atau pemerintah seperti contoh di kendari masih banyak sekolah yang kekurangan buku diperpustakaan utk digunakan siswa dlm belajar dikelas dan masih banyak guru yang belum menguasai sistim kbk
E-mail Pengirim: ambarlintang@yahoo.co.id
Tanggal: 17 November 2005


Nama: edi pramono
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswa sanata dharma
Saran: menurut saya kbk itu sangat bagus dan sudah sangat diperlukan untukditerapkan dinegara kita. saya melihat bahwa kbk sangat cocok untuk peningkatan sdm
E-mail Pengirim:
Tanggal: 18 november 2005


Nama: Asnilawati Fitri Amsa
Dari: Aceh Singkil
Saya: Mahasiswi IAIN "IB" Padang
Saran: Menurut saya KBK tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai seperti buku-buku bacaan untuk meningkatkan wawasan guru dan anak didik mereka. Dan kalau saya lihat pada tahap pertama ini, banyak para guru dan pendidik yang tidak mengerti dengan apa itu KBK dan hendak kemana tujuan KBK itu sendiri. kadang-kadang guru hanya datang ke sekolah untuk mengajar tapi tidak untuk mendidik mereka.
E-mail Pengirim: fitri_amsa@yahoo.com
Tanggal: 20-11-2005


Nama: khairun Nizam
Dari: Pekanbaru Riau
Saya: Mahasiswa Pasca Magister Agronomi
Saran: KBK, secara teori sangat perfect, tetapi impact dan implementasi harus lah memasyarakat, artinya program ini haruslah menjadi teraju utama pendobrak peningkatan sumber daya pendidikan yang bersifat aplikatif bukan retorika saja.
E-mail Pengirim: neezam_bin@yahoo.com
Tanggal: 20-11-2005


Nama: moklas tk kartika V-20 ponorogo Propinsi: jawa timur 24 November 2005
Saya: Teacher/Guru di tk kartika V-20 Ponorogo
Di Kota: ponorogo
Topik: Lain
Saran / Informasi Saya:

siapa saja yang belum paham tentang Kbk TK dapat aku bantu dalampembahasannya gratis lo kami siap kapan saja dan dimana saja

Informasi Kontak: E-Mail: moklas20@yahoo.co.id
Telepon: 0352 489597

Nama: erawati
Dari: DKI Jakarta
Saya: Masyarakat Jakarta selatan
Saran: saya kurang mengerti masalah berbasis kompetensi apa bedanya kurikulum yang berbasis kompetensi dengan yang tidak berbasis kompetensi tolong jawabannya ya trima kasih banyak
E-mail Pengirim: Mak_eroh@yahoo.com
Tanggal: 24 Nopember 2005


Nama: Tonie
Dari: PAlembang
Saya: Staf Administrasi
Saran: Saya yakin semua yang telah dilontarkan pemerintah sudah dipikirkan secara matang, termasuk sistem Pembelajaran KBK, Tapi masalahnya... apakah pemikiran mereka itu bisa mewakili kebutuhan yang sebenar-benarnya diperlukan. KBK memang baik, tapi apakah siswa kita sudah siap...? kalo guru pasti sudah siap karena mereka lebih dienakan oleh sistem ini. Tinggal Duduk Dengar Duit di akhir bulan.... mungkin gak semua guru begitu, tapi kebanyakan begitu.

Saya pertah bertanya pada beberapa keponakan dan beberapa anak2 yang disekolahnya menerapkansistem KBK, ternyata emang begitu.

JAdi... Kalo emang mau benar2 menerapkan sistem KBK sesuai dengan yang diharapkan, mbok ya... bener2 didukung secara serius.... baik fasilitas, sumber daya manusia, dan hal2 lain yang dibutuhkan untuk terlaksananya program ini secara baik.
E-mail Pengirim: otto2000@plasa.com
Tanggal: 27 Nop 2005


Nama: sujono
Dari: banjarnegara/JATENG
Saya: Mahasiswa uny
Saran: KBK seharusnya tidak boleh terlepas dari paradigma pendidikan profetik (pendidikan yang didasari aspek transendental/hubungan Allah SWT dengan manusia0 sehingga nantinya akan melahirkan generasi bangsa yang profesional dalam kompetensinya dan memiliki jiwa/hati yangt mulia sehingga bener-bener dapat mengemban tugasnya dimuka bumi sebagai KHALIFATULLAH.
E-mail Pengirim: sujono_syuhada@yahoo.com
Tanggal: 28 November 2005


Nama: hendri
Dari: jakarta
Saya: Siswa sma40
Saran: saya setuju dengan program kbk, progranm ini membuat siswa2 jadi lebih rajin membaca tapi kualitas guru dan kedisiplinannya di tingkatkan dong! agar kualitas sdm di indonesia bisa lebih baik.
E-mail Pengirim: hendry_5@plasa.com
Tanggal: 2 des 2005


Nama: RAHMAWATI
Dari: Jawa Timur
Saya: Guru MTs. Putra-Putri Simo Lamongan
Saran: Kbk. sebenarnya sudah bagus akan tetapi banyak kawan-kawan yang masih bingung utamanya pada pengajar yang ada di pedesaan karena kurangnya sosialisasi dan kejelasan Juklaknya. Yang jelas juga Kendala fasilitas untuk sekolah-sekolah swasta, karena miringnya perhatian pemerintah antara lembaga swasta dan negeri
E-mail Pengirim: rahmabeta_79@yahoo.com
Tanggal: 03 Desember 2005


Nama: hermanto
Dari: jogjakarta
Saya: Mahasiswa uny
Saran: penerapan kbk yang sudah hampir dua tahun bergulir, sepertinya menuai berbagai macam kritikan. apakah akan berdampak positif, atau bahkan sebaliknya.

hal yang menjadi hambatan terbesar adalah:apakah pendidik sudah mampu dan siap menerapkan KBK? hal ini perlu dicermati.???
E-mail Pengirim: herman_jalal@yahoo.com
Tanggal: 04 Desember 2005


Nama: Subarja
Dari: Cirebon
Saya: Mahasiswa Malang
Saran: Kita tidak boleh melihat KBK dari satu sudut pandang saja tetapi kita lihat dari segi kedewasaan pendidikan di Indonesia ini. Bila sebuah eksperimen tidak dicobakan maka ilmuwan tidak bisa menemukan hal-hal yang baru di dunia ini.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 5-12-05


Nama: YUTINI APRILIANTI
Dari: BREBES/JAWA TENGAH
Saya: Mahasiswa UNNES
Saran: Apakah dengan diberlakukannya KBK sekarang ini akan menjamin adanya interaksi antara Dikti, Kepala Sekolah, Guru, peserta didik ataupun masyarakat pada umumnya? Dimata saya KBK adalah suatu inovasi baru yang patut dikembangkan, akan tetapi butuh waktu untuk dapat mewujudkan apa yang menjadi implementasi KBK tersebut.

Salah satunya adalah terpenuhinya fasilitas pendidikan yang memadai, namun pada kenyataannya apa yang menjadi kendala belum terentaskan dengan baik. Saran saya adalah perlu subsidi yang memadai khususnya sarana dan prasarana pendidikan untuk menunjang pelaksanaan KBK.
E-mail Pengirim: prilie_14@yahoo.com
Tanggal: 07 DESEMBER 2005


Nama: Almatsyah
Dari: Medan / Sumatera Utara
Saya: Dosen Fisip - UISU, Medan-Sumut
Saran: KBK di Medan Sumatera Utara sudah tersosialisasi, namun pengertian, manfaat dan tujuannya masih belum dipahami secara benar.

Agar KBK tercapai sesuai dengan sasaran, agar diadakan workshop atau training agar KBK dapat terlaksana sesuai dgn apa yg diharapkan. Terima kasih, Wassalam
Almatsyah, Medan-Sumatera Utara
E-mail Pengirim: almatsyah@yahoo.com
Tanggal: 08 Desember 2005


Nama: M. kholid
Dari: Lampung
Saya: Guru Metro, Lampung
Saran: KBK harus disikapi dengan kesiapan segi materi dan mental. Siap saja tidak cukup, tetapi pendukung pelaksanaan kurikulum yang memadai. kualitas SDM guru, kepedulian masyarakat, dan pemerintah.
E-mail Pengirim: kholid2005@yahoo.com
Tanggal: 8 desember 2005


Nama: Syarifudin Ali
Dari: Gorontalo/ Gorontalo
Saya: Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo
Saran: menurut saya usaha yang dilakukan pemerintah untuk mengembangkan KBK saat ini dengan melakukan Pelatihan-pelatihan sudah sangat bagus, hanya saja sebaiknya pelatihan seperti ini jangan bersifat monoton. Dalam artian, pelatihannya hanya diadakan diruangan. Sebaiknya para peserta langsung diterjunkan kelapangan begitu menerima materi secara teori dari para trainers
E-mail Pengirim:
Tanggal: 09 Desember 2005


Nama: indah permata sari
Dari: padang/sumatra barat
Saya: Mahasiswi universitas negeri padang
Saran: kbk? berhubung saya dah lulus sma, so ga takut lagi de. meski di pt kan juga ada kbk. tapi, rasanya dengan ada kbk membuat siswa lebih ga konsen dalam belajar. terlalu di hantui rasa takut. so, bisa kan pak mentri mencari solusi yang laen yang lebih pas dengan keadaan skrng.
E-mail Pengirim: zeta_proteus@yahoo.com
Tanggal: 9 desember 2005


Nama: sucipto
Dari: bengkulu
Saya: Mahasiswa bengkulu
Saran: buat saya kbk adalah sesuatu yang baru, dan saya suka sesuatu yang baru tidak ada slah nya kalau kita coba untuk mencoba sesuatu yang baru, saya suka inovasi menurut saya kbk itu tidak sesulit yang kita bayangkan asal saja kita mau melalukan inovasi saya tidak bilang bahwa kbk itu bagus tapi yang penting bagi saya adalah inovation never end. go ahead.!!!!!!!!!!! thanks
E-mail Pengirim: cipto_ok@yahoo.com
Tanggal: 9 dec 2005


Nama: Sabri. T .Solian
Dari: Nanggroe Aceh Darussalam
Saya: Mahasiswa Unsyiah
Saran: Berbicara tentang KBK, tentunya dihadapkan pada kondisional miliu itu sendiri. terutama propesionalisme dan mutu guru itu sendiri, kedua sarana prasarana yang tersedia, apakah sudah memadai sebagaimana yang dituntut kurikulum itu sendiri. Jika dua hal ini terselaraskan akan mampu menopang kelangsungan KBK itu sendiri, jika tidak kita masih dalam bentuk retorika dan rencana saja. Apalagi terjadinya kesenjangan dialami masing-masing daerah, semoga tidak memicu pada mau menang dan populer sendiri.
E-mail Pengirim: sabrits2@yahoo.com
Tanggal: 10 Desember 2005


Nama: Joko Sutrisno
Dari: DIY
Saya: Pengamat MST
Saran: KBK itu inovasi bagus dalam perkembangan kurikulum, cuma sayangnya dalam hal tertentu tetap ada saja kaitan dengan "pesanan" dari pihak tertentu misalnya SKBM harus minimal 60 padahal dalam prakteknya INTAKE dan Fasilitas sekolah berbeda sesuai dengan kondisi keuangan masing-masing. Lagian masyarakat juga belum menerima seandainya putra-putrinya ada yang gagal karena tak mampu mencapai target SKBM. Solusinya dengan remidial, tapi dasar anak kerjanya dengan mengawur, remidial beberapa kali tetap saja gagal.

Akhirnya daripada repot buat saja 60 yang penting lolos, gitu khan? Sebenarnya semuanya dikembalikan kepada jatidiri sebuah proses pendidikan bahwa gagal dan berhasil adalah hal yang biasa terjadi, namun setiap insan harus berusaha secara sadar untuk mencapai derajat berhasil tanpa adanya campur tangan pihak "katrol" dll. Ingat pendidikan adalah milik bersama, bukan milik sekelompok komponen dalam suatu sistem. Mari maju bersama dengan KBK !
E-mail Pengirim: j_sutris@yahoo.com
Tanggal: 13 Desember 2005


Nama: yts
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswa uiversitas negeri yogyakarta
Saran: menurut saya sebenarnya KBK dalam konsepnya sudah sangat bagus, namun seperti kebanyakan hal yang terjadi dan ada di negara kita ini. konsep matang dari atasan tapi dari faktor bawahan banyak yang kurang paham bagaimana cara penerapannya, sehingga kebanyakan praktek suatu kebijakan yang diterapkan diindonesia menjadi berantakan, termasuk didalamnya adalah KBK.

supaya KBK ini lebih bisa diterapkan ini membutuhkan adanya pemahaman yang lebih mendalam dari sang pendidik, termasuk untuk mengetahui bagaimana proses penerapannya yang baik.

menurut saya, yang namanya kompetensi berhubungan dengan pemahaman siswa akan suatu pelajaran, dan selama ini terbukti bahwa praktek akan lebih bisa masuk dan lebih bisa di pahami oleh siswa daripada pelajaran teori, karena disini siswa bisa memahami penerapan, aplikasinya secara langsung

semisal jika pelajaran biologi, toh gak harus ada laboratorium biologi yang canggih yang kiranya harus ada untuk mendukung pelajaran itu, tapi bisa lewat alam sekitar, misal dalam mata pelajaran metamorfosis, siswa bsia di ajari langsung dengan mencaba mempraktekkan dengan mengadakan pengamatan langsung dilapangan.

pelajaran sosiologi, siswa bisa diajar untuk melihat kebudayaan langsung disekitarnya.

pelajaran kimia, toh banyak proses kimiawi yang terjadi dialam yang bisa dipelajari.

atau bisa dibilang terapkanlah adanya metode "learning by doing"
karena pengalaman adalah guru yang paling berharga.

dalam kenyataan orang juga menjadi berhasil dalam hidupnya dengan belajar dari keadaan asli yang terjadi dilapangan, dengan kata lain adanya pengalaman,.
E-mail Pengirim: jatras_bettle@plasa.com
Tanggal: 15 desember 2005


Nama: Joko Sutrisno
Dari: DIY
Saya: Pengamat MST
Saran: KBK itu inovasi bagus dalam perkembangan kurikulum, cuma sayangnya dalam hal tertentu tetap ada saja kaitan dengan "pesanan" dari pihak tertentu misalnya SKBM harus minimal 60 padahal dalam prakteknya INTAKE dan Fasilitas sekolah berbeda sesuai dengan kondisi keuangan masing-masing. Lagian masyarakat juga belum menerima seandainya putra-putrinya ada yang gagal karena tak mampu mencapai target SKBM.

Solusinya dengan remidial, tapi dasar anak kerjanya dengan mengawur, remidial beberapa kali tetap saja gagal. Akhirnya daripada repot buat saja 60 yang penting lolos, gitu khan? Sebenarnya semuanya dikembalikan kepada jatidiri sebuah proses pendidikan bahwa gagal dan berhasil adalah hal yang biasa terjadi, namun setiap insan harus berusaha secara sadar untuk mencapai derajat berhasil tanpa adanya campur tangan pihak "katrol" dll. Ingat pendidikan adalah milik bersama, bukan milik sekelompok komponen dalam suatu sistem. Mari maju bersama dengan KBK !
E-mail Pengirim: j_sutris@yahoo.com
Tanggal: 13 Desember 2005


Nama: yts
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswa uiversitas negeri yogyakarta
Saran: menurut saya sebenarnya KBK dalam konsepnya sudah sangat bagus, namun seperti kebanyakan hal yang terjadi dan ada di negara kita ini. konsep matang dari atasan tapi dari faktor bawahan banyak yang kurang paham bagaimana cara penerapannya, sehingga kebanyakan praktek suatu kebijakan yang diterapkan diindonesia menjadi berantakan, termasuk didalamnya adalah KBK.

supaya KBK ini lebih bisa diterapkan ini membutuhkan adanya pemahaman yang lebih mendalam dari sang pendidik, termasuk untuk mengetahui bagaimana proses penerapannya yang baik.

menurut saya, yang namanya kompetensi berhubungan dengan pemahaman siswa akan suatu pelajaran, dan selama ini terbukti bahwa praktek akan lebih bisa masuk dan lebih bisa di pahami oleh siswa daripada pelajaran teori, karena disini siswa bisa memahami penerapan, aplikasinya secara langsung

semisal jika pelajaran biologi, toh gak harus ada laboratorium biologi yang canggih yang kiranya harus ada untuk mendukung pelajaran itu, tapi bisa lewat alam sekitar, misal dalam mata pelajaran metamorfosis, siswa bsia di ajari langsung dengan mencaba mempraktekkan dengan mengadakan pengamatan langsung dilapangan.

pelajaran sosiologi, siswa bisa diajar untuk melihat kebudayaan langsung disekitarnya.

pelajaran kimia, toh banyak proses kimiawi yang terjadi dialam yang bisa dipelajari.

atau bisa dibilang terapkanlah adanya metode "learning by doing"

karena pengalaman adalah guru yang paling berharga.

dalam kenyataan orang juga menjadi berhasil dalam hidupnya dengan belajar dari keadaan asli yang terjadi dilapangan, dengan kata lain adanya pengalaman,.
E-mail Pengirim: jatras_bettle@plasa.com
Tanggal: 15 desember 2005


Nama: Morse Soekendra
Dari: Surakarta / Jateng
Saya: Masyarakat Solo
Saran: Mohon kalau mau mereplika MBS atau KBK tidak harus manut UNICEF

mestinya tim R&D Diknas punya kajian mendalam tentang peningkatan sistem mutu pendidikan kita, yang tentunyad disesuaikan dengan kultur dan kebutuhan Indonesia

jadi tidak semata-mata main caplok versi UNICEF, USAID atau yang lain

mohon penjelasan

trima kasih
E-mail Pengirim: morse@inka.web.id

RE: "mestinya tim R&D Diknas punya kajian mendalam tentang peningkatan sistem mutu pendidikan kita, yang tentunyad disesuaikan dengan kultur dan kebutuhan Indonesia"

Mengapa Depdiknas sendiri senang atas bantuannya dan mau kerjasama?

Sebaiknya anda tanya langsung sama tenaga Dinas Pendidikan di lapangan.

Salam Hormat & Selamat Berjuang!
Webmaster

Tanggal: 19-Desember-2005


Nama: CECEP ANDI
Dari: TASIKMALAYA/JABAR
Saya: Mahasiswa UNIV.SILIWANGI
Saran: menurut aku kita semua tidak bisa cepet-cepet memberi penilaian A, B atau C tentang kurikulum yang berlaku sekarang. Tapi apakah kita semua mau dan rela and komitmen melaksanakan itu semua? so tunggu beberapa tahun baru setelah dianalisis kita kasih penilain itu.ok..... semua kurikulum itu sama.
E-mail Pengirim: enko_335@yahoo.com
Tanggal: 20 Desember 2005


Nama: dewinta
Dari: surabaya
Saya: Mahasiswi UNAIR
Saran: buat para guru yang masih bingung tentang silabus KBK, pusat kurikulum menyediakan contoh silabuusnya. buka aja puskur.or.id
E-mail Pengirim: kintamani84@yahoo.com
Tanggal: 20 Desember 2005


Nama: Faiha Rizal
Dari: Jakarta
Saya: Masyarakat Jakarta
Saran: Begini ya, mengenai KBK barangkali memang dapat membuat banyak orang dari kalangan pendidik menjadi bingung. KBK= Kurikulum Bikin Bingung, itu istilah yang digunakan oleh mereka yang bingung.

Kalau menurut saya, kurikulum ini sebenarnya hanyalah sebuah upaya pemerintah untuk "mewujudkan pendidikan yang mengaktifkan siswa dalam memperoleh informasi, maupun ilmu pengetahuan". Perolehan informasi, maupun ilmu pengetahuan ini diharapkan dengan tidak melulu menggantungkan pada 'pemberian/ penyajian' oleh guru, tetapi lebih pada upaya siswa, baik secara individu ataupun kelompok.

Dengan upaya yang mandiri tersebut, diharapkan, nantinya siswa menjadi terbiasa untuk bekerja sama, mandiri, berani mengatasi masalah/ memberikan solusi terhadap masalah yang mereka hadapi, baik secara bersama maupun individu (Kemampuan ini dikenal sebagai kecakapan hidup /life skills).

Menurut saya, ini prinsip utama yang harus kita pegang dalam memahami KBK. Jadi, kalau prinsip utama ini, tidak/kurang disadari oleh siswa maupun guru, maka KBK tidak akan menemui sasaran dan tujuannya.

Berangkat dari prinsip utama tersebut, bahwa KBK bertujuan mengaktifkan siswa, maka paradigma/mindset berfikir kita yang mesti kita ubah.

Bagi siswa, mereka harus mau mengubah pola berfikir dalam memperoleh informasi/ilmu pengetahuan yang semula: "cuma nrimo" dari guru, menjadi: "mau mencari/menggali sendiri atau bersama-sama dengan teman-teman siswa lainnya.", tentunya dengan bimbingan atau arahan dari guru sebagai fasilitator.

Bagi guru, paradigma/mindset berfikir konvensional masa lalu pun harus disesuaikan; bahwa, sedapat- dapatnya, konsep, teori, praktik,atau apapun model pembelajaran yang diberikan,jangan melulu menjadikan dirinya/guru sebagai pusat belajar (guru as a central teaching). Guru harus rela menempatkan diri, bahwa ketika pembelajaran berlangsung, kesan/memory/kompetensi yang diperoleh siswa akan jaauh lebih baik, jika siswa sendiri memperoleh pengetahun/ilmu tersebut, dengan cara menggali/mengalami langsung. Inilah yang dimaksudkan dengan pengalaman belajar. Jadi, dalam hal ini, peran guru tidak lagi sebagai "pengeksekusi satu-satunya" mengenai kebenaran suatu konsep ataupun teori, tetapi lebih pada bagaimana mengarahkan siswa memperoleh informasi, konsep, maupun teori dan praktik tersebut secara mandiri.

Barangkali, untuk sementara, ini kontribusi yang dapat saya sampaikan untuk mengatasi sedikit kebingungan para netter yang peduli pada pendidikan.
E-mail Pengirim: rifaiha@yahoo.com
Tanggal: 28 Desember 2005


Nama: Mohammad Sabeni Propinsi: Jawa Barat 05 Januari 2006
Saya: Dosen di Universitas Islam "45" (UNISMA) Bekasi
Saya Tinggal di Kota: Bekasi
Saran Saya:

Mohon informasi lengkap tentang KBK dan Pakem

Informasi Kontak: E-Mail: beni_064@yahoo.com
Telepon: 021 88950462


Nama: watik
Dari: situbondo/jawa timur
Saya: Guru kilensari I panarukan
Saran: tentang kbk sy masih binggung apalagi tempat sy di desa yang sosialisi tentang KBK rancu dan sedikit amburadul, apalagi dengar2 kurikulum mo di ganti lagi ato di sempurnakan ya? menjadi kurikulum 2006 wah tambah pusing dong! terutama cara-cara penilaian yang benar kalo sistemnya se sy tdk terlalu kesulitan sebab mirip banget dengan kegiatan yang diterapkan di kepramukaan yaitu mengutamakan kemandirian dan sikap yang luhur! tapi karena di tempat sy msh banyak yg simpang siur mohon bantuannya (dikirim pd e-mail kami) tentang standart penilaian, raport, aplikasi siswa di kelas dll yang berhubungan dgn kbk dan menunjang anak didik namun, jk msh akan dirubah lagi bagaimana dengan sistem yang sudah bagus tersebut.. kayaknya sy akan semakin pusing :(
E-mail Pengirim: What-is@telkom.net
Tanggal: 07-01-2006


Nama: JONES SIANTURI
Dari: SARIBUDOLOK/SUMUT
Saya: Guru SMAN 1 SILIMAKUTA
Saran: Sosialisasi tentang kbk didaerah/didesa diintensifkan.perang kbm:sillabus,evaluasi dsb. Guru-guu belum bisa membuatnya dengan baik.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 10-1-20006


Nama: Syahid
Dari: Bogor
Saya: Dosen Jakarta
Saran: KBK sebenarnya membuat guru dan peserta didik lebih kreatif, karena skenario pembelajaran tidak monoton dan pembelajaran berpusat kepada peserta didik, artinya bukan berarti guru duduk manis, justru ia harus berfikir lebih tajam karena setiap kompetensi/sub kompetensi memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga diperlukan skenario yang berbeda pula, selama ini kita lebih banyak mengajar dari pada mendidik, sehingga pendidikan di negara kita jauh ketinggalan (sekarang rangkingnya di bawah Vietnam). Ini karena kita hanya mentransfer ilmu tanpa memperhatikan aspek skill dan attitude.
E-mail Pengirim: syarif_p3gk@yahoo.com
Tanggal: 13 januari 2006


Nama: ilung
Dari: malang/jawa timur
Saya: Mahasiswa unisma
Saran: kurkulum berbasis komptesi merupakan suatu sistem dimana seorang guru yang profesioal(kreatif, komunikatif dan mampu menumbuhkan disiplin murid dalam belajar)sangat dibutuhkan dalam suatu sekolah.tanpa adanya seorang guru yang profesional penigkatan kualitas murid tidak akan terlaksana tapi yang menjadi permasalahannya sekarang adalah sangat minimnya guru yang profesional.kadang seorang mempunyai banyak ide-ide tapi tidak bisa mengapplikasikannya didalam kelas sedangkan sistem kurikulumberbasiskompetensi siswa dituntut agar lebih mandiri dan seorang guru hanya berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pemotivasi siswa dalam belajar. di dalam buku Callahan and clark mengemukakan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong bagi siswa agar lebih giat belajar. jadi seorang guru haruslah pandai2 mengerti keadaan siswa.terima kasih
E-mail Pengirim: ilunx_sb2585
Tanggal: 14-01-2006


Nama: Hartoyo
Dari: Sidoarjo/Jawa Timur
Saya: Guru SMPN 1 WARU
Saran: Belajarkan siswa untuk mencapai kompetensi
E-mail Pengirim: hartoyoguru@yahoo.com
Tanggal: 21 Januari 2006


Nama: Miftahul Djannah
Dari: Surabaya/jawa timur
Saya: Mahasiswi Muhammadiyah surabaya
Saran: saya sangat salut dengan adanya sistem KBK dengan segala jurusnya bisa membuat perubahan pada diri anak dalam segi belajar. namun yang saya ketahui sampai saat ini yang menerapkan sistem KBK, di wilayah saya justru kebanyakan sekolah swasta,bahkan sekolah negeri sendiri masih menggunakan sistem lama, jujur saja tidak banyak guru yang mengerti tentang sistem KBK, bahkan kebanyakan mereka mengeluh, karena sistemnya yang njelimet....belum lagi dari segi penilaiannya yang banyak fersi,saran saya... seharusnya pemerintah khususnya diknas lebih marak lagi mengadakan pelatihan dengan sistem KBK,karena bagaimana mau menuntun anak didik kearah yang lebih baik jika gurunya sendiri tidak paham dengan cara itu (KBK)???sebenarnya saya sendiri lebih tertarik dengan metode pembelajarannya,so.... tolong dong guru-guru kita lebih dikreatifin lagi...!!!
E-mail Pengirim: jannah_fem@yahoo.com
Tanggal: 24-01-2006


Nama: Mohamad Mbuti
Dari: Gorontalo
Saya: Siswa sma negeri 3 gorontalo
Saran: Saya rasa kurikulum berbasis kompetensi itu sangat baik.Hanya saja mampu tidak tenaga pendidik kita melaksanakannya. Buktinya masih sangat sering kami selaku siswa mendapat perlakuan yang tidak sesuai dengan perauran KBK itu sendiri. Mestinya yang menjadi perhatian utama kita adalah teacher ability untuk melaksanakannya. Saran terakhir saya agar guru-guruyang memiliki sifat-sifat arogan terhadap siswa didik dahulu agar dia bisa mendidik siswanya sendiri.
E-mail Pengirim: rikal@yahoo.com
Tanggal: 1/02/2006


Nama: Norma Sosiawan
Dari: Purwakarta, Jawa Barat
Saya: Masyarakat
Saran: Saya ayah dari dua putri yang masih sekolah di SD kelas 6 dan 1. Saya (dulu) juga seorang dosen dan sekarang eksekutif/ wirausaha. Sejak lama saya cemas melihat content dan metode pelajaran yg diterima anak-anak saya di sekolah mereka.

Saya mengamati bahwa, ada beberapa hal yang sangat tidak pas (terutama bagi klas 3 SD dan kelas-kelas di atasnya):

1. jumlah mata pelajaran yang terlalu banyak

2. jumlah kandungan per mata pelajaran yang terlalu banyak

3. jenis materi yang relatif "berat" dari setiap mata pelajaran

4. intrinsically, pelajaran SD memang berat: anak saya menggendong tidak kurang dari 3 kg buku setiap pagi!

Ditambah dengan sistem KBK, maka masalah tersebut menjadi semakin parah karena KBK (menurut saya) menuntut kemampuan ajar dan didik yang tinggi bagi para guru. Kecemasan saya terbukti, buah dari masalah content dan metode/ proses belajar di atas adalah para guru tidak sempat (/ tidak mampu) lagi memberikan dasar-dasar logika dari setiap detil pelajaran. Mayoritas pelajaran diberikan dengan sangat cepat (karena tuntutan jumlah) dan lebih menuntut hapalan daripada logika. Bahkan sebagian besar dari penyelesaian persamaan matematikapun tidak mengutamakan logika tetapi lebih berupa short cut yang harus dihapal murid! Benar-benar gila! Dan bagi saya hal tsb. membahayakan, karena sedikit sekali melatih kecerdasan analisis dan sintesis. Belum lagi mengenai peljaran moral (+agama) yang diteorikan. Benar-benar minta ampun!

Saya heran, tanpa perlu menoleh ke masa lalu atau membanding diri ke negara lain, pengamat awampun tahu bahwa menghapal sejarah hingga ke detil-detilnya tidaklah berguna (kecuali bagi spesialis sejarah), menghapal proses terjadinya hujan atau mengenal berbagai macam batuan tidaklah mudah kecuali dengan pengamatan, meneorikan pelajaran moral bahkan akan merusak moral anak-anak itu sendiri! Apa itu pelajaran kewarganegaraan? IPS yang berjubel dengan hapalan? Sains yang tidak ditunjang observasi? Agama yang menghitamputihkan A dan B tanpa teladan dari guru-guru? Hentikan!

Jangan membawa pohon ke dalam kelas, bawalah kelas ke bawah pohon.. (Rabindranath Tagore). Saya tidak mengerti, kesan saya adalah para ahli pendidikan (?) di Departemen Pendidikan ini sangat antusias untuk segera membuat anak-anak Indonesia cepat pintar, bermoral dan nasionalis dengan cara membanjiri mereka informasi dan berbagai macam problem yang tidak berdasar rasio yang proporsional dengan usia peserta didik. Instead of anak-anak semakin pintar, mereka malah stres dengan banyaknya tugas (yang tidak penting) dari para guru mereka. Sekilas mereka tahu banyak, tapi sebenarnya hanya kulit tanpa kemampuan menggali alternatif penyelesaian.

Alih-alih senang belajar, mereka malah tak punya waktu untuk bersosialisasi. Maunya bermoral dan nasionalis, tetapi kenyataannya mereka tidak mampu melakukan justifikasi moral dalam kehidupan nyata. Taruhan dengan saya, orientasi pikiran anak-anak Indonesia jaman sekarang akan cenderung materialistik, easy money, oportunis dan rentan terhadap drugs (sebagai metafora kesenangan duniawi). Mengapa? karena sekolah tak bisa menyajikan kandungan pelajaran dan atmosfer belajar yang menyenangkan, menarik dan membuat pintar (dan wise). Maka saya khawatir ini akan terjadi di Indonesia: Ingin mencari keadilan? Jangan ke departemen kehakiman. Mencari kebenaran? Jangan ke departemen agama. Mau cari ilmu? Jangan ke departemen pendidikan. Karena yang anda cari semuanya tak ada di situ. Maju terus pak Philip! Saya beserta anda!
E-mail Pengirim: norma.sosiawan@renaissance.co.id
Tanggal: 1 Februari 2006


Nama: ary purwantiningsih
Dari: Tangerang/Banten
Saya: Dosen ut jakarta
Saran: Implementasi kurukulum KBK merupakan tantangan bagi semua guru untuk meningkatkan profesionalismenya. Jika tidaka ada KBK kondisi pembelajaran di persekolahan kita hanya seperti ini maka tidak ada peningkatan dan perubahan pembelajaran yang berdampak kepada peningkatan mutu pendidikan.
E-mail Pengirim: arywanti_2005@yahoo.com
Tanggal: 02 -02 -2006


Nama: Sardjiyo
Dari: Pondok Cabe Tangerang Banten
Saya: Dosen UT Jakarta
Saran: Dengan KBK menuntut para Guru untuk berkreatif dan berinovatif, karena KBK mem-fasilitasi mereka untuk meningkatkan pembelajaran yang menarik, cerdas dan menyenangkan yang selama ini hampir dilupakan oleh teman-teman guru karena mengejar target kurikulum. Keberhasilan belajar siswa hanya ditentukan dari nilai UAS dan UAN yang nota bene menghafal soal-soal obyektif, pengalaman belajar siswa sangat tergantung oleh gurunya yang pada umumnya menggunakan metode ceramah dan jarang yang memperhatikan kemampuan awal yang dimiliki siswa. Dengan KBK, guru diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berkreasi dalam proses pembelajaran sehingga suasana belajar tidak mencekam melainkan menyenangkan bagi murid dan guru.Kelemahan KBK menuntut banyak pemikiran guru untuk berkreatif dan sedikit merogoh kocek guru dalam membuat media pembelajaran, hal ini bisa teratasi manakala pihak sekolah turut menunjang fasilitas belajar siswa termasuk didalamnya media dan sumber belajar.
E-mail Pengirim: sarjiyo_2005@yahoo.com
Tanggal: 02-02-2006


Nama: lucha
Dari: gresik/jatim
Saya: Mahasiswi UMG
Saran: KBK merupakan kurikulum yang membingungkan bagi siswa, karena siswa dituntun untuk aktif, apalagi mata pelajaran bahasa inggris siswa diharuskan aktif berbicara dg bhs tsb.apabila guru monoton berbicara full english, siswa kesusahan memahaminya.
E-mail Pengirim: luka_@plasa.com
Tanggal: 07 februari 2005


Nama: Ajeng Mahargiani Subroto
Dari: Bandung/jawa Barat
Saya: Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia
Saran: Menurut saya KBK memang terlihat sulit. tapi dari yang saya dapatkan dari dosen justru yang mempermudah KBK adalah tidak perlu semua materi diberikan kepada murid justru yang essensial dari materi itu. dalam KBK yang terpenting adalah murid yang mencari tahu dan guru sebagai fasilitator. namun bukan berarti dengan hal tersebut maka tugas guru menjadi lebih santai. dari sini dapat terlihat guru paham materi tersebut atau tidak. karena jika guru paham maka metode ceramah guru akan mendapatkan cara agar siswa tersebut paham....
E-mail Pengirim: a_subroto@yahoo.com
Tanggal: 7 Februari 2006


Nama: ana
Dari: bogor/ jabar
Saya: Mahasiswi IPB
Saran: kbk?bagus untuk sekolah2 yang unggulan dan sangat tidak efektif bagi sekolah di daerah, karena kbk memerlukan penunjang baik SDM ataupu fasilitasnya..jadi memerlukan kesiapan yang tidak sedikit..klo ada info KBK lagi email saya ya
E-mail Pengirim: ana_tep@plasa.com
Tanggal: 12 Februari 2006


Nama: jati
Dari: DKI Jakarta
Saya: Guru Sebuah Sekolah Swasta
Saran: Konsep KBK kalo dicermati sebenarnya sangat bagus buat proses pembelajaran di kelas karena lebih me"manusia"kan peserta didik. Tapi dalam pelaksanaan di lapangan banyak kendala baik di pihak guru, siswa, orang tua maupun pengelola sekolah. Di pihak guru mereka mesti merubah pola pandang mereka dalam memfasilitasi proses pembelajaran untuk siswa dari yang selama ini model instruksi ke model memotivasi. Nah...ternyata tidak semua guru mampu karena selama ini mereka sudah punya konsep bahwa pendidikan disekolah berpusat pada pengembangan kognitif, padahal siswa adalah manusia muda yang perlu dikembangkan aspek psikomotor dan afektifnya selain aspek kognitif. Jadi...ketika harus melaksanakan KBK banyak guru yang merasa berat apalagi untuk merubah pola mengajarnya padahal kalo diperhatikan sebenarnya dengan KBK guru lebih dimudahkan dalam mengembangkan inovasi pmbelajarannya. Hal itu juga bisa disebabkan karena jumlah siswa dikelas pada sebuah sekolah reguler rata-rata diatas 30 orang, sedangkan guru diharapkan harus bisa mengenal setiap peserta didik dikelas. Untuk mengurangi jumlah siswa dikelas juga bukan sebuah penyelesaian masalah karena juga menyangkut kebijakan dari sebuah pengelola sekolah apalagi sekolah swasta. Pengelola sekolah (terutama sekolah swasta) sebagai penyelenggara sekolah mesti juga dituntut untuk kreatif dalam menyediakan fasilitas dan biaya untuk mendukung pelaksanaan kurikulum KBK ini.

Peserta didik juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pelaksanaan KBK disekolah terhambat karena banyak peserta didik yang sudah terbentuk dengan pola belajar yang mesti harus "disuapin" oleh guru, karena banyak siswa diajar oleh guru yang masih menggunakan pola lama yang menjadi murid sebagai objek bukan subjek.

Sebagai pihak yang menjadi "konsumen" (selain siswa)dukungan orang tua sangat diperlukan.

Dengan demikian pelaksanaan KBK sangat diperlukan kerjasama oleh semua pihak, dan proses pelaksanaan disekolah pun juga tidak langsung begitu saja dilakukan harus bertahap.

Pihak Dinas Pendidikan juga perlu mengevaluasi terus pelaksanaan KBK sehingga penggunaan kurikulum baru bukan menjadi proyek setiap menteri pendidikan yang baru. Guru dan Siswa bukan menjadi objek eksperimen kurikulum, tanggung jawab pendidikan Indonesia menjadi tugas semua insan masyarakat bukan hanya sekolah saja. Indonesia sedang mengalami banyak krisis mulai dari ekonomi sampai moralitas...memrihatinkan, jadi mari kita semua memmbenahi bangsa Indonesia ini dengan memperhatikan dunia pendidikan bukan cuma kurikulumnya.
E-mail Pengirim: jatie_we@yahoo.com
Tanggal: 16 Februari 2006


Nama: Sriwijaya
Dari: probolinggo,jawa timur
Saya: Siswa sman 4 probolinggo
Saran: KBK ITU MEMANG BAGUS UNTUK DITERAPKAN DEMI KEMAJUAN NEGARA KITA , TAPI KALAU FASILITAS KURANG MENDUKUNG BAGAIMANA KBK ITU BISA BERJALAN? APALAGI KALAU DANA YANG DIBUTUHKAN DITANGGUNG OLEH SISWA?
E-mail Pengirim: SRIWIJAYA @ GILA.COM
Tanggal: 16 februari 2006


Nama: TRI HARTATI
Dari: PROBOLINGGO, JAWA TIMUR
Saya: Siswi sman 6 probolinggo
Saran: menurut saya sistem kbk itu banyak merugikan siswa karena penilaiannya yang subyektif jadi guru bisa memanipulasi nilai misalnya saja nilai afektif dan psikomotor siswa.
E-mail Pengirim: hartat@tv-sableng.com
Tanggal: 16 februari 2006


Nama: Beli Wayan
Dari: Denpasar Bali
Saya: Mohon Pilih Masyakat biasa
Saran: KBK ya... barang baru alias benda importan banyak bikin guru2 binging dan siswa2 juga bingung di ke banyakan daerah di negeri ini alias Kurikulum Bingung Kita,tapi ada juga enteng2 aja memahaminya alias Kurikulum Bagaimana Kite.Tapi menurut saya sehebat apapun kurikulum itu kalo tanpa kesungguhah,ketulusan/kejujuran dan kerja keras dari semua pihak akan sama saja bohongnya.Yang perlu kita cari di Negeri ini Kurikulum Berbasis Jati Indonesia itu yang mana??????.Tak usah jauh jauhlah, Yang penting itu tadi Kejujuran,Kesungguhan dan Kerja keras dari semua insan.Thanks ya.
E-mail Pengirim: suartawy@hotmail.com
Tanggal: 22 Feb 2006


Nama: jiss
Dari:
Saya: Rektor unimed
Saran: perubahan kurikulum '94 menjadi KBK atau apapun namanya sebenarnya tidak masalah itukan hanya soal nama, tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana membuat kurikulum itu menjadi pendorong kemajuan bagi mutu pendidikan dan bagaimana dengan standar-standar yang harus ada misalnya standar sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Jadi jangan terlalu tolol untuk mikirin nama deh dan menjadikan nama menjadi kambing hitam kalau boleh buat aja namanya jadi' kurikulum tak bernama' asal mampu meningkatkan pendidikan kita.oche
E-mail Pengirim: JISS300383@yahoo.com
Tanggal: 24-02=2006


Nama: Wulan Prnamasari
Dari: Pontianak/KALBAR
Saya: Mahasiswi Universitas Tanjungpura
Saran: KBK yang dicanangkan di berbagai sekolah maupun perguruan tinggi seakan-akan menginginkan perubahan yang besar. Padahal hasil dilapangan tidak sesuai dengan yang diharapkan,karena kurikulum kbk ini tampak tergesa-gesa. Perbaikan signifikan terhadap kualitas SDM yang dihasilkan sulit tercapai. Perlu pemantapan isi, proses dan sarana terlebih dahulu sebelum dipraktikkan dilapangan.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 26 Februari 2006


Nama: Hambali
Dari: Bireuen NAD
Saya: Masyarakat NAD
Saran: KBK masih dalam kontek Kasih Buku Kerjakan, belum semua guru memahami dengan sempurna hal ini sangat tergantung pada kompetensi dan karakteristik guru
E-mail Pengirim: hambal_comes@yahoo.com.hk
Tanggal: 1 Maret 2006


Nama: Elaine
Dari: Jambi
Saya: Siswi SMA Jambi
Saran: memang secara theory KBK tuh merupakan kurikulum yang bagus. tapi kembali lagi ke sisi kesiapan bangsa kita. udah siap? fasilitas?udah memadai? jangan samakan dong negara kita dengan negara2 maju yang udah nerapin KBK n akhirnya berhasil! jangan samakan Indonesia dgn Amerika! di Indonesia ini bidang study yang di pelajari jauuuuuh lebih banyak dari pada di amerika sono.

murid Indo di tingkat SMA contohnya, siswa di'tumplek'in belasan mata pelajaran, puluhan kompetensi dasar yang harus di tuntas kan. sedangkan siswa high school di amrik sono diberi kebebasan memilih mata pelajaran yang memang sudah menjadi minat mereka. jadi bagi mereka yang emang minat nya ke math,science,ato arts orientasi pembelajaran mereka udah jelas. Kalo emang 'mau' menerapkan KBK 'beneran' ya jangan setengah2 lah... penerapan KBK yang amburadul saat ini menjadi cermin betapa amburadulnya negara kita.

maksudnya mau 'Ngikutin' gaya amrik tapi terkesan hanya "ikut-ikutan".Sungguh kasihan...Please deh,murid bukanlah kelinci percobaan.. Saya pribadi, pusing membagi2 otak saya, begitu juga dengan teman2 saya. ditumplekin berbagai kompetensi dasar, ngikutin remedial segala macem.setiap hari mikir tugas2 sekolah. kalau semua murid begini, gimana caranya mau berorientasi ke minat dan bakat seorang siswa?

dengan KBK, siswa terkesan di'paksa' untuk dapat menguasai seluruh bidang, jika tidak?yah tidak tuntas toh... apalagi dengan peraturan pemerintah yang baru : Di raport semester 1+2, jumlah yang tidak tuntas maksimal 3. hal ini ngga masuk akal banget, kembali lagi ke pernyataan awal saya "tidak semua siswa itu mampu menguasai segala bidang",

contohnya saja seseorang ini brilian sekali dengan ilmu eksak(mtk,ipa) tetapi ia lemah dalam bahasa inggris dan penjaskes, sehingga 2 semester ia tidak tuntas dalam 2 mata pelajaran tersebut, jadi jumllah tidak tuntas-nya dalam 2 semester adalah 4 mata pelajaran (2 bhs ing,2penjaskes) pertanyaan saya, pantas kah ia untuk tinggal kelas? sekali lagi, hal ini sangatlah tidak adil, mungkin emang ia tidak berbakat dalam bidang olah raga ataupun bhs inggris, tetapi emang nya kalau udah gede nanti ia ingin menjadi seorang olahragawan atawa ambassador? enggak toh? jadi menurut saya, peraturan ini malah mem-forbid kemampuan muridnya, bukan nya mendorong murid tsb supaya lebih maju.
E-mail Pengirim: averyll_tan@hotmail.com
Tanggal: 8 maret 2006


Nama: PKBM Dewi Fortuna
Dari: Klaten - Jawa Tengah
Saya: Masyarakat Klaten
Saran: Rasanya menarik juga mencermati setiap Ide atau gagasan yang meletup dari ratusan kepala penghuni bumi Nusantara ini, mengenai KBK, yang jelas saya juga ingin meletupkan isi kepala sya mengenai KBK tapi jelas kami sebagai orang awam yang tidak fasih bertulis dan berpikir dan sederhana saja, APAPUN KURIKULUMNYA, BAGAIMANA SISTEMNYA, BAGAIMANA CONTROL EVALUASINYA SEPANJANG BANGSA INDONEISA MULAI MENINGGALKAN BUDHAYA DAN SENI AGRARIS anak-anak didik kita tak akan menuai hasil apapun dari Pendidikan selain kebohongan material dan batiniah yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari non lingkungan sekolah. jika saja KBK ini diselenggarakan secara serempak disemua sektor kehidupan masyarakat utamanya TV bukan ttg pembelajaran tapi ROH Pendidikanya insya Allah, Semoga dan Puji Tuhan semua akan menjadi lebih baik

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat DEWI FORTUNA KLATEN
E-mail Pengirim: pkbm_art@yahoo.co.id
Tanggal: 17-02-2006


Nama: Doel
Dari: jogja
Saya: Mahasiswa jogja
Saran: hendaknya dalam pelaksanaan kurikulum KBK semua ranah harus diperhatikan, maksudnya adalah tidak hanya ranah kognitifnya saja yang di perhatikan, sepert kurikulum sebelum KBK (Kurikulum 1999)
E-mail Pengirim:
Tanggal: 14 maret 2006



Ke Halaman 7 >>

Kembali ke Halamam Utama