|
Saran Anda
Nama: irsan Dari: jakarta Saya: Mahasiswa UIN Jakarta Saran: Saya bingung dengan pejabat kita. katanya kebijakan KBK mau dirubah kembali. alasannya karena dianggap tidak jelas. dll. saya pikir itu hanya ego sekelompok orang yang ingin namanya dicatat sebagai pengubah kebijakan. tapi kita-kita yang jadi korban. bukankah lebih baik menyempurnakan tanpa harus mengubah substansi KBK. Kalau begini terus kapan kita bisa melihat hasil sebuah kebijakan. mudah-mudahan orang yang diberi tugas untuk mengevaluasi kurikulum tersebut tidak mementingkan ego mereka. kalau tidak nanti akan ada dendam dari para pembuat kebijakan sebelumnya. jika ini terjadi, siap-siap saja kalau-kalau nanti orang-orang yang dulunya menyusun KBK dapat kesempatan kembali untuk mengevaluasi kurikulum. mereka tidak akan segan-segan mengatakan bahwa kurikulum yang sedang digodok sekarang sebagai sampah! E-mail Pengirim: irsan_m2@yahoo.com Tanggal: 16-3-2006
Nama: Dandung Dari: Tulungagung/Jawa Timur Saya: Pengamat Tulungagung Saran: pemberdayaan kepala sekolah di setiap lembaga pendidikan menjadi sentral karena basic kompetensi itu terlebih dahulu harus dipunyai oleh para pemegang kendali hingga persoalannya sudahkah para kepala sekolah tersebut mampu menggal;i potensi sekolah dan lingkungannya supaya saling memberikan kontribusi yang positif menuju kemandirian sekolah sesuai dengan desentralisasi pendidikan yang telah dicanangkan pemerintah, dalam hal ini antara sekolah dan komite harus terjadi saling menmgisi, saling koreksi menuju kepentingan bersama tanpa saling menyalahkan sehingga terwujud adanya independensi sekolah dalam memanage pendidikannya selaras dengan kebutuhan masyarakat yang ternyata lebih setuju adanya peningkatan kualitas pendidikan E-mail Pengirim: dandung06@yahoo.co.id Tanggal: 21 Maret 2006
Nama: wawan Dari: semarang / jawa tengah Saya: Mahasiswa semarang Saran: ga usah di berlakukan!!! E-mail Pengirim: wanvallrose_e4@yahoo.com Tanggal: 23 maret 2006
Nama: Ma'rifatul Mubin Dari: Kalimantan Timur Saya: Siswa SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang Saran: KBK adalah suatu terobosan dan fakta kepedulian pemerintah terhadap dunia pendidikan. Itu mutlak adanya.
Yang jadi masalah adalah penerapan dan kesiapannya. Sekolah di Jakarta jelas berbeda menafsirkan dengan sekolah yang berada di daerah. Karena menurut saya, isi KBK itu sendiri sangat baik. Kabarnya, kurikulum ini disaring dari kurikulum pendidikan di luar Indonesia.
Harus ada pro aktif pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat, karena jujur saja, saya merasa pemerintah di daerah pun sama "ternganganya" dengan guru-guru lain yang notabene harus mendapat penjelasan dari pemerintah daerah.
Jangan sampai terjadi banyak ketidaklulusan para siswa karena kebingungan para pendidik. Jangan sampai kami menjadi korban, karena apapun kurikulumnya pasti kami juga yang mau tidak mau harus menerima. E-mail Pengirim: maz_arief@plasa.com Tanggal: 28/03/2006
Nama: chuzaimah Dari: pasuruan/jawa timur Saya: Siswa SMAN 2 Saran: kualitas pendidikan di Indonesia tidak akan bisa meningkat selama sistem pendidikannya masih bersifat semu. bayangkan saja kalo guru kita dituntut untuk memberikan totlitas dalam profesinya sedangkan mereka harus cari ceperan lain untuk menghidupu keluarganya? lalu bagaimana mereka bisa bekerja dengan optimal.boro2 nyuksesin sistem kbk, wong program wajib belajar sembilan tahun saja gagal? gimana para peserta didik bisa menikmati rasanya belajar di sekolah, kalo biaya pendidikannya selangit? lalu bagaimana mereka harus belajar dengan berbagai media pengajaran yang canggih untuk menunjang kegiatan belajar mereka kalo bangunan sekolah saja udah mau roboh? trus sampai kapan kita akan mengeluh seperti ini?-_^ E-mail Pengirim: choezy_me@yahoo.com Tanggal: 28 Maret 2006
Nama: Marilyn Dari: Kendari / Sulawesi Tenggara Saya: Siswi SMAN 1 Kendari Saran: KBK itu sebenarnya bagus, karena sifatnya lebih efektif dibanding kurikulum 94. Tapi yang bikin susah itu karena guru2 kurang paham apa yang terbaik dilakukan untuk menunjang kurikulum ini. Jadi sebaiknya guru-guru dapat diarahkan sehingga dapat memberi kiat yang jitu ke muridnya-muridnya. Thanks =) E-mail Pengirim: lhienlovely@yahoo.com Tanggal: 30 maret 2006
Nama: Maureen Dari: Jawa Timur Saya: Dosen UNESA Saran: KBK tampil dengan keyword kompetensi. Dalam pelaksanaannya yang ditekankan bukan hanya kompetensi siswa, tapi juga guru. Menurut pendapat saya, untuk melaksanakan KBK tidak perlu menunggu kelengkapan fasilitas, sarana, prasarana, ataupun apa saja yang sudah ditulis teman-teman diatas, justru KBK meminta kita sebagai guru/dosen untuk, dengan kreatif, lebih mengenal diri kita (potensi mana yang bisa kita kembangkan) dan sekolah/institusi (apa fasilitas yang ada & bgmana meng-explore/mengembangkannya sbg sumber belajar)ngkin bisa dikembangkan suatu gathering sebagai FOLLOW UP dari pelatihan2 yang selama ini sudah dilakukan, hingga MBE Project (maaf saya belum membaca detail proyek ini) bisa memberikan feedback kepada guru, bukan hanya pelatihan saja, karena bagaimanapun juga pelatihan guru juga harus dengan KBK, bukan? E-mail Pengirim: iymaureen@yahoo.com Tanggal: April 1, 2006
P align=justify>Nama: ALEXA Dari: MEDAN/SUMUT Saya: Siswi SMA ST.THOMAS 2 MEDAN Saran: KLO MENURUT AKU SISTEM KBK ITU ADA ENAKNYA JUGA COZ DISINI KITA DIAJAK UNTUK BERUSAHA SENDIRI.YANG MAU BERUSAHA PASTI MENDAPAT,DAN YANG MALAS BAKALAN TERTINGGAL.TAPI KLO KBK KEBANYAKAN TUGAS,SAMPE2 WAKTU UJIAN PUN TUGAS YANG DIKASIH GURU BERTUMPUK.KADANG AKU BINGUNG TUGAS MANA YANG MAU DIKERJAIN KRN KEBANYAKAN TUGAS.TAPI KBK ITU BAGUS KOQ KLO KITA BENAR2 MENJALANKANNYA.POKOKNYA SEMANGAT BELAJAR YANG PERLU DAN RAJIN BERUSAHA. E-mail Pengirim: GLADYSS_CUTE@YAHOO.COM Tanggal: 3 APRIL 2006
Nama: Andreas dan Wie Lie Dari: Suarbaya/Jawa Timur Saya: Siswa SMAK Stella maris Saran: KbK membikin repot. Pendidikan di Indonesia masih belum bisa memenuhi standar mutu pendidikan internasional.Indonesia masih kalah dengan India. UNAS sebaiknya ditiadakan karena tidak bisa di anggap sebagai tolak ukur pendidikan nasional. E-mail Pengirim: Engkong_mambu@yahoo.com Tanggal: 050406
Nama: andrew sudians Dari: pontianak Saya: Konsultan masyarakat ketapang Saran: plesetan dari kbk (kurikulum berbasis kebingungan), nantinya rakyat menjadi bingung dengan sistem pendidikan yang terkesan selalu berubah-ubah nanti muncul lagi kurikulum 2006 modelnya seperti apa lagi, seharusnya buat para praktisi pendidikan di pusat setiap penggantian kurikulum pendidikan mohon diberi pelatihan/penataran kepada guru-guru di pedalaman baik itu di ketapang kalbar atau daerah-2 terpencil lainnya yang kebanyakan menjadi bingung, atau berikan modul-2 buat guru-2 kita... E-mail Pengirim: kayung.com Tanggal: 7 april 2006
Nama: srinatun munawwaroh Dari: semarang Saya: Mahasiswi unnes Saran: tolong kurikulum kbk jg disepelekan, sebab kita semua sudah berusaha menyempurnakan. lagi pula kita tahu bahwa imbas dari baik buruknya kurikulum adalah ke kita sendiri. jadi dari kita untuk kita sampai kita. Jadi kalau ada kekurangan mari kita benahi bersama. ok E-mail Pengirim: srinatun06@yahoo.com Tanggal: 10 April 2006
Nama: Sugeng Putranto Dari: Yogyakarta/DIY Saya: Guru Yogyakarta Saran: KBK dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru yang mempunyai pemahaman yang benar sekaligus mampu melaksanakan syarat-ayarat suasana kondusif/kasih dialogis dalam tugasnya.Guru bukan sebagai juragan ilmu dan anak didik yang menerima,tetapi justru sebagai rekan kerja yang dapat diakomidir bagi anak didik untuk mejadi pintar mengembangkan ilmu menjadi bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa yang takut akan Tuhan. E-mail Pengirim: genksoe_007@yahoo.com Tanggal: 10 April 2006
Nama: ANSOR & EKA Dari: SERANG-BANTEN Saya: Siswa SMK SETIA BUDHI Saran: KBK MEMANG BAGUS BIKIN KAMI BELAJAR HEPPY, TAPI BISAKAH KBK DITERAPKAN DI SELURUH LAPISAN PENDIDIKAN, CONTOHNYA SISTEM KBK DI TINGKAT SD DI DESA YANG NOTABENE PARA GURUNYA BELUM TAHU APA ITU KBK ! DAN BAGI MANA METODE KBK ! YANG AKHIRNYA KBK ITU BIKIN KE BLINGER. APAKAH KBK ITU SUDAH DI DI UJI COBA DI DAERAH PEDESAAN ? SAYA RASA KBK HANYA DI TELITI DI DAERAH KOTA-KOTA SEDANGKAN DI PEDESAAN BELUM PERNAH DIBERI PENGARAHAN TENTANG KBK.
DAN MUNGKINKAH KARENA KWALITAS PARA GURU DI PEDESAAN YANG BELUM SESUAI DENGAN TUNTUTAN KBK SEHINGGA KBK TIDAK BISA DI TERAPKAN E-mail Pengirim: urangcatang@yahoo.co.id Tanggal: SENIN, 17 APRIL 2006
Nama: Drs. Rasoki Lubis, M.Pd Dari: Padang/ West Sumatera Saya: Pengamat LPMP Sumbar Saran: KBK dapat saja kita terapkan, tetapi kita harus siap menerima perbedaan. Jangan berharap untuk menseragamkan perlakuan terhadap sekolah-sekolah kalau kurikulum berbasis standar kompetensi mau diterapkan. Paling penting tentunya perlu perbaikan mental bagi orang-orang yang terlibat dalam pengambil kebijakan, agar mereka melakukan sesuatu tidak untuk kepentingan sesaat. Sebenarnya perbaikan kualitas pendidikan kuncinya salah satu adalah bagaimana guru di dalam kelas dapat mengajak siswa untuk mau belajar.
Jadi sebenarnya kita tidak perlu cemas dengan perubahan-perubahan kurikulum, tetapi yang penting bagaimana kita dapat memberdayakan guru sehingga mereka betul-betul mempunyai motivasi yang kuat untuk terus melakukan perbaikan pembelajaran. Dalam konteks ini tentunya komitmen tenaga kependidikan untuk dapat dan mau melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, Trims. E-mail Pengirim: bang_lubis_19661004 Tanggal: 17 April 2006
Nama: nanang Dari: jogjakarta Saya: Mahasiswa UAD Saran: saya turut prihatin dengan pendidikan di indonesia sekarang ini, kurikulum selalu berubah, standar UN yang menyesatkan karena banyak siswa yang kurang siap menerima beban itu. oleh karena itu saran saya "mbok" pemerintah lebih jeli mencermati fenomena yang ada. E-mail Pengirim: malam_ini2001@yahoo.com Tanggal: 18 april 2006
Nama: christian handry sorongan Dari: jayapura-papua Saya: Siswa abepura-papua Saran: jika memang sistim kbk adalah suatu tujuan pembelajaran kompetensi bagi para siswa-siswi harusnya para assesor harus lebih memahami dalam pemberian tugas kompetensi kepada siswa supaya kompetensi akan semakin dimengerti oleh siswa dan siswi.jangna hanya sekedar pemberian tugas atau penilalian sedangkang guru saja masih perlu belajar banyak.jadi singkat saja,kompetensi harus betul-betul kompetensi. E-mail Pengirim: chris_slickstone@yahoo.com Tanggal: 18-04-2006
Nama: Surya Dari: Yogyakarta Saya: Siswa Salah satu sma di Yogya Saran: Menurut saya KBK ada sisi baik dan buruknya.
Semua itu tergantung pada guru dan siswa yang menghadapinya.
Tapi kebanyakan banyak siswa yang tidak siap menerima kurikulum baru ini, jadi guru harus belajar bagaimana caranya agar siswa ditahun-tahun berikutnya siap untuk menjalani kurikulum baru ini!!! E-mail Pengirim: aku_jbl@yahoo.com Tanggal: 18-04-2006
Nama: Diman Asnawi Dari: Tapaktuan/ NAD Saya: Guru SMP N 2 Pasie Raja Saran: Sebaiknya untuk tiap-tiap sekolah di sediakan peralatan penunjang pelajaran bahasa ingris, seperti ear phone, ini dimaksukan bukan cuman untuk sekolah tingkat atas. karena bagaimanapun para siswa juga harus mendengarkan cara mengucapkan (pronounciation) bahasa ingrish. E-mail Pengirim: nawi_oyy@yahoo.ca Tanggal: 01 Mei 2006
Nama: Mislina Dari: Padang / Sumatera Barat Saya: Guru SDN 28 Rawang Timur Saran: Menurut saya selaku guru SDN, kurikulum berbasis kompetensi (KBK) ini, terlalu banyak penilaiannya. Padahal kalau untuk SDN, KBK ini terlalu rumit. Misalnya penilaian pada kelas I SD. Sebaiknya pemerintah memikirkannya lagi. E-mail Pengirim: Tanggal: 7 Mei 2006
Nama: jamilah Dari: medan/ sumatera utara Saya: Mahasiswi iain sumatera utara Saran: yang perlu diberikan KBK itu pertama kali adalah Guru.Karena merekalah yang akan memberikan pendidikan kepada anak didik.Sebelum anak didik mendapat pendidikan berdasarkan kurikulum berbasis kopetensi.INGAT,"GURU KUNCI TUNGGAL KEBERHASILAN PENDIDIKAN ANAK.JADI GURU HARUS JUGA BELAJAR TENTANG Kurikulum Berbasis Kopetensi.jangan hanya memberi pelajaran,tapi tidak menguasai materi. E-mail Pengirim: www.meonnng@yahoo.com Tanggal: 9 mei 2006
Nama: ega Dari: malang Saya: Mahasiswa FT-UM Saran: Menurut saya KBK sangat perlu diterapkan di indonesia karna kita semua tahu bahwa pendidikan di indonesia hanya "jalan di tempat" bahkan indonesia sudah tertinggal jauh dengan negara tetangga ,hal utama yang mendukung terlaksananya KBK dengan baik yaitu adanya niat untuk maju dari para peserta didik ,serta keseriusan pendidik dalam melaksanakan KBK ,dengan diterapkan nya sistem KBK kita semua berharap dapat memperbaiki pendidikan dinegara ini secara merata kususnya untuk daerah diluar jawa E-mail Pengirim: egaaaaaa@yahoo.com Tanggal: 10 mei 2006
Nama: gusnetti Dari: padang sumbar Saya: Mahasiswi unp padang Saran: Saya menyarankan agar kurikulum kbk dapat dijiwai oleh setiap pendidik yang ada di setiap sekolah. Selain itu saya memohon kepada para pendidik yang mengikuti pengarahan dan seminar tentang kbk dapat mensosialisasikannya kepada para pendidik yang lain. Mari kita sambut kbk dengan penerapan multiple intelligences dalam sistem pembelajaran E-mail Pengirim: gusnetti85@yahoo.com Tanggal: 12 mei 2006
Nama: Asromi Bukroni,S.Pd Dari: Kayuagung. Kab. OKI Saya: Guru sman 3 unggulan Kayuagung. OKI. Sumsel Saran: Terlaksananya KBK dengan baik dan benar apabila segala unsur-unsur penunjang untuk siswa dan guru telah terpenuhi dengan baik. karena kalau kita mengajar terus menjelaskan siswa tidak ada buku penunjang maka Istilah KBK tidak tercipta E-mail Pengirim: asromi@smun.zzn.com Tanggal: 17 Mei 2006
Nama: nurhayani Dari: DKI JAKARTA Saya: Siswi SLTPN 147 Saran: dengan adanya kurikulum berbasis kompetnsi ini siswa lebih merasa bebas untuk mengaspirasikan pendapat. E-mail Pengirim: Deadpangirl@yahoo.com Tanggal: 18-05-2006
Nama: Agus Ikhsan,SPd Dari: Balikpapan Saya: Guru sman 2 Balikpapan Saran: kbk merupakan kurikulum yang lengkap , ada penilaian kognitif yang berhubungan dengan kemampuan kecerdasan dan pengetahuan siswa , psikomotorik yg merupakan kemampuan siswa dalam mempraktekkan kemampuan kognitifnya serta afektif yang merupakan minat dan sikap seorang siswa dalam terhadap pelajaran yang ditekuninya, namun masih banyak guru yang menerapkan ketiga alat ukur diatas dengan asal - asalan , mereka masih terpaku dalam penilaian kognitifnya saja , sedang kemampuan psikomotorik dan afektif masih belum mempunyai alat ukur yang jelas dalam penilaiannya , utk itu saya berharap pihak diknas utk mensosialisasikan dengan gamlang dan sejelas jelasnya mengenai hal ini , instrukturpun masih belum paham tentang hal ini , jadi gimana penyelesaian tentang hal ini ? E-mail Pengirim: agus_ikhsan66@yahoo.co.id Tanggal: 21 Mei 2006
Nama: hera Dari: mataram/NTB Saya: Mahasiswi universitas mataram Saran: KBK menurut saya pribadi merupakan kurikulum yang jika berhasil dilaksanakan di Indonesia, maka akan sangat membantu majunya kualitas pendidikan kita. tapi sayangnya masih banyak hal-hal yang belum dipersiapkan oleh sistem kita. mata pelajaran di sekolah masih tetap banyak. padahal tidak semua pebelajar mampu menguasai kompetensi sosial dan sience secara bersamaan. ada yang lebih cenderung pada bidang sosial, contohnya bahasa dan seni. ada pula yang memiliki kelebihan di bidang sience. jadi agak sulit rasanya jika mereka dipaksa untuk menguasai keduanya. jadi mohon agar mata pelajarannya dulu yang dispesifikasikan sehingga kompetensi mudah dicapai. selain itu jumlah siswa dikelas sebaiknya dikurangi agar guru lebih mudah mengawasi siswanya. terima kasih E-mail Pengirim: mony_scent@yahoo Tanggal: 21 Mei 2006
Nama: Asfiandy Dari: Makassar Saya: Mahasiswa Makassar Saran: Menurut saya KBK itu Penting bagi tenaga pengajar dan pelajar, tapi kurangnya sosialisasi untuk KBK jadi salah satu faktor penghambat penggunaan KBK pada sekolah-sekolah, saya harap pemerintah peduli !!!!!!!!!! E-mail Pengirim: n_dyes@yahoo.com Tanggal: 22 Mei 2006
Nama: Clarashinta Dari: DKI Jakarta Saya: Siswi SLTP 115 Saran: ga papa sih ada kbk, malah bagus. tapi gw malah kesusahan. tapi kbk bikin orang semangat belajar. gw yang dulu ga bisa matematika, sekarang jadi bisa E-mail Pengirim: she_hades@yahoo.com Tanggal: 24 mei 2006
Nama: Nurliana Dari: Banda Aceh/NAD Saya: Mahasiswi Unsyiah Saran: setidaknya masing-masing sekolah memiliki pedoman terhadap pelaksanaan KBK saat ini. karena masih banyak guru-guru yang berlum mengerti akan peranan dan pelaksanaan KBK itu sendiri di sekolah. seperti penentuan SKBM dari penilaian afektif, kognitif dan psikomotor yang sesuai dengan kriteria yang harus dinilai dalam KBK. E-mail Pengirim: lia_616@yahoo.co.id Tanggal: 27 Mei 2006
Nama: sumargono Dari: solo Saya: Kepala Sekolah darma bakti lab school Saran: KBK adalah sesuatu yang harus difikirkan, dipahami dan diterapkan bukan hanya diomongkan agar supaya dapat terlihat output dari implementasi KBK tsb. E-mail Pengirim: buyung1504@yahoo.co.id Tanggal: 5 juni 06
Nama: CAK SHOLEH Dari: JATIM Saya: Dosen SIDOARJO Saran: Bila KBK itu tujuanya menggali kopetensi siswa seharusnya tidak perlu ada standard penilaian UAN/UNAS yang sifatnya pemaksaan seperti itu contoh misalnya dalam pembelajaran Bahasa inggris seharusnya kopetensi yang digali,siswa harus bisa bicara dalam proses belajar tsb, sedang nilai paksaan pada UNAS tidak perlu ada,sebab kalau siswa ditarget nilai UNAS pola pikirnya pasti kearah nilai dan cara belejar bagaimana mendapat nilai yang dapat lulus,akhirnya cara belajarnya hanya trik-trik menjawab soal-uan yang dia pelajari sehingga tuan pembelajaran untuk menggali kopetensi tidak terwujud. Mingkin nilai UNAS bagus tapi siswa tetap tidak bisa komunikasi dg bahasa yang dipelajari. Jadi saran saya,kalau mau menerapkan KBK tidak usah ada UNAS E-mail Pengirim: www.sholran m @. yahoo,com Tanggal: 5 JUNI 2006
Nama: ismi Dari: malang Saya: Mahasiswi Saran: banyak sekal perdebatan yang terjai nmnya juga manusia mengapa kita tidak mengambil hikmah dari segal yng tlah terjadi? mengapa harus saling menyalahkan? toh! tujuan kita semua sama "ingin memperbaiki pendidikan indonesia" kbk atau apapun itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya. kehidupan selalu memberikan sesuatu yang berarti bagi kita!
sekarang KBK mau diganti dengan kurikulum 2006, kira-kira apa aja ya isinya? informasinya sich! sama aja kaya KBK cuman ada beberapa yang dirubah? benar begitu....? E-mail Pengirim: a_K2C@yahoo.com Tanggal: 8 juni 2006
Nama: mAyAng Dari: SemArAng Saya: Siswi ..... Saran: ..
,,,,tAu siH TAU,,TeNtAnG aDaNyA kBk.....,,tApI GuRu JaNgAn mAen LePaS TaNGaN GtU,,yAnG sAyA ALami,,sAYa MaLah ngedOwn,,uDh bLjR Ndiri(kBk),,UdAh gitu kLo gA BIsA D MaRahin,,
sETiaP AnAK MeMPuNYai pERpUtArAn oTaK YaNg BeRBeDA-BEDa
GuRu iTu bUkAn hAnyA SekEdAr mAngAjAr kAn,,tEtaPi jUGa MeNdidiK!!!
... E-mail Pengirim: myg_lovers52@yahoo.com Tanggal: 08 juni 2006
Nama: Bambang Sukoco Dari: Saya: Masyarakat Cilegon Saran: Perlu lebih disosialisasikan lagi jangan hanya melalui penataran, pelatihan yang hanya bisa diterima Guru, kalau perlu orang tua muridpun diberikan pengetahuan tentang KBK ini. mereka juga perlu diberitahukan apa itu KBK. terima kasih. E-mail Pengirim: Tanggal:
Nama: dyah Dari: malang Saya: Mahasiswi UM Malang Saran: Emang se KBK banyak kelebihan,tp pelaksanaan KBK belum maksimal di negara kita.Mungkin tujuan KBK akan tercapai klo pemerintah lebih memeratakan sarana dan prasarana di sekolah2 di Indonesia. khususnya di daerah yang terpencil. mereka sangat membutuhkan sarana. gimana mau KBK lha wong sarana ga ada... E-mail Pengirim: Tanggal: 13 mei 2006
Nama: Haryati .S Dari: semarang/jawa tengah Saya: Mahasiswi ikip pgri semarang Saran: Kbk why not?Tapi sayangnya,banyak guru yang masih belum tau tentang bagaimana cara menerapkannya dalam PBM. E-mail Pengirim: harya_cntk@yahoo.com Tanggal: 17 juni
Nama: Liya Dari: semarang/jawa tengah Saya: Mahasiswi ikip pgri semarang Saran: SEBAGAI MAHASISWA FPIPS SAYA SUDAH CUKUP DIBEKALI TENTANG KBK,TETAPI SAYA MASIH BELUM PUAS KARENA MERASA BELUM MENGUASAI.UNTUK ITU MOHON SOSIALISASI KBK LEBIH DIPERBANYAK.
E-mail Pengirim: rotan_mns@yahoo.com Tanggal: 17 juni
Nama: Marjuki, S.Pd. Dari: Serang/Banten Saya: Kepala Sekolah SDN Mendaya 3 Saran: Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan Kurikulum Pendidikan yang memuat kompetensi yang harus dicapai oleh para siswa/pelajar. Padahal, Kurikulum 1968, 1975, 1984, 1994 (Suplement) telah memuat kompetensi. Tidak ada satu pun kurikulum yang tidak memuat kompetensi.
Setiap perubahan kurikulum selalu dengan alasan kurikulum yang lalu kurang baik atau kurang sempurna. Indonesia, sejak kemerdekaannya, setidaknya telah melakukan perubahan kurikulum lebih dari lima kali. Perubahan tersebut dengan alasan sebagaimana telah dikemukakan.
Jika dicermati, kelemahan kurikulum bukanlah semata-mata pada isinya, namun lebih pada pelaksanaan kurikulum itu sendiri. Sebaik apapun kurikulum yang disusun, jika pelaksanaannya tidak sesuai dengan harapan kurikulum tersebut, maka hasil yang akan diharapkan pun tidak akan tercapai.
Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) telah dimulai sejak tahun 2001, baru dianggap final pada tahun 2003 dan pelaksanaan KBK tersebut dimulai pada tahun 2004. Namun sangat disayangkan, sampai saat ini pelaksanaan KBK masih menjadi pembicaraan di berbagai kalangan. Ada yang beranggapan, bahwa KBK memberatkan siswa. Ada pula yang mengatakan, bahwa KBK membebani guru. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa KBK belum dapat dilaksanakan, karena belum disyahkan oleh pejabat yang berwenang. Oleh karena itu, hingga saat ini belum ada KBK yang diterbitkan oleh Depdiknas dan telah ditandatangani oleh pejabat yang berwenang.
Lebas dari alasan-alasan yang dikemukakan di atas, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dapat saja dilaksanakan, apabila perangkat pelaksana KBK di Lapangan telah siap melaksanakannya. Ujung tombak pelaksana Kurikulum adalah guru. Namun hingga saat ini masih banyak guru yang belum memahami KBK. Jika guru sebagai pelaksana Kurikulum belum memahami isinya, maka bagaimana guru itu melaksanakan kurikulum tersebut. Belum lagi, jika kita berbicara tentang model pembelajaran dan sistem penilaian yang berkait dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Berbicara tentang model pembelajaran, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mengharuskan siswa mempelajari sesuatu dengan cara mereka mengalami atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran sebagaimana yang tertuang dalam Standar Kompetensi, Hasil Belajar, dan Indikator. Oleh karena itu, guru dituntut lebih kreatif dalam menyusun dan melaksanakan model pembelajarannya. Kendala yang terjadi di lapangan, jangankan kreatif dalam menyusun dan melaksanakan model pembelajaran, mau membuat model pembelajarannya, baik berupa Program Tahunan, Program Semester, Program Unit, sampai Rencana Pengajaran itu sudah dianggap bagus. Di lapangan masih ditemukan guru yang melaksanakan pembelajaran berorientasi pada buku, sehingga buku masih dijadikan sebagai kurikulum. Masih banyak guru yang melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan cara: „Anak-anak, silahkan buka halaman sekian! Kerjakan nomor sekian sampai sekian atau catat dari halaman sekian sampai dengan sekian. Sehingga, jika tidak ada buku sumber, maka guru tidak bisa mengajar.
Jika guru masih melaksanakan pembelajaran seperti itu, maka sebaik apapun Kurikulum yang disusun tidak akan ada artinya.
Sementara itu, jika kita berbicara tentang penilaian (Assesment), guru yang menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) harus mampu menguasai berbagai assesment. Setiaknya ada lima macam assesment yang harus dikuasai guru, yaitu (1`) paper and pencil test, (2) project test, (3) product tets, dan (4) perfomance test, dan (5) portofolio.
Assesment sebagaimana yang dikemukakan di atas, masih banyak guru yang belum memahami. Oleh karena itu, penilaian yang dilakukan masih berkisar paper and pancel test atau sebatas tes tertulis. Artinya, hanya sebatas pada penilaian aspek kognitif. Jika penilaian hasil belajar hanya dilakukan dengan tes tertulis, maka tidak akan semua kompetensi dapat dinilai. Karena penilaian pada aspek kognitif dalam KBK relative kecil. Sehingga kompetensi siswa tidak dapat diukur secara keseluruhan.
Untuk itu, penilaian yang sesuai dengan KBK harus dilakukan pada semua aspek. Teknik yang digunakan hendaknya mencakup kesemua assesment yang telah dikemukakan di atas. Oleh karena itu, dalam pelaksanaaan KBK dikenal dengan istilah Class Based Assesment (Penilaian Berbasis Kelas). Untuk mengukur ketercapain kompetensi yang diharapkan harus dilakukan pada semua kompetensi tersebut. Satu-satunya orang yang mengetahui ketercapain kompetensi yang diharapkan adalah guru yang bersangkutan. Jika di Sekolah Dasar adalah guru kelas yang bersangkutan. Sedangkan untuk di SLTP ke atas adalah guru mata pelajaran yang bersangkutan. Oleh sebab itu, jika guru hanya melakukan penilaian dengan tertulis, maka siswalah yang akan dirugikan karena kompetensi-kompetensi lainnya tidak diukur.
Kelemahan lain yang masih terjadi di Lapangan, tentang ketidakpahaman terhadap KBK terjadi pula pada Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Bahkan masih banyak Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah yang hanya tahu, bahwa KBK adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi. Mereka tidak mengetahui isi, maksud, dan tujuan dari KBK itu sendiri.
Menyikapi hal-hal tersebut di atas, jika KBK tetap harus dilaksanakan, hendaknya guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah dipilih yang mampu dan mau melaksanakan KBK itu. Sebab kegaiatan belajar dan penilaian hasil belajar yang tidak sesuai dengan Kurikulum (lebih-lebih KBK) sama artinya dengan tidak melaksanakan Kurikulum.
E-mail Pengirim: mjk9562.yahoo.com Tanggal: 19 Juni 2006
Nama: HERMAN.AMD Dari: PEKANBARU Saya: Guru Saran: KBK DIRASA MEMANG BAIK ADANYA UNTUK MENUMBUHKAN KREAKTIVITAS ANAK DIDIK DAN MEMBENTUK SISWA AGAR LEBIH BERANI GUNA MENAMPILKAN BAKAT YANG DIMILIKI ANAK TERSEBUT TETAPI HAL INI HARUS DIBARENGI DENGAN TENAGA PENGAJAR YANG BANAR-BENAR TERAMPIL DALAM BIDANGNYA E-mail Pengirim: AKSAMAN77 Tanggal: 21-06-2006
Nama: Erlina SitiLatifah Dari: Bandung Saya: Mahasiswi UIN Bandung Saran: saya berharap dengan adanya KBK,proses belajar-mengajar dapat berjalan lebih efektif lagi.Sebenarnta sistem ini bagus untuk diterapkan,namun kita sebagai learner/guru harus lebih memahami dan mengimplementasikan program ini di lapangan.Bagaimana kita menjadikan belajar yang enjoy dan menyenangkan. E-mail Pengirim: sanie_aty Tanggal: 28
P align=justify>Nama: Juna edogawa Dari: Mamuju SULBAR Saya: Mahasiswa STAIL Hidayatullah Surabaya Saran: kalau melihat sistem belajar mengajar yang ada dalam konsep KBK sepintas memang akan tanpak sebuah konsep yang sangat ideal untuk diterapkan dalam memperoleh kualitas pendidikan yang berkompetensi. namun hal itu hanya dapat membuahkan hasil yag baik apabila semua komponen terpenuhi. bukan hanya faktor guru, murid, atau sarana pendukung saja tapi juga pemerintah yang punya peran penting. sejauh ini pemerintah belum sepenuhnya serius dalam menangani pendidikan. sistem evaluasi yang berlangsung bebrapa hari saja belum bisa menyeleksi siswa/murid sesuai dengan lama belajarnya di sekolah. seharusnya kalau KBK diterapkan maka bukan pemerintah yang harus menyeleksi kelulusan murid tapi Guru atau pihak sekolahlah yang seharusnya berhak. sebab merekalah yang lebih tahu kemampuan siswa/muridnya masig-masing.
kemudian dana yag dianggarkan oleh pemerintah dalam meningkatkan pendidikan belum tertangani secara maksimal. diberbagai elemen terjadi "penyunatan", akhirnya yang sampai ke tangan sekolah hanya ujungnya doang. kasian deluuu.. E-mail Pengirim: yustio004@yahoo.com Tanggal: 30-juni-2006
Nama: putut Dari: jawa tengah Saya: Guru sma Saran: Kata beberapa teman sekolah yang menyumbang saran : " Kurikulum sekarang lucu ".
Saya tidak tahu apa masalahnya, yang jelas, kurikulum 2004 disempurnakan menjadi kurikulum 2006, banyak hal yang menjadi dampak perubahan termasuk proyek pangadaan penataran dan diklat yang diadakan dari pusat sampai daerah.
Masalahnya, apa tidak ada kontribusi positif langsung ke anak didik baik materi, psikis, dan sosial.
Sejauh mana studi banding ke luar negeri sehingga memberi kontribusi positif bagi perkembangan pendidikan anak.
Disamping itu, pelaksana kurikulum kan guru dan jajaran diknas lain yang terlibat langsung.
Naik turunnya semangat mendidik anak bangsa kan banyak dipengaruhi berbagai variabel.
Beban, tanggung jawab dan kesejahteraan perlu ada keseimbangan OK E-mail Pengirim: putut_salatiga@yahoo.co.id Tanggal: 3 juli 2006
Nama: utoyo Dari: tegal/jawa tengah Saya: Dosen PGSD UPP Tegal Saran: Pelaksanaan Kurikulum 2004 (KBK) perlu disosialisasikan secara lebih intensif dan efektif, karena problem utama yang sering dihadapi oleh para guru di Indonesia adalah sering dihadapkan pada kebijakan baru tetapi tidak paham bagaimana kebijakan baru itu harus dilaksanakan. E-mail Pengirim: www.utykap.com Tanggal: 8-7-2006
Nama: Benny Sandjaya Dari: Jawa Timur Saya: Masyarakat Surabaya Saran: KBK ( Kurikulum Bikin Kebingungan ), masalahnya dinegara Indonesia ini tidak mempunyai pendirian yang pasti dalam hal mendidik, hanya untuk dijadikan obyek bisnis saja dan menurut pendapat pribadi saya (KBK) seharusnya bukan menjadi penentu dari penilaian siswa tersebut, dapat mengikuti pelajaran atau tidak / cerdas atau tidak, akan tetapi hanya sebagai penyanding/informasi kepada wali murid bahwa siswa tersebut di kelas seperti apa perilakunya, jadi saya tidak setuju apabila ada anak yang betul-betul cerdas dalam pelajaran, hanya lantaran anak tersebut nakal atau kurang perhatian di kelas menjadi kurang nilainya, khan bisa saja anak tersebut mencari tambahan kursus/les diluar sekolah. Sebetulnya tugas seorang guru adalah membina siswa siswinya di sekolah, yang namanya siswa/siswi itu dalam proses mencari jati dirinya, jadi masih labil mental dan pendiriannya, nah disitu peran seorang guru dibutuhkan untuk membimbing dan mengajarkan seorang siswa untuk menjadi dan mencari jati dirinya tersebut.
Terima kasih E-mail Pengirim: inn_eb@yahoo.com Tanggal: 21 Juli 2006
Nama: nurlaela Dari: limbung/ sulawesi selatan Saya: Staf Administrasi smpn 1 bajeng Saran: sejauh yang saya perhatikan pada guru-guru yang mengajar masalah kbk ini saya merasa siswa kurang mampu menanggapi apa-apa yang telah diberikan pada gurunya. siswa seringkali menghadapi kendala pada soal soal yang diberikan pada saat ulangan mereka mengadakan remedial atau pengulangan, selain itu guru kurang serius dalam mengisi jam pelajaran yang telah ditentukan mereka acuh tak acuh terhadap mata pelajaran yang diajarkan, mungkin dikarenakan sistem kbk ini guru-guru belum tahu persis sistem ini bagaimana cara pengajarannya. tapi saya yakin sistem KBK ini sangat bagus manfaatnya bagi siswa siswi begitupun bagi guru yang mengajarkannya . E-mail Pengirim: daengkanang@yahoo.co.id Tanggal: 27 Juli 2006
Nama: ANI SETYORINI Dari: BLORA / JAWA TENGAH Saya: Mahasiswi UMS Saran: KBK sangat baik karena untuk mengembangkan potensi belajar siswa,dampak negatifnya adalah banyak guru maupun murid kesulitan dalam menggunakan kurikulum berbasis kompetensi ini,. E-mail Pengirim: Nazha_oct.yahoo.com Tanggal: 28/07/2006
Nama: Dorus mandacan Dari: Mnukwar Saya: Masyarakat SIJAY Saran: SAYA SANGAT SETUJU DENGAN PROGRAM PEMERINTAH PUSAT DENGAN PROGRAM KBK, TAPI SAYANGNYA, JIKA TIDAK DIIMPLEMENTASIKAN SECARA BAIK DAN BENAR,MAKA SEMUA YANG TELAH DI IDAM-IDAMKAN AKAN HANCUR BELAKA, TETAPI KALAU MEMANG DIIMPLEMENTASIKAN SECARA BAIK DAN BENAR, MAKA HARUS DIMULAI DARI SEKOLAH-SEKOLAH YANG TERDAPAT DI DAERAH TERPENCIL SAMPAI KE KOTA. E-mail Pengirim: MANDO BREMAN YAHOO COM Tanggal: 31/07/06
Nama: nanzu Dari: Jogya Saya: Masyarakat pedesaan Saran: KuriKulum KBK, Baru saja di sosiali sasi, dalam artian belum genap lima tahun, sekarang sudah muncul lagi kuri kulum 2006, yang di sebut dengan Kurikulum K T S P, kami sebagai guru yang hampir pensium, merasa kesulitan , karena kuri kulum KBK, saja belum mengendap dalam pikiran saya. Dalam artian , KBK baru bisa berjalan lambat, dan evaluasi dari KBK, Masih seperti yang lama, contoh : Untuk tingkat SLTP, UAN Yang tiga Bidang Study menentukan masa Depan anak, UAN tidak hanya menentukan keluluisan, tetapi juga menentukan sekolah yang akan di tuju, padahal UAN itu hanya dilaksanakan tiga hari. Tidak adilnya, belajar selama tiga tahun bisa musnah, gara, gara, tiga hari kondisi fisik tidak mendukung.
Oleh karena itu saya menyarankan :
1.Setiap pergantian kurikulum hendaknya di barengi dengan evaluasinya.
2.Setiap pergantian kurikulum, guru, di latih dahulu.
3. setiap pergantian kuri kulum, kuri kulum yang hendak di pergunakan dikaji dahulu, jangan sampai anak menjadi kelinci percobaan.
4. Setiap pergantian kurikulum, dilihat kompetensi untuk masa depan.
5. Sebelum pergantian kurikulum disiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan
kurikulum. E-mail Pengirim: Tanggal: 10-08-2006
Nama: khairul f Dari: NAD Saya: Mahasiswa aceh Saran: KBK, harusnya guru di berikan pengarahan dulu sebelum menerapkannya di sekolah,banyak sekarang guru(calaon guru)yang tidak mengerti cara mengajar ala KBK, dan cara menyusun silabus. E-mail Pengirim: khairul_fata.co.id Tanggal: 01 agt 2006
Nama: Muhammad Sholeh Dari: Rantau , Kuala Simpang / NAD Saya: Siswa SMA Patra Nusa Saran: Menurut saya KBK ini memang membuat kami para murid lebih aktif dalam mencari ilmu sehingga kami dapat menggali potensi yang ada pada diri.
Tetapi ini bukan berarti KBK ini sendiri tidak menjadi ancaman bagi para murid, karena KBK ini sering diselewengkan dengan cara gurunya malah cabut tanpa menerangkan dengan alasan murid belajar aja sendiri. saya rasa hanya ini saran sederhana dari saya.
Trim's E-mail Pengirim: muhammad_scholes89@yahoo.com Tanggal: 2 Agustus 2006
Nama: Indah Lestari Dari: Bandung Saya: Mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan-Bandung Saran: Sistem kbk ini sangat baik dan sangat berguna di masa yang akan datang bagi para muridnya akan tetapi kurang baik apabila para pegajarnya kurang memahami materi yang diberikan. Sebaiknya penerapan mengenai KBK ini lebih disosialisasikan dengan para guru, baik para guru yang mengajar di pedesaan maupun di perkotaan, karena saya perhatikan masih banyak para pengajar yang kurang mengerti mengenai sistem KBK ini, para guru tersebut sebaiknya diberikan bimbingan/ digodok terlebih dahulu agar dalam memberikan penjelasan ke murid juga lebih matang dan dapat dipahami oleh para murid, karena khan kasian anak-anak tersebut apabila guru-gurunya juga kurang memahami materi yang mereka sampaikan, mohon perhatiannya. Terima kasih. E-mail Pengirim: indah_lestari_okt@yahoo.com Tanggal: 9 Agustus 2006
Nama: sabar riyanto Dari: wonosobo jawa tengah Saya: Guru wonosobo Saran: KBK bagus rencananya, pelaksanaannya ? tergantung kita semua yang mau menyikapi secara baik dan bijaksana. tapi KBK kalau mau dilaksanakan secara utuh insya Alloh bagus . E-mail Pengirim: smuker_wonosobo@yahoo.com Tanggal: 17 agustus 2006
Nama: Taufik R Dari: MAlang Saya: Mahasiswa UM Saran: KBK hanyalah 'baju baru' untuk pendidikan di Indonesia ini dengan warna yang cerah dan mengikuti trend. Tak akan membawa suatu perubahan perbaikan bagi pedidikan di Indonesia jika kualitas guru tidak mengalami peningkatan. Bahkan apa yang telah dirancang di Kurikulum 2004, dengan jelas dilanggar sendiri oleh si penyusun kurikulum 2004, yaitu masalah sistem penilaian yang masih Asesmen tes, dan pelaksanaan UPM yang jelas-jelas prestasi siswa hanya sebatas pada kemampuan menjawab soal (bukan authentic assessment). Adanya konsistensi antara apa yang dirancang (kurikulum) dengan pelaksanaan menunjukkan bahwa si pembuat tidak menyakini kebenaran 'pikirannya', sehingga wajar apabila para guru masih menerapkan pembelajaran konvensional, karena ia juga bingung dengan 'wajah' si penyusun kurikulum. E-mail Pengirim: taufik_902@yahoo.com Tanggal: 18
Nama: wangsa jaya Dari: jakarta Saya: Guru SMA Negeri 8 Jakarta Saran: Alhamdulillah KBK 2004 sudah kami lalui dan hasilnya baik. Sekarang meningkat ke 2006 ( perbaikan ) dan ada program SNBI, moga-moga dengan kerjasama semua pihak di sekolah danluar sekolah, hal ini dapat berjalan baik pula. E-mail Pengirim: wangsa_smandel88@yahoo.com Tanggal: 19 Agutus 2006
Nama: fata Dari: NAD Saya: Mahasiswa Aceh Saran: kurikulum berbasis kompetensi,memaang sangat cocok di terapakan si sistem pendidikan di Indonesia, tetapi mengapa kbk tersebut sangat cepat di ganti dengan kurikulum yang baru lagi (kurikulum 2006. alangkah baiknya kurikulum itu diterapkan satu per satu, apabila kbk berhasil di terapkan baru-lah diterapkan kurikulum yang baru. E-mail Pengirim: khairul_fata.co.id Tanggal: 24 Agt 2006
Nama: Daniar,S.Pd Dari: Pontianak/Kalimantan Barat Saya: Guru Sekolah Tunas Bangsa Saran: Kurikulum 2004 Merupakan Kurikulum yang menerapkan sistam Teacher Senter,dalam arti Guru sebagai contoh dan siswa melakukan sesuai contoh tersebut,sebenarnya menerapkan Studen Senter,dalam arti guru mengarahkan bentuk gerakan secara cepat dan siswa aktif mencari tahu gerakan yang baik saat melakukan aktivitas tersebut, E-mail Pengirim: Tanggal: 8 September 2006
Nama: eriodan Dari: cilegon/banten Saya: Siswa SMP negeri 1 cilegon Saran: menurut saya KBK itu program nya bagus sekali.... membuat murid2 menjadi aktif.... ada presentasi ada diskusi ada berdebat... saya suka itu tapi kenapa sekarang harus di ganti lagi kurikulum nya .....apa gagal KBK itu?skolah saya juga memakai KBK namun sekolah saya karena itu jadi lebih semangat murid 2 murid nya untuk bhelajar..... E-mail Pengirim: o_cheat@yahoo.com Tanggal: 15 september 2006
Nama: Lilieh Jatmiko Dari: Banten Saya: Guru SMPN 4 Balaraja Saran: sebetunlya kbk bagus..., tp kurang sosialisasi ke daerah..
saran buat pemerintah...: kalo nyusun kurikulum jgn sampe stengah2...ganti2 mulu. kasian gurunya euy.... E-mail Pengirim: lilieh_love@plasa.com Tanggal: 17 september 2006
Nama: reena Dari: jawa timur Saya: Masyarakat Saran: menurut saya KBK bagus pada perencanaanya saja, tetapi bada prakteknya masih belum terealisi denganbaik. E-mail Pengirim: noo_vvvaaaa@yahoo.com Tanggal: 17-09-2006
Nama: teguh Dari: yogyakarta Saya: Mahasiswa UNY Saran: perbanyak informasi tentang kbk dan implikasinya perbidang studi,misalnya implikasi kbk dalam pembelajaran IPA (sains)menuju literasi sains & teknologi E-mail Pengirim: teguh@yahoo.co.id Tanggal: 29 september 2006
Nama: LA IDA Dari: KENDARI/SULAWESI TENGGARA Saya: Mahasiswa UNHALU Saran: Saya tertarik dengan kurikiulum baru ini.Oleh karena itu, yang harus dipermasalahkan sebenarnya adalah bukan KBK-nya tetapi bagaimana cara kita mengelola kurikulum itu sendiri, yang perlu kita pikirkan adalah cara kita memberikan materi dikelas, strategi apa yang akan kita lakukan, model pembelajaran apa yang kita gunakan pada saat proses belajar mengajar.
E-mail Pengirim: linabio02@yahoo.co.id Tanggal: 30 SEPTEMBER 2006
Nama: fransiska Dari: BSD Saya: Siswi Sanoer BSD Saran: buat Arancha Shinta...
gw setuju bgt ma KBK. kenapa? bagi gw itu bermanfaat bgt. KBK itu kn mengharuskan kita untuk belajar brg gurunya. jadi kita cari sendiri bahannya, trus kita olah, trus kita tukeran informasi deh ma temen - temen kita dengan cara presentasi atau forum group. mungkin lu kaget aja kali karena lu biasanya diisi sama orang lain terus tapi lu ga penah isi sendiri. tapi lama kelamaan juga lu bakalan enjoy.
Skul gw udah nerapin KBK pas gw kelas SMP3. udah mau ujian tapi tiba - tiba sistemnya berubah. pertama gw juga bilang klo sistem kyk gini tuh gurunya jadi makan gaji buta. tapi tuh akhiornya gw ngerti.
dari dulu mpe skrg, murid selalu meanggap guru yang lebih tahu dari kiat. jadi guru tugasnya ngejelasin dan kita ngedengerin. tapi guru juga manusia. klo dia [punya pengetahuan minim juga berarti yang dia kasih ke kita juga minim. tapi dengan sistem KBK, kita ma guru bisa belajar bareng. apa yang kita tau kita bagi ke guru, yang temen tau di bagi ke kita, yang guru tau juga di bagi ke kita. wawasan juga tambah luas. jadi jgn merasa lu jd bego gara - gara KBK yang bikin lu mesti negerti sendiri dan guru ngejelasin seuprit doank. karena sebenernya KBK tuh ngerangsang otak kita buat mikir juga. jadi lebih realistis. ga teoritis bgt sesuai apa yg guru terangin. kita juga jd aktif ga pasif kyk komputer yg cuman bisa di masukin data. lagian KBK bikin kita bisa dpt nilai dari berbagai macam hal. rajin2 cari bahan ttg materi yg bakal di bahas, bagi informasi yg belum ada, maka lu bakal dapet nilai plus.trus klo lu kuliah, mo pake KBK ato ga, lu bakal nyari sendiri. karena dosennya cuman ngasih judul materi, lu suruh cari sendiri, bikin laporan, kumpulin. dosen lebih GaBut(Gaji Buta)dari guru apapun.
peribahas bilang, " Untuk melihat pelangi, kita harus melihat hujan terlebih dahulu." jadi klo kita mau dpt yg terbaik, lu mesti susah dulu.
tx E-mail Pengirim: ngga_ada_email@yahoo.com Tanggal: 30 - 9 - 06
Nama: Suryan Nuloh Dari: Bandung, JABAR Saya: Mahasiswa bANDUNG Saran: Kurikulum 2004 sebenarnya merupakan inovasi bagus gari pemerintah, yang ingin memajukan pendidikan Indonesia. tetapi hal ini justru tidak didukung oleh data yang valid tentang keberadaan sekolah-sekolah di indonesia, sehingga ada sekolah dari pedalaman yang mau menerapkan KBK tapi sarana dan prasarannya tidak mendukung. Solusi saya sebaiknya Indikator-indikator kurikulum di serahkan pada guru mata pelajarannya, karena guru tersebut yang mengetahui kondisi siswanya. E-mail Pengirim: uyonk_7185@hotmail.com Tanggal: 7, Januari 1985
Nama: martha yuliana simamora Dari: jakarta barat Saya: Guru dian kasih jakarta Saran: kalau memang ada kurikulum KBK tolong dijelaskan untuk UAN tahun depan, mengambil kurikulum KBK atau 2004. Pemerintah harus jelas dalam pemilihan kurikulum sehingga guru juga tidak bingung mengajarkannya.Terimakasih E-mail Pengirim: cincau_garing@yahoo.com Tanggal: 6 Oktober 2006
Nama: Renest Danardono Dari: Surabaya Saya: Masyarakat Saran: KBK merupakan program yang sangat baik untuk diaplikasikan. Namun KBK merupakan sebuah sistem yang harus dijalankan dengan sistematis dan saling ketergantungan satu unsur dengan unsur lainnya. Jadi saran saya adalah bagaimana segala program pendidikan tersebut dapat diaplikasikan dalam masyarakat melalui anak didik kita. Lebih baik lagi jika pendidikan menjadi pemicu anak didik kita menciptakan IDE, dan mencipta IDE menjadi KESEJAHTERAAN (UANG) untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan BANGSA. E-mail Pengirim: renest2006@yahoo.co.id Tanggal: 10 - 10 - 2006
Nama: Nyoman Triyasa, S.Pd Dari: Singaraja, Bali Saya: Guru SMP N 3 Kubutambahan Saran: Saya termasuk yang beruntung, karena mengenyam TOT dua kali di Yogyakarta dan Malang tentang KBK. Cuma sangat saya sayangkan belum maksimal penerapannya, kurikulum 2006 siap mengambil alih peran kurikulum 2004. Terasa ada ketidakberesan pada aparat di atas. Meskipun secara substansial tidak mengubah esensinya, karena tetap berbasiskan kompetensi, namun tetap ada kesan kuat dunia pendidikan kita memang belum menemukan jati dirinya.
Sesungguhnya KBK menurut saya mencerminkan inovasi pembelajaran yang baik, menuntut guru tidak mendominasi pembelajaran, dapat mengaitkan topik pembelajaran dengan kehidupan riil siswa, adalah beberapa hal yang sangat penting untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Saran saya, biarlah kurikulum 2004 digantikan dengan kurikulum 2006, namun harapan saya kurikulum 2006 tersebut dapat memberikan hasil baik pada dunia pendidikan kita sehingga akan diberlakukan dalam rentang waktu yang panjang. Sebab perubahan kurikulum selalu menimbulkan pengorbanan waktu belajar yang tidak sedikit,karena guru-guru harus ditatar ulang, dampaknya tentu saja pembelajaran di kelas akan terbengkalai.
E-mail Pengirim: triyasanyoman@yahoo.com Tanggal: 10 Oktober 2006
Nama: anton Dari: Purwakarta / Jawa Barat Saya: Staf Administrasi smkn 1 pwk Saran: Mengenai hal KBK di indonesia yang saya amati memang belum 100% bisa dilaksanakan oleh sekolah - sekolah yang ada di indonesia khususnya didaerah dikarenakan di negera kita belum mampu melaksanakan Kbk itu akan tetapi kemauan Negara kita akan memajukan sistem pendidikan yang lebih baik belum didukung oleh yang menjadi namanya guru dikarenakan belum dimengerti adanya KBK, tetapi bila kita telaah lagi kedepan kapan negera kita akan maju dibidang pendidikan kalau kita masih melihat kebelakang justru itulah pemerintah mengadakan adanya KBK .
karena masih guru / pengajar yang awamnya tentang KBK itu karena tidak mau mencari tahu apa sih KBK itu dan bagaimana cara penyampaiannya. kalau kita membuka kembali dan mau berpikir tentang kemajuan pendidikan sehendaknya guru / pengajar itu buatlah suatu Modul, dan modul itulah yang akan diterapkan dalam pembelajaran tersebut, apakah disekolah tidak staff kurikulumya. dan biasanya yang mengolah KBK itu adalah staff Kurikulum, dan disitulah awal mulanya guru / pengajar berpatokan dan staff kurikulum tersebut akan membuka silabus.
bagaimana kiat untuk untuk membuka KBK itu ? apa sih KBK itu ?
kita akan buka apa yang dinamakan dengan kompetensi ? yaitu pengesahan oleh yang berwenang atau diakui keabsahaannya suatu pemebelajaran / hasil belajar itu misalkan oleh pihak perusahaan/instansi yang membutuhkan skill seorang perdik apakah standar tidak dengan yang diinginkan oleh perusahaan/instansi tsb.
dan apakah guru/pengajar tsb sudah standar atau belum ? kalau belum hendaknya pemerintah mengadakan kembali program diklat untuk guru / pengajar yang belum standar. maka dari itu kita untuk bisa mensejajarkan dengan negara lain yang sudah maju dalam bidang pendidikannya, hendaknya ada suatu studi banding dengan negara yang sudah maju tsb.
itu kiat dari saya sedikit membedah KBK,dan kiat ini mohon bila ada yang membaca khususnya pihak pemerintah (Dinas pendidikan nasional)agar bagaimana caranya supaya guru/pengajar yang ada di indonesia tercinta ini agar diperhatikan.
motto dari saya
tidak bisa - tidak bisa
tidak bisa - harus bisa
bisa - harus bisa E-mail Pengirim: antonaryanto@yahoo.com Tanggal: 12 Oktober 2006
Nama: najmuddin fani Dari: bandung/jawa barat Saya: Mahasiswa PGSD UPI Saran: sebaiknya untuk menunjang berlangsungnya KMB yang menggunakan KBK lebih efektif pemerintah agar secepatny amerealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20%. kerena berdasarkan fakta yang saya dapat dari lapangan sarana dan prasarana ynag dimiliki sekolah tidak dapat menunjang penggunaan KBK dalam KBM. E-mail Pengirim: fani_neva Tanggal: 13 oktober 2006
Nama: Novian Setyo Hermawan, SPd Dari: Surabaya/ Jawa Timur Saya: Guru SMAK ST YUSUP SURABAYA Saran: Setelah membaca berbagai saran yang muncul dari sebagian masyarakat baik profesional yang berkecimpung bidang pendidikan maupun pihak pengamat bidang pendidikan, saya menemukan pandangan yang pro dan kontra. Dan itulah memang yang tejadi dalam pelaksanaan KBK sampai detik ini, belum berjalan sebagaimana mestinya (=dibaca sesuai dengan rambu-rambu) karena pelaksanaan KBK nyata-nyata berbeda-beda dari sabang sampi Merauke. Melalui rubrik saran ini saya inigin mendapatkan masukan tentang cara/metode pelaksanaan KBK secara ideal khususnya dalam pengajaran Mata Pelajaran Sejarah di Tingkat SMP sampai SMU E-mail Pengirim: novisy@telkom.net Tanggal: 16 Oktober 2006
Nama: Muhamad Dari: Pekalongan / Jawa Tengah Saya: Masyarakat Pekalongan Saran: KBK?? Sistem pendidikan yang bagus tapi sayang belum di tunjang oleh sarana dan prasarana serta kemampuan guru itu sendiri. Yang lebih menyedihkan lagi pihak DIKNAS yang notabene sebagai pengatur pendidikan belum profesional dan hanya memikirkan KEUNTUNGAN MATERI dengan melupakan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Kalau ingin negara makmur dan maju serta ga ada korupsi perbaiki pendidikan kita... E-mail Pengirim: hisyam@linuxmail.org Tanggal: 16 Oktober 2006
Nama: Abdul Kadir Dari: Samarinda/ Kalimantan Timur Saya: Mahasiswa STAIN Samarinda Saran: KBK hanya menjadikan murid murid sebagai objek uji coba kurikulum saja. Yang padahal mentri Pendidikan saja binggung untuk mencari kurikulum yang pas, sehingga guru dan murid sama-sama kebingungan. Jadi, disekolah bukan sekedar belajat tapi juga tempat orang-orang kebingungan karena dalam KBK tidak terintregasi dengan sistem kurikulum pendidikan lokal sehinggga idak menunjang KBK yang memerlukan sarana dan prasana yang lengkap. Lihat saja sekolah favorit dan sekolah "Pilihan". E-mail Pengirim: faqihudin_86@yahoo.com Tanggal: 19 Oktober 2006
Nama: senly Dari: Salubarani, Tana Toraja Saya: Mahasiswa Yogyakarta Saran: KBK mungkin sedikit merepotkan bagi masyarakat yang ada di pedesaan yang akses untuk memperoleh pengetahuan sangatlah terbatas. Namun kalo dipikirkan- pikir sistem ini yang merupakan sistem yang sangat baik untuk mengubah mindset pendidikan di Indonesia. Gunakan pemikiran yang cerdas dengan analisis yang baik dari lingkungan sekitar.
Pendidikan itu emang sulit dari berbagai faktor. Dengan sistem ini maka siswa bahkan mahasiswa secara tidak langsung dipaksa untuk berkreasi dalam berpikir kedepan bagaimana sebaiknya melakukan sesuatu. didorong untuk tidak hanya bisa mendengar tapi bisa mencari dan menyampaikan sesuatu berdasar pemahaman yang benar tentang suatu informasi.
saya suka dengan sistem KBK ini karena dengan sistem ini orang yang tidak pernah berusaha dan tidak mau berusaha akan tersisihkan dengan sendirinya atau bahkan menjadi budak dari profokator-profokator yang tidak bertanggung jawab karena mereka hanya menerima apa yang mereka dengarkan tanpa berusaha menganalisis dengan bahan pengetahuan yang benar. E-mail Pengirim: sny_withe@yahoo.com Tanggal: 19 Oktober 2006
Nama: dwi sri wahyuni s Dari: jambi Saya: Siswa sma n 9 jambi Saran: saya ingin dalam sistim kbk ini siswa dapat lebih tertolong dalam belajar dan dapat lebih maju lagi E-mail Pengirim: uwi_smanez@yahoo.co.id Tanggal: 4 maret 2007
Nama: benny karismanto Dari: bandung jawa barat Saya: Mahasiswa UPI Saran: CTL menurut pendapat saya merupakan salah satu metode pembelajaran yang lebih menekankan pada kehidupan nyata siswa dalam memperoleh pengetahuan.dengan adanya CTL pendidik dapat mengetahui sejauh mana perkembangan kognitif peserta didik sesuai dengan tujuan dari kegiatan pembelajaran. E-mail Pengirim: benny_nexus@yahoo.co.id Tanggal: 6 maret 2007
Nama: cucun agustiyo Dari: lumajang / jawa timur Saya: Guru smak mgr soegijapranata Saran: mengapa kurikulum selalu gonta-ganti. biarlah kurikulum berbasis kompetensi itu jalan terus dengan pengembangan, bukan dengan mengganti dengan sistem dasar yang baru. apapun metode atau caranya, yang penting orientasinya sama. E-mail Pengirim: cucun_manise@yahoo.co.id Tanggal: 22 maret 2007
Nama: hans denesta Dari: medan/sumatera utara Saya: Mahasiswa universitas negeri medan Saran: saya sangat kelabakan menghadapi kurikulum yang berbasis kompetensi ini karena disini saya dituntut untuk berkompetensi, sementara sarana/prasarana yang dibutuhkan dalam hal ini tidak mendukung. Serta dosen yang kurang memahami arti kompetensi yang sebenarnya. E-mail Pengirim: alamakcoy@yahoo.com Tanggal: 8 april 2007
Nama: camry Dari: bekasi/jawa barat Saya: Mahasiswa universitas indonesia Saran: Menurut saya kurikulum berbasis kompetensi ini sangat bagus bagi kemajuan pendidikan.Pelajar dituntut untuk meningkatkan kualitas ilmu bidang akademik dan skill yang balance.Tapi dalam pelaksanan ini harus dibarengi dengan kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai. E-mail Pengirim: sjts@plasa.com Tanggal: 8 april 2007
Nama: ANTO CAKEP Dari: PEKALONGAN/JAWA TENGAH Saya: Mahasiswa unnes Saran: KBK di banyak sekolah belum maksimal kok sudah ada kurikulum baru (KTSP) yang membuat banyak kalanga pendidik bingung E-mail Pengirim: khandahlawi@plasa.com Tanggal: 15 APRIL 2007
Nama: Budyman Dari: Kuching Saya: Mahasiswa Kuching Serawak Saran: Teman saya adalah seorang Guru di Jakarta, dan banyak memberikan informasi tentang pelaksanaan belajar di sekolah (yang ternyata memiliki "sisi perbedaan/sisi lain" yang jarang dimuat di koran atau media elektronik lainnya di Indonesia. Tentang KBK menurutnya adalah kurikulum ideal, namun batas kompetensi minimalnya justru di bawah ideal (karena ditawar-tawar oleh Guru(dan itu boleh) menurut kondisi dan kemampuan Gurunya, dan bukan berdasar kondisi awal kebutuhan siswanya/input) Jadi antara konsep KBK dengan implementasi KBK dari awal memang sudah bertentangan. Bagaimana dengan Student Centered Learning-nya?.
KBK dilandasi filosofi KONSTRUKTIVISME sedangkan sebagian besar Guru di Indonesia lebih memahami filosofi BEHAVIORISME, hanya karena saat kuliah di IKIP/FKIP dulu, kurang interes terhadap kontruktivisme (saat itu Kurikuluam 1994 dan sebelumnya memang lebih condong behavioristik mengejar target tujuan kurikulum).
Sedangkan Penataran/Pelatihan Guru yang mendongkrak jarak keterbatasan potensi Guru, KURANG PROPORSIONAL MEMENUHI KEBUTUHAN GURU DALAM MENJALANKAN KURIKULUM ITU SENDIRI (baca KBK).
Saran : Kalau ingin mendongkrak mutu pendidikan, BERDAYAKAN potensi Guru agar mereka mampu memberdayakan kesejahteraan profesi maupun "provisi" (baca:finasial) dirinya (sesuai dengan konsepsi pendidikan yaitu kemandirian).
BRAVO GURU INDONESIA!.
alamak...
salam dari saya "wassalama"
Budyman E-mail Pengirim: berbudy@yahoo.com.my Tanggal: 5 Juni 2007
Ke Halaman 8 >>
|