Index ForumPendidikan MahalMemperbaiki PemerintahKBK FORUMFORUM UMUMKegiatan ProyekAnggota AktifLinks ProyekKegiatan Pendidikan

The Voice of Indonesian Educators and Learners
TOPIK
"Mengapa Pendidikan Mahal"
Halaman: 1, 2, 3, 4, 5
Artikel: Bisakah Biaya Murah?


Dari http://Aspirasi.US 13 Agustus, 2004

Nama: PUTRI MEGA FATMAWATI
Dari: DEPOK / JAKARTA
Saya: Mahasiswi UI
Aspirasi / Informasi: SAYA MINTA DENGAN SANGAT AGAR ANDA SEGERA MENINDAK LANJUTI TENTANG BIAYA PENDIDIKAN YANG SANGAT MAHAL SAAT INI KARENA SAYA MERASA KASIHAN KEPADA ORANG NGGAK MAMPU. MOHON ASPIRASI SAYA INI DIPERHITUNGKAN DENGAN SANGAT! DAN SEHARUSNYA GAJI ANDA ITU SEBAIKNYA DISUMBANGKAN UNTUK ORANG YANG TAK MAMPU!!!OKKKKKKKKKKKK!!
E-mail Pengirim:

Aspirasi ini sangat menarik, sayang tidak ada alamat e-mail!

Kalau maksudnya, gaji saya sendiri - wah tidak dapat membantu siapapun! Semuanya di Pendidikan Network dikerjakan secara gratis. Kalau maksudnya, meminta dari gaji para langganan dan pembaca website ini, mengapa harus meminta uang dari orang yang barangkali telah bekerja keras dan berjuang untuk keluargnya secara halal. Berpikirlah lebih jernih, mengapa kita jadi begini?

Mengapa pendidikan jadi mahal untuk masyarakat? KORUPSI-kah penyebabnya? Kekayaan negara ini yang seharusnya dipakai untuk menyiapkan masyarakat untuk masa depan kelihatnya bocor (lebih dari 30%) - ke mana ya? Kepedulian pemerintah terhadap pendidikan sangat rendah, terlihat dari anggaran negara untuk pendidikan (dibawah 5% - sebenarnya), dibanding Malaysia 25% dan Thailand 30%. Kayaknya pemerintah kita sadar bahwa kalau masyarakat sudah berpendidikan dengan baik mereka tidak mungkin dipilih lagi. Apakah, ini pola pikir yang dipakai pemerintah kita untuk mempertahankan dirinya (kekuasaanya)?

Apakah anda betul-betul peduli mengenai "ORANG NGGAK MAMPU", dan peduli masa depan negara ini? Mengapa kita tidak berjuang secara berani untuk memberantas korupsi daripada meminta sumbangan saja. Kapan negara kita akan maju kalau solusinya selalu hanya meminta dan kapan kita mau berusaha untuk memperbaiki negara kita kalau tidak dari sekarang dan dimulai dari anda, saya dan kita semua?

Besok tanggal 17 Agustus adalah Hari Kemerdekaan kita, momentum yang sangat tepat kapan kita akan merdeka dari korupsi yang sudah terkenal di dunia dan ternyata jauh lebih berbahaya daripada AIDS, karena merusak moral bangsa dan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Memang masa depan negara dan pendidikan masyarakat hanya dapat ditingkatkan kalau masyarakat sendiri secara berani memaksakan tanggungjawab pemerintah pada bidang pendidikan ini. Seperti kemerdekaan negara kita dari pejajahan Belanda, tentu tidak akan dikasih begitu saja, kita harus berjuang dan melawan orang-orang yang mencuri masa depan negara kita dalam bentuk pendidikan bermutu untuk semua bangsa.
Selamat berjuang, Webmaster

Tanggal: 13 AGUSTUS 2004

Saran Anda

Nama: Agustina
Dari: Palembang
Saya: Siswa
Saran: Sebenarnya pendidikan kita gak mahal kok...
Tapi menjadi "mahal" karena masih banyak masyarakat kita yang kurang mampu....
Dan tugas kita semua dan terutama pemerintah untuk memberdayakan seluruh rakyat supaya dapat memenuhi semua kebutuhan termasuk kebutuhan akan pendidikan
E-mail Pengirim: Agt_potter@palcomtech.com
Tanggal: 15-08-2004


Nama: pujiono
Dari: boyolali/jateng
Saya: Masyarakat yogyakarta
Saran: sebaiknya pemerintah serius menganai pendidikan ini dengan memberikan pendidikan gratis dan segera membuka lapangan kerja yang berkelanjutan serta memperhatikan lingkungan hidup. dengan begitu setiap kendala pembangunan dibicarakan bersama.
E-mail Pengirim: pujiowonten@yahoo.com
Tanggal: 15 agustus 2004


Nama: Ningrum
Dari: Bekasi/Jawa Barat
Saya: Masyarakat
Saran: Kalau pendidikan mahal, uangnya itu untuk kesejahteraan guru, saya pikir masih wajar. Yang mahal itu ilmunya. Tapi benarkah mahalnya pendidikan itu karena untuk mensejahterakan guru/dosen?

Saya rasa sekarang ini mahalnya pendidikan bukan karena itu. Melainkan untuk yang bukan pendidik. Yayasan pemilik sekolah misalnya. Kebanyakan guru tidak tahu menahu soal uang ini itu. Yang mereka tahu hanyalah mengajar. Guru yang baik akan mendidik juga. Tapi tidak jarang guru hanya mengajar, tidak mendidik. Ini biasanya bagi guru dengan penghasilan minim dan bekerja hanya untuk mencari inkam, bukan karena dorongan hati untuk mengajar dan mendidik.

Untuk mereka yang berperan membuat biaya pendidikan jadi mahal, tolonglah, supaya biaya pendidikan bisa diminimalkan.

Uang gedung, uang buku dll. Kalau dulu buku paket bisa diwariskan pada adik, sekarang ini semua serba harus baru.

Apakah ada cara untuk meminimalkan biaya pendidikan? Supaya generasi penerus bangsa kita ini bisa terus bersekolah dan bisa menjadi sumber daya yang memiliki ilmu dan keterampilan maksimum. Berguna bagi dirinya sendiri dan juga bangsanya.
E-mail Pengirim: deroem@plasa.com
Tanggal: 15 agustus 2004


Nama: ari
Dari: yogyakarta/DIY
Saya: Mahasiswa IST AKPRIND
Saran: menurut saya dikarenakan negara kita pendidikan dianggap sebagai salah satu bisnis komersil, bukan sebagai alat mencerdaskan/membangun negara & kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan, dimana perekonomian yang buruk juga salah satu penyebab pendidikan mahal, & tanpa disadari kalau perekonomian takkan membaik & berkembang tanpa didukung dengan pendidikan bangsanya yang kuat.
E-mail Pengirim: ari_buwono@yahoo.com
Tanggal: 15 AGUSTUS 2004


Nama: iwan
Dari: bandung
Saya: Mahasiswa PPS UPI
Saran: Pendidikan Mahal ? emang. Katanya sih biar bisa berkualitas, karena yang berkualitas itu mahal. Tapi kalau begitu hanya orang tertentu saja yang bisa menikmati, bagaimana dengan yang lain yang justru sebagian besar warga negara ini, apa mereka tidak boleh menikmati pendidikan yang bermutu ? apakah pendidikan berkualitas hanya bagi mereka yang punya uang ? Jawabannya jelas tidak, karena di negara lain termasuk negara tetangga kita pendidikan dapat dirasakan oleh semua orang, kaya atau miskin. Pemerintah seharusnya mampu mengupayakan suatu pendidikan yang berkualitas tetapi dapat dijangkau jangan hanya mampu memikirkan isi kantong pribadi saja. Inget masa depan negeri ini ada di tangan anak-anak kita bukan pada kekayaan yang anda kumpulkan. Jadi pikirkanlah nasib mereka agar mereka dapat memperoleh pendidikan yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain hingga mereka mampu bersaing di tengah persaingan global. Sekali lagi pikirkanlah nasib mereka, bukan hanya memikirkan bagaimana merampok negara !!!!
E-mail Pengirim: iwan-h@bdg.centrin.net.id
Tanggal: 16 - 08 - 2004


Nama: Sri Hartini
Dari: Medan
Saya: Dosen Medan
Saran: Pendidikan mahal itu wajar bagi yang menginginkan kwalitas yang bagus, untuk mewujudkan kualitas yang bagus dibutuhkan sarana dan prasarana yang bagus juga, sehingga membutuhkan dana yang besar. Dan pendidikan yang mahal tentu saja hanya orang yang mampu saja yang bisa menikmatinya.

Bagaimana solusi untuk orang yang kurang mampu?

Pendidikan bukan saja tugas dan tanggung jawab pemerintah tapi kita semua, dibentuknya komite sekolah agar masyarakat baik kalangan ekonomi lemah dan ekonomi kuat dapat bergandengan tangan, bahu membahu mewujudkan pendidikan berkualitas bagi orang yang kurang mampu.

Kalau kita menunggu pemerintah untuk 75% perhatiannya pada dunia pendidikan, maka laju pertumbuhan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia akan berjalan lambat, karena hal itu tidak mungkin dalam situasi negara kita seperti ini. Untuk apa menunggu pemerintah, mari kita mulai dari diri kita masing - masing, tanyakan apa yang sudah saya perbuat dan sudah saya sumbangkan untuk dunia pendidikan saat ini.

Kalau belum, lakukan mulai sekarang, "air setetes bila dikumpulkan akan menjadi lautan".

Kritik, tuntutan dan mencari - cari kesalahan pemerintah (bocornya dana pendidikan, KKN dll ) itu juga akan memperlambat laju pertumbuhan pendidikan yang berkualitas, karena pemusatan perhatian kita hanya pada hal itu bukan pada proses pendidikan berkualitasnya, Kita semua tahu sampai dimana kualitas SDM terutama moral para pejabat pemerintahan yang mementingkan kontongnya sendiri, Untuk apa di bahas, dituntut dll, karena tidak akan selesai-selesai dan negara kita masih punya orang - orang yang kualitas nya seperti itu (sangat buruk), buktinya di pilih rakyat. Biar mereka mempertanggung jawabkannya pada sendiri perbuatan mereka pada Tuhan Yang Maha Esa.

Saya berharap kita semua dari seluruh berbagai kalangan dan golongan dapat memutuskan tali ini buruk ini. Mari, mulai generasi kita, kita mulai membenahi kualitas SDM, jangan tunggu orang lain berubah, mulailah dari kita masing - masing.

Kalau kita semua menginginkan kualitas SDM yang baik di negara kita "gampang",

1. Kita semua tahu mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang buruk untuk tidak dilakukan, maka lakukanlah yang baik.

2. Punyailah empati yang tinggi dengan orang lain dan dunia pendidikan, bantu dan turut andil jika anda dapat melakukannya.

Dengan cara ini kemungkinan besar image "pendidikan itu mahal" akan terkikis lambat laun.
E-mail Pengirim: bl3ss1n6@yahoo.com
Tanggal: 16 Agustus 2004


Nama: Albana
Dari: Medan
Saya: Masyarakat Medan
Saran: Mahalnya pendidikan pada dasarnya dimulai ketika pemerintah meluncurkan ide Badan Hukum Milik Negara (BHMN) sehingga memunculkan keresahan di tengah masyarakat. Alasan untuk meningkatkan kualitas ternyata tidak menjawab arti dasar dari pendidikan untuk semua kalangan baik kaya atau miskin di negara tercinta ini. Para petinggi lembaga penyedia pendidikan mengambil moment ini dengan meningkatkan biaya pendidikan di tempat mereka. Dari kondisi ini saya melihat ada dua pihak yang harus melakukan perenungan dan aksi yaitu :

1. Pemerintah dimana mereka memiliki rencana anggaran untuk pendidikan. Contoh PEMPROP Sumatera Utara memiliki Total volume Belanja APBD 2004 Rp.1,4 Triliyun,- dialokasikan untuk Belanja Aparatur Rp. 549 Milyar dan untuk Belanja Publik Rp.891 Milyar. Perbandingan antara Belanja Apartur dengan Belanja Publik adalah 38 : 62 Dengan perkataan lain 38 dana terpakai untuk keperluan pihak yang mengurus, sedangkan alokasi untuk yang diurus 62 (sumber analisis APBDSU Fitra_su@indo.net.id). Tentunya sungguh baik sekali jika perbandingan itu ditingkatkan untuk yang diurus dalam hal ini adalah pendidikan dan para student.

2. Swasta/masyarakat, yang memiliki kekuatan paling besar di negeri ini sebenarnya bisa melakukan sesuatu yang besar untuk mendobrak situasi sulit pendidikan saat ini. Jangan hanya menunggu tetapi berkarya juga walaupun dengan kekuatan yang ada karena kumpulan kekuatan kecil yang menjadi besar lebih kuat dibandingkan kekuatan besar milik seseorang. Masyarakat dan swasta harus menciptakan suasana pendidikan yang partisipatif dan mencerdaskan dengan kekuatan kemandirian tersebut.

Mari kita berpikir bersama berbuat bersama satu kesatuan tanpa perbedaan derajat.
E-mail Pengirim: albana_366@yahoo.com
Tanggal: 16 Agustus 2004


Nama: Gunawan Wijaya
Dari: Bandung
Saya: Masyarakat Bandung
Saran: Mahalnya pendidikan di Indonesia terbilang wajar. Yang jadi masalah naiknya biaya ini tidak diikuti oleh peningkatan kualitas pendidikan, pendayagunaan tenaga kerja siap pakai, lapangan pekerjaan,dan reward untuk para pendidik (katanya dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. MANA BUKTINYA?).

Selama ini tolak ukur pendidikan hanya berupa nilai yang terdapat pada rapor, hasil UAN atau sejenisnya.Tidak ada unsur kreativitas.Ditambah lagi 'hukuman moral' bagi siswa yang mempunyai kemampuan rendah di suatu bidang studi.Kalau sudah begitu,jangankan membaca, melihat sampul buku pelajaran mungkin akan membuat siswa 'eneg'. Dengan reward guru yang rendah, guru juga enggan bersemangat untuk mengajar(Jarang sekali guru yang benar2 pahlawan tanpa tanda jasa). Tentu saja hal ini akan lebih menghambat kreativitas siswa. Akibatnya kualitas tenaga kerja siap pakai pun rendah. Tidak punya posisi tawar yang menguntungkan dan gaji rendah pun diterima saja tanpa banyak tanya (yang penting kerja). kalau gaji saja rendah, biaya pendidikan untuk generasi berikutnya akan terasa MAHAL (nabung dari mana?).

Kreativitas rendah juga menyebabkan orang selalu berpikir untuk dapat bekerja di perusahaan A, perusahaan B, dll. Padahal bisa juga bekerja tanpa terikat orang lain (WIRASWASTA). Bahkan dengan wiraswasta, akan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.

Oknum pemerintah juga lebih memperparah keadaan dengan mengkorup dana untuk pendidikan. Pemerintah seolah2 angkat tangan terhadap masalah pendidikan. Efek bola salju pun terjadi, pengangguran dimana2. kalau sudah begitu,mau diapa-apain juga biaya pendidikan akan selamanya terasa MAHAL.

Kalau saja semuanya mau kerjasama dan tidak bersikap OPORTUNIS pasti keluhan mahalnya biaya pendidikan akan jauh berkurang. Masalahnya siapa yang mau memulai? Pemerintah? Gak bisa diharepin deh. Mungkin salah satu solusinya dengan mengenakan biaya pendidikan seadil mungkin. semakin kaya seseorang, biaya juga semakin mahal. But, WHO CARE?
E-mail Pengirim: awan8019@yahoo.com
Tanggal: 16 Agustus 2004


Nama: WIRAHADI
Dari: DENPASAR/BALI
Saya: Siswa SMA DENPASAR
Saran: OM SUASTIASTU, MENURUT SAYA UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN YANG BAIK MEMANG TIDAK MURAH. JADI HARUS DIMAKLUMI SAJA JIKA BIAYA PENDIDIKAN MEMANG MAHAL. NAMUN JANGAN HANYA KARENA MASALAH ITU KITA JADI PATAH SEMANGAT DAN TIDAK JADI BELAJAR. TETAPLAH BERJUANG DAN YANG PALING UTAMA TETAPLAH BERPRESTASI DAN BERKARYA. JIKA KITA BERPRESTASI DAN BERKARYA SEGALA KEMUDAHAN AKAN MUDAH DICAPAI. SEGALA SESUATUNYA PASTI ADA JALAN KELUAR. HANYA DENGAN RAJIN DAN TEKUN KITA AKAN MENJADI SUKSES. UNTUK MENJADI YANG TERBAIK MEMANG DIPERLUKAN KERJA KERAS YANG LUAR BIASA. ANGGAPLAH PERJUANAGN ITU SEBAGAI PONDASI TERBAIK UNTUK MEMBANGAUN MENARA KESUKSESAN. JADI JANGAN PATAH SEMANGAT LANTARAN BIAYA YANG MAHAL. ITU HAL YANG WAJAR.
E-mail Pengirim: wira3oke@yahoo.com
Tanggal: 16/8/2004


Nama: Nur Arif Fuadi
Dari: Yogyakarta
Saya: Mahasiswa Mat UNY
Saran: Pendidikan adalah hak segala warga negara. Oleh karena itu segala macam tindak pembodohan harus segera dihanguskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Sekolah sekarang di mana-mana mahal, di UNY sekalipun. Pendidikan merupakan investasi masa depan dan peradaban, namun bagaimana pendidikan dapat dijadikan investasi jika tidak semua orang mempunyai tingkat pendidikan yang sama. Untuk orang kalangan atas, mungkin mereka menganggap bahwa pendidikan itu penting dan dapat diperoleh kapanpun dimanapun. Lalu orang miskin menganggap bahwa pendidikan sangat mahal, hanya orang-orang yang luar biasa yang bisa meneruskan pendidikannya sampai ke tingkat yang lebih tinggi, namun setidaknya ada harapan bagi sebagian dari mereka yang kebetulan otaknya encer, mereka dapat meneruskan pendidikannya ke taraf yang lebih tinggi dengan memperoleh beasisiwa, sedangkan yang tidak dapat beasiswa hanya dapat memimpikannya saja.

lain dengan si kaya, lain pula dengan si miskin. Golongan yang dikatakan menengah ini akan sangat kesulitan dalam mengenyam pendididkan. Contohnya saya, Bapak saya dulu seorang guru dan sekarang telah pensiun, ibu saya sudah meninggal 7 tahun yang lalu, kakak saya baru dapat kerja, adik saya masih sekolah, dan saya sendiri kuliah. Gaji seorang pensiunan amatlah rendah, untuk kebutuhan sehari-hari saja harus patungan dengan anak-anaknya. Apalagi pas saya baru saka diterima di UNY, meski senang saya juga bersedih. Pasalnya saya tahu keadaan ekonomi keluarga saya. Bapak saya harus berhutang kesana kemari untuk bisa bayar uang registrasi, dan baru dapat lunas setelah 2 tahun. Itu tahun kemarin, kamus Negeri. Sekarang bayarnya lebih gila lagi, ada istilah baru, yaitu BOP. Kini UNY pun hampir jadi swasta. Makanya, jum'at kemarin (13 agustus) banyak mahasiswa demo. Kasihan dengan mahasiswa baru dan para orang tua wali mahasiswa.

Semoga para pengambil kebijakan-kebijakan lebih bijak dalam membuat segala keputusan. Dan untuk para warga yang peduli pendidikan, saya ingin bergabung dengan kalian, meskipun saya termasuk golongan orang yang tidak mampu
E-mail Pengirim: fuadi_r4@yahoo.com
Tanggal: 16 Agustus 2004


Nama: Maia
Dari: Bekasi/ Jawa Barat
Saya: Masyarakat Bekasi
Saran: Biaya mahal bukanlah suatu solusi yang tepat untuk memperbaiki kualitas pendidikan di negara kita. Seandainya saja pemerintah dan masyarakat golongan atas memiliki kesadaran dan keinginan yang besar untuk memajukan negara ini, tentunya pendidikan akan mendapatkan prioritas utama dalam pembangunan bangsa dan negara. Dengan begitu pendidikan untuk semua kalangan, terutama untuk kalangan kelas bawah dan di daerah pedesaan juga akan terpenuhi.

Satu usul saya adalah bagi yayasan pemberi beasiswa yang biasanya memberikan beasiswa bagi mereka yang berprestasi tapi tidak memiliki biaya, tolong diperhatikan juga mereka yang tidak memiliki kemampuan akademis yang biasa-biasa saja (standar)tapi memiliki kemauan yang besar untuk belajar dan bersekolah. Justru mereka lah yang perlu mendapatkan bantuan karena jumlah mereka banyak dan biasanya mereka berasal dari golongan kelas bawah. Cobalah mengambil contoh masalah pembiayaan pendidikan dari negara lain, seperti Filipina atau Malaysia misalnya.
E-mail Pengirim: m_presilla@yahoo.com
Tanggal: 16 agustus 2004


Nama: Sahala Hutagalung
Dari: Jakarta
Saya: Masyarakat Jakarta
Saran: Pertanyaannya : kenapa pendidikan mahal ?

1. Keterpurukan ekonomi, membuat semua komponen pendidikan mahal, seperti buku, uang sekolah/kuliah, lab & praktik, dll.

2. Anggaran pendidikan yg ditetapkan pemerintah masih sedikit sekali (dari yg sedikit sekali itu pun masih disunat sana-sini oleh koruptor2 yg sudah tdk punya lagi harga diri dan martabat sebagai manusia).

3. Masih semrawutnya sistem pendidikan yg berlaku. Kurikulum yg tdk jelas dan terlalu sering berubah, visi dan misi dari sistem pendidikan yg tdk tepat, pembangunan tenaga pengajar serta sarana dan prasarana pendukung yg minim, dst.

4. Kurangnya peran serta masyarakat. Misal, skrg ini byk remaja2 kita yg berbondong-bondong mengikuti acara2 yg menawarkan sukses secara instan seperti AFI, Indonesian Idol, KDI dan lainnya. Respon dan dukungan masyarakat pun meluas. Tapi apa masyarakat kita juga tahu bahwa baru2 ini ada beberapa remaja pintar kita yg menjadi juara di olimpiade fisika, kimia, dll ? Adakah penghargaan dan gebyar beritanya menyamai apa yg didapat oleh peserta AFI, Indonesian Idol dll ?

Solusinya apa donk ?
Sinergi antara komitmen pemerintah dan peran serta masyarakat. Utk pribadi, mungkin hal2 yg kecil dulu bisa kita lakukan, seperti mengadakan program beasiswa bagi warga lingkungan RT dgn swadaya masyarakat RT masing2. Atau kalau mampu bisa saja mengangkat satu anak asuh dari tetangga kita. Kalau main2 di mall, jgn lupa ajak adik atau keponakan kita ke toko buku, atau kalau ada yg ultah, kasih aja kado buku cerita yg bagus. Trus kalau punya kemampuan mengajar, apa salahnya setiap 2 jam seminggu memberi bimbingan gratis bagi anak2 tetangga mengenai pelajaran mereka. Masih banyak alternatif2 yg lain yg bisa kita lakukan utk memajukan pendidikan di negara kita. Sudahkah kita lakukan salah satunya ?
E-mail Pengirim: ipot_2000@yahoo.com
Tanggal: 16 Agustus 2004


Nama: sri adi widodo
Dari: diy
Saya: Mahasiswa yogyakarta
Saran: pendidikan memang saat ini dirasakan mahal sekali. belum lagi pungli-pungli di tubuh lembaga pendidikan dan depdiknas sendiri yang sering muncul menyebabkan pendidikan kita semakin merosot dan semakin mahal.

saya pernah mengutarakan hal ini berkali-kali baik di forum regional (diskusi pendidikan) maupun nasional (pelayaran kebangsaan 4 atau forum pertemuan bem se indonesia) yang menyebabkan rakyat indonesia tidak pernah bisa maju ya ini pendidikan sudah didominasi oleh kapitalisme pendidikan. sayang sampai saat ini orang yang peduli dengan pendidikan hampir tidak ada alias langka. saya sendiri mengalami bahwa biaya pendidikan hampir mencekik kehidupan keluarga saya yang hanya memiliki penghasilan gaji seorang pensiunan pns. belum lagi adik-adik saya yang harus mengenyam pendidikan saya. sempat saya berpikir bahwa jikalau nanti saya jadi presiden atau mendiknas lah aku akan menaikkan anggaran pendidikan minimal 20% dari apbn dan apbd jangan sampai anggaran pendidikan kalah dengan hankam. dengan anggaran pendidikan tersebut aku akan menciptakan pendidikan yang mampu dinikmati oleh masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah
E-mail Pengirim: sa_dewa@telkom.net
Tanggal: 16 agustus 2004


Nama: Amel
Dari: Bandung
Saya: Mahasiswa Parahyangan
Saran: Sebaiknya segera diambil suatu kebijaksanaan oleh pemerintah untuk segera memikirkan nasib bangsa ini di kemudian hari. Mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 gak akan pernah bisa terwujud kalau para petinggi-petinggi negara kita belum sadar. Biaya pendidikan sebetulnya bisa ditekan jika mereka semua tidak memikirkan kondisi perutnya semata.

Lebih baik gaji para petinggi tidak perlu terlalu tinggi, apalagi diukur dari hasil kerja mereka yang sampai detik ini belum memuaskan rakyat. Lebih baik jika gaji mereka itu dipakai untuk mensubsidi pendidikan di Indonesia sehingga peluang memperoleh pendidikan semakin besar. Kesenjangan juga terlihat dari para anak pejabat yang bersekolah sampai di luar negeri, padahal banyak rakyat Indonesia yang sampai detik ini tidak dapat menempuh pendidikan sekolah dasar. Tolong dong.... kesadarannya...jangan egois deh...
E-mail Pengirim: amei_miauw@yahoo.com
Tanggal: 17 Agustus 2004


Nama: Ressa Pribandono
Dari: Jogjakarta/Jogjakarta
Saya: Mahasiswa UII Jogjakarta
Saran: masa sekarang ini orang miskin ga bisa sekolah gara-gara biaya pendidikan yang mahal banget. saya cuma punya saran gimana caranya buat ngubah sistem pendidikan nasinal kita murah tapi tetep berkualitas sehingga pendidikan bukan suatu hal yang dianggap lux. kasarnya gw pengen banged yang miskin bisa sekolah biar ga tambah miskin trus biar yang miskin bisa naikin taraf hidupnya. Bis gimana gw ga panik kelihatan banged pemerintah sekarang yang masih asik bergulat dengan pemilihan capres dan cawapres malah asik sendiri dengan seenaknya menaikan harga sana sini termasuk juga biaya pendidikan. mari kau, aku bersama -sama kobarkan semangat revolusi pendidikan..... dengan satu tujuan me-MURAH-kan biaya pendidikan. maka dari itu hanya satu kata LAWAN!
E-mail Pengirim: seno_onz@yahoo.com, ressa_andriadhita@yahoo.com
Tanggal: 17 Agustus 2004


Nama: jimmy pramana
Dari: jogja
Saya: Mahasiswa UII
Saran: Bagi saya, pendikan yang murah adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Terus terang saja, saya jenuh+bosan+muak melihat pendidikan yang ada di negara kita tercinta ini. Bagaimana tidak? yang bisa mengenyam pndidikan yang baik adalah orang-orang yang mempunyai akses maupun kmampuan secara materiil maupun finansial. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak mampu secara ekonomis, masyarakat marjinal (anak jlanan misalnya..), mereka hanya bisa ternganga melihat orang lain dengan status sosial yang berbeda mengnyam pendidikan itu. Repotnya, yang mengenyam pendidikan malah mengabaikannya!! Kasus-kasus narkoba misalnya, saya rasa persentase orang miskin yang terlibat hanya sedikit. Orang kaya? ya jelas dong! siapa lagi kalau bukan mereka yang yang menjadi pelakunya.

Sekarang kita bebicara tentang mengapa pendidkan itu mnjadi mahal. Tentu saja sistem bobrok yang selama ini kita anutlah penyebab utamanya. Memang dalam setiap pergantian mendiknas atau kanwil pendidikan di suatu daerah, ada sebuah kebijakan yang berubah. tapi tetap saja intinya bagaimana mengeruk keuntungan dari para pelajar maupun mahasiswa. saya menamai sistem bobrok kita ini untungismeanisasi (mungkin yang baca pada bingung?) karena yang diutamakan pada sistem ini adalah bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan bagaimana caranya membodohkan orang-orang yang menuntut ilmu biar mereka yang menjalankan sistem ini ada penerusnya. kasus riil, dapat kita lihat dari maraknya komersialisasi institusi pendidikan. mulai dari tingkatan TK hingga perguruan tinggi. untuk bisa masuk ke institusi pendikan favorit, tentu saja ada sejumlah "pengorbanan" finansial yang relatif besar bagi orang yang ingin mendapatkannya. Hasilnya? tentu saja bagi orang-orang yang mendapatkan akses di institusi pendidikan favorit akan mendapatkan hasil yang sesuai harapan. bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, relasi yang banyak, dll. tapi sekali lagi saya ingatkan, ini hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang punya fulus banyak!!!

mngenai saran,hanya ada saran normatif yang bisa saya berikan. Ubah sistem dan orang yang menjalankannya dan berpling mukalah pada orang-orang yang tidak mampu. secara konkrit, harus ada tim audit independen di setiap institusi pendidikan yang bisa melihat di mana letaknya kebocoran aliran dana, sehingga tidk bisa disalahgunakan. tentu saja tim audit ini menjadi tanggung jawab pemerintah. tapi jawaban yang ada, ini hanya merupakan sebuah pemborosan (saya menebak jawaban pmerintah, semoga salah). tapi saya yakin, ini bis dijalankan 500 tahun lagi. bila kita semua sudah mati.

saya hanya menyarankan kepada setiap orang untuk bersama-sama mengontrol setiap kebijakan yang ada di institusinya. bersama-sama tentu lebih baik daripada sendiri. dan yang terakhir, selamat hari kemerdekaan. moga-moga kita juga bisa merdeka dalam mengenyam pendidikan. Horay.....
E-mail Pengirim: jimmy_pramana@yahoo.com
Tanggal: 17 agustus 2004


Nama: Khalis Qamarul Haq
Dari: Bandung
Saya: Mahasiswa Bandung
Saran: Klo menurut saya wajar saja biaya pendidikan naik, hal ini dikarenakan subsidi yg diberikan untuk dunia pendidikan sangat kecil dan jgn heran klo org indonesia pd bodoh masa yg akan datang. Coba pemerintah memberikan dana pendidikan yg cukup besar maka indonesia akan terbantukan dehh.....
E-mail Pengirim: kolish_mbojo@yahoo.com
Tanggal: 17 Agustus 2004


Nama: Arief Rachman
Dari: Pangkalan Bun / Kalimantan Tengah
Saya: Masyarakat alumni UGM
Saran: Merdeka!
Sayang kita belum merdeka semuanya. Setidaknya pendidkan kita belum merdeka dinikmati oleh seluruh lapisan generasi muda yang mau dan mampu untuk sekolah. Sedih rasanya pendidikan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang dengan alasan klise: mahal! Saya tahu bahwa tidak cukup hanya dengan bicara, teriak atau demo mahasiswa saja terus pendidikan bisa serta merta murah. Perlu usaha konkrit.

Usul saya simpel, dari dulu pihak rektorat selalu menggembar-gemborkan subsidi silang. Ini yang perlu digalakkan. Ini perlu pendataan yang tentunya membutuhkan kejujuran. Yah semacam daftar kekayaan ala KPK lah, minimal daftar penghasilan. Kalo ini saja tidak bisa dilakukan oleh mahasiswa terutana yang mampu tentunya mental mahasiswa pun dipertanyakan, jangan2 juga sudah terinfeksi oleh virus korupsi. Alasan rektorat bahwa pendidikan tidak mahal adalah karena mahasiswa juga ternyata tidak miskin. Mereka tampil perlente dan trendy. Bukan maksud saya mengkritik penampilan mahsiswa. Tapi mari kita coba untuk introspeksi, jangan2 gara perbuatan kita yang kurang meyakinkan makanya perjuangan menuntut biaya kuliah yang murah selalu gagal.

Usul kedua, berikan data mahasiswa yang tidak mampu kepada dekanant / rektorat sebagai sasaran penerima beasiswa. Ini juga membutuhkan kejujuran lho. Jangan terus rame-rame dipakai sendiri.

usul ketiga: Kalo emang mahal, boleh nggak bayak kuliahnya dicicil tiap bulan:)
E-mail Pengirim: onlyayip@myquran.com
Tanggal: 17 Agustus 2004


Nama: vijjay
Dari: balikpapan
Saya: Mahasiswa unhas
Saran: pendidikan perlu biaya mahal ...namun kiatra jg biasa cari beasiswa .... terutama bagi yang kurang mampu bisa aj ajukan bersiswa ..

contohnya temen saya yg lagi dpt PMDK kedokteran di UNHAS...

tapi tmn saya blg ke pihak unhas bahwa di tdk bisa ambl pmdk tsb karena alasan ekonomi lemah... kemudian pihak unhs kirim surat ke tman saya katanya unhs bersedia membrebaskan biaya kuliah sampai lulus...

disini bisa kita ambl kesimpulan klo kita jgh hanya menyalahkan biaya pendidikan yg mahal ntapi kita jg harus kreatif mencari solusi bukan mencaci
E-mail Pengirim: irwanhebat2003@yahoo.com
Tanggal: 18/8/2004


Nama: Ario Rimbun
Dari: Jogjakarta
Saya: Mahasiswa Jogja
Saran: Ya kalau menurut saya pendidikan yang bagus dan bermutu itu memang mahal tapi disamping mahal fasilitas yang disediakan juga sebanding dengan uang yang dikeluarkan untuk biaya pendidikan itu sendiri.

Mahalnya biaya untuk sekolah mungkin dikarenakan masyarakat kita sudah terbiasa dengan biaya yang dari tahun ke tahun segitu˛ terus ya paling naik gak banyak˛ banget jadi masyarakat jadi kaget kok tiba˛ naik, naiknya aja gak tanggung˛, tapi sekarang Indonesia lagi berusaha untuk bangkit, salah satunya dengan meningkatkan mutu pendidikan. Tapi kalau memang ingin meningkatkan kok malah mengurangi subsidi pendidikan ya ? ANEH...
E-mail Pengirim: badax_oleng@yahoo.com
Tanggal: 18 Agustus 2004


Nama: Rizki Estrada OP
Dari: cimahi/ Jawa barat
Saya: Mahasiswa PTS Bandung
Saran: Mengapa pendidikan mahal??? yang jelas masyarakat di indonesia belum sejahtera, dan belum paham betul tentang pendidikan, sehingga mudah di pengaruhi dan dikelabui oleh bangsanya sendiri. jadi yang paling populer saat dulu sampai sekarang adalah pendidikan korupsi, pendidikan kolusi, dan pendidikan nepotisme, itulah yang mengakar pada bangsa dan rakyat indonesia, atas ulah ....., yang jelas sejahterakan dulu rakyat, dan itu sudah merupakan "pendidikan secara tidak langsung kepada rakyat", kalo mendidiknya KKN, yang ke tangkap oleh otak pun, yaa KKN-KKN juga!!sama aja boong gembar-gembor masalah pendidikan yang atasnya juga perlu di"didik" ulang.
E-mail Pengirim: vi2d_154cr@yahoo.com
Tanggal: 18.08.04


Nama: ivan
Dari: jakarta
Saya: Pengamat jakarta
Saran: Pendidikan Indonesia memang sebuah hal yang cukup memprihatinkan. UUD yang menjamin atau menjadi landasan hukum tentang keharusan pemerintah untuk menjamin pendidikan yang layak bagi warga negara menjadi patah arang dengan kurangnya dana pemerintah dan hutang-hutang yang menumpuk. tapi disisi lain ternyata pemerintah rela untuk menghambur-hamburkan dana kasnya untuk membayari hutang-hutang para konglomerat hitam. Masalah pendidikan di Indonesia akhirnya menjadi sebuah lingkaran setan yang tak ada habis-habisnya. menurut saya inti permasalahan ada pada dua hal:

1. kurang adanya kesadaran yang melihat bahwa pendidikan itu aset, yang memang mengeluarkan biaya yang besar tapi bermanfaat di masa depan.

2. tidak adanya political will yang cukup dr pemerintah sehingga efeknya tidak ada usaha yang signifikan bagi masalah ini.

sedangkan mahalnya biaya pendidikan dapat kita lihat dari dua sisi.

1. keadaan ekonomi sebagian besar masyarakat indonesia.

2. siapa yang seharusnya menjamin tersedianya pendidikan

ketika keadaan ekonomi sebagian besar masyarakat indonesia masing dalam krisis sekarang ini, dan yang bertanggung jawab tehadap pendidikan adalah pemerintah maka seharusnya beban pendidikan tidak layak untuk dibebankan sebesar-besarnya kepada pengenyam pendidikan (siswa). tapi satu hal yang semoga kita setujui bersama bahwa pendidikan itu tak melulu harus disekolah formal.
E-mail Pengirim: asy_gdt@yahoo.com
Tanggal: 19 08 04


Nama: ika
Dari: jatinangor, sumedang
Saya: Mahasiswi fikom unpad
Saran: pendidikan mahal? dilihat dr sisi mana? klo utk mendapatkan pendidikan yg berkualitas qta hrs membayar mahal, saya kira itu wajar misalnya kuliah di luar negeri. tp klo di dlm negeri biaya kuliah mahal misal pts, liat dulu mutunya sesuai dgn yg qta dapatkan ga? klo ga sesuai, bolehlah qta tanyakan ke pihak birokrat uang tsb digunakan utk apa saja. utk yg kurang mampu, di perguruan tinggi biasanya diadakan program beasiswa, knp tdk memanfaatkannya? cara lain dgn menciptakan peluang usaha sendiri misalnya jual kaos ke tmn2 kan duit yg ada bs digunakan utk biaya kuliah. ikutan lomba karya tulis jg bisa menghasilkan uang bila qta bersungguh-sungguh mengerjakannya, selain itu cobalah berprestasi di salah satu bidang yg dikuasai misalnya olahraga arung jeram, tekunilah, ikuti pertandingan2 yg diadakan, klo menang tentu uang yg didapatkan bs utk biaya kuliah. atau klo qta termasuk dr golongan yg mampu, cobalah amalkan ilmu yg qta dpt dg cara mengajarkan pd yg lain, misal memberikan les2 pd siswa2 sekolah dasar/menengah, bs jg mendirikan perpustakaan umum bagi anak2 jalanan sekaligus menjadi "guru" mereka, selain ilmu qta bermanfaat, qta jg mendapat pahala.

drpd qta hanya mengeluh dan mengeluh, lebih baik qta cari solusinya kemudian jalankan rencana tsb toh hasilnya lebih nyata drpd mengharapkan pemerintah mau memperhatikan pendidikan di indonesia (mungkin 10 th lg dr skrg).

ingat, segala sesuatu harus dimulai dr yg kecil, mulai dr diri sendiri dan mulai saat ini jg!
E-mail Pengirim: pinkcat_pd@yahoo.com
Tanggal: 19 agt 04


Nama: Asep Sugandi
Dari: Cibinong/Jabar
Saya: Guru SMP
Saran: MERDEKA!
Memperoleh akses yang 'fair' ke pendidikan adalah salah satu cita-cita bangsa ini ketika naskah proklamasi dibacakan kepada seluruh dunia. Sebab para bapak bangsa itu sadar betul ternyata dengan berpendidikan secara merdeka mereka ternyata bisa mengusir penjajah, mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia, sampai akhirnya mencapai titik puncak perjuangan bangsa tanggal 17 Agustus 1945.

Sampai dengan era pertengahan 70-an Indonesia masih menjadi salah satu negara tujuan mahasiswa asing untuk belajar di sini. tapi sekarang kondisinya 180 derajat terbalik. Ketika dunia pendidikan dipandang atau diasumsikan sebagai ladang pemasukan/bisnis, ketika itulah kita sebenarnya mempertaruhkan akhlak seluruh anak bangsa. Yang ada di kepala anak didik adalah balas dendam untuk dapat mengenyam uang banyak kelak setelah lulus sekolah (=kuliah). Jika disadari betul oleh pelaku pendidikan, apakah guru dan mungkin segelintir penentu kebijakan yang masih peduli, bahwa pendidikan adalah investasi besar sepanjang masa yang harus ditekuni, maka akan bisa mengangkat harkat bangsa. ini bisa dicapai -insya Allah- jika seluruh anggota masyarakat memperoleh akses yang "TEPAT" ke pendidikan. Akses yang tepat ini bisa berupa sekolah gratis, atau subsidi silang antara "anak kaya" dan "anak miskin", atau orang tua asuh (mungkin saudara asuh juga perlu di sini), atau kombinasi dari ketiganya -mungkin-.

Tapi bagaimanapun, dalam situasi serba sulit ini kita tidak boleh berputus asa lalu marah-marah tak keruan, mahalnya harga pendidikan bukanlah alasan bagi semua pihak untuk lalu menjadi patah semangat untuk memperoleh pendidikan, apapun bentuknya.
E-mail Pengirim: gandinsuga@yahoo.com
Tanggal: 20 Agustus 2004


Nama: annie
Dari: semarang
Saya: Guru
Saran: Pendidikan mahal,it's okey, because living cost is getting more expensive of course operational cost of education rises too. Don't we realize the prizes of motorcycles are more and more expensive but noone protested about it and keep on sold out. But as a citizen we make requirement of the increase cost of education:
1 Eradicate the curruption on educational field. Don't make abundant amount of fund.....

Maaf, formulir anda tidak lengkap, mohon mengirim lagi.
Webmaster

E-mail Pengirim: andwi88@yahoo.com
Tanggal: 20 Agustus 2004


Nama: wahidi z
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswa Univ Ahmad Dahlan
Saran: Cuma mau punya usul kecil buat menyelesaikan masalah pendidikan murah. menurut saya usul kecil ini berupa:
Dinas pendidikan agar mewajibkan para Universitas di Indonesia yang memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan untuk membuka sekolah percobaan. dalam sekolah tersebut di ajar oleh para mahasiswa untuk melakukan Kerja Praktek. Tentu saya pikir para mahasiswa yang mengajar tidak perlu diberi honor namun cukup diberi dengan nilai seperti pada kerja praktek disekolah-sekolah yang selama ini terjadi. semoga usulan ini dapat bermanfaat maaf bila ada salah tulis atau ide yang telah tertulis..;)
E-mail Pengirim: wahidiz@telkom.net
Tanggal: 21/08/2004


Nama: Dyan Agustina
Dari: Perth, Western Australia
Saya: Siswi Curtin University of Technology
Saran: Pendidikan Indonesia Mahal?
Untuk merunut akar
masalah, merekonstruksinya, kemudian mencari siapa biang keroknya..Sepertinya bakal buang waktu. Tapi masalah tetap masalah, bukan untuk dicari siapa kambing hitamnya ataupun siapa yang memang betul-betul kambingnya (karena oleh sistem hukum kita, koruptor dkk gak pernah jera!)..Dengan sistem yang morat marit seperti sekarang, ada baiknya kita kreatif, mulai dari yang sederhana saja. Mulai dari diri sendiri. Memperbaiki kemampuan dan menambah pengetahuan secara maksimal, sambil pelan2 membangun diri yang konsekuen dan mandiri. Banyak jalan menuju Cina, kata pepatah lama. Sepanjang caranya halal dan masuk akal. Rusaknya sistem kita juga sebagian karena kita terlalu serakah, manja, menggampangkan sesuatu dan malas.

Senang bisa bergabung dengan Bapak/Ibu/Mas/Mbak/Uni/Abang yang peka dan peduli masalah pendidikan.
Salam,
E-mail Pengirim: qoraima@yahoo.com
Tanggal: 23 Agustus 2004


Nama: rudolf boyke purba
Dari: manado sulawesi utara
Saya: Dosen Politeknik Kesehatan
Saran: Mengapa pendidikan mahal ?
karena pemerintah belum memikirkan prioritas anggaran dalam APBN kita untuk pendidikan. Semua pejabat, pakar pendidikan, ekonomi, anggota dpr dsb mengatakan bahwa pendidikan itu penting untuk meningkatkan sumber daya manusia, tetapi cuma sampai diucapkan saja (lips service, namum kenyataannya di dalam apbn atau apbd prosentasenya sangat rendah. Salah satu indikator Human Develepoment Index adalah pendidikan, namun tetap saja Indonesia belum mampu menciptakan pendidikan yang murah dan semua masyarakat mempunyai hak sama untuk menikmati pendidikan (dasar s/d tinggi. Memang ekonomi bangsa kita masih belum mampu memberikan apa yang terbaik untuk pendidikan kita, inilah yang menyebabkan pendidikan kita itu mahal. Sebenarnya ada jalan keluar yaitu tindak pelaku korupsi, sehingga uang korupsi itu dapat membiayai pendidikan kita.

Negara kita ini memang termasuk yang terbaik dan terkenal, namun terbaik dan terkenal di bidang korupsi kolusi dan nepotisme. Walaupun demikian kita sebagai anak bangsa harus tetap optimis bahwa bangsa kita ini akan lebih baik lagi nanti dalam menangani pendidikan. jangan menyerah, pendidikan itu memang mahal, tetapi mahal dalam arti mampu untuk dijangkau oleh masyarakat jika masyarakat Indonesia telah mampu meningkatkan ekonominya. Oleh sebab itu berdayakan sumber daya yang ada untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. terima kasih.
E-mail Pengirim: rbpurba@yahoo.com
Tanggal: 23-8-2004


Nama: annie
Dari: semarang
Saya: Guru
Saran: Pendidikan mahal,it's okey, because living cost is getting more expensive of course operational cost of education rises too.Don't we realize the prizes of motorcycles are more and more expensive but noone protested about it and keep on sold out.
But as a citizen we make requirement of the increase cost of education:
1 Eradicate the curruption on educational field.Don't make abundant amount of fund just becomes the party of educational authority.
2. Make a smart priority of using the fund.Not only physical building as the project.
3.Promote the quality of profesionalism and prosperity of teachers.
4.There are a lot of schoolarship for poor students. Really? - Webmaster
That's my ideas
E-mail Pengirim: andwi88@yahoo.com
Tanggal: 23/8/2004


Nama: Dyan Agustina
Dari: Perth, Western Australia
Saya: Siswi Curtin University of Technology
Saran: Pendidikan Indonesia Mahal?
Untuk merunut akar masalah,merekonstruksinya,kemudian mencari siapa biang keroknya..Sepertinya bakal buang waktu. Tapi masalah tetap masalah, bukan untuk dicari siapa kambing hitamnya ataupun siapa yang memang betul-betul kambingnya (karena oleh sistem hukum kita, koruptor dkk gak pernah jera!)..Dengan sistem yang morat marit seperti sekarang, ada baiknya kita kreatif, mulai dari yang sederhana saja. Mulai dari diri sendiri. Memperbaiki kemampuan dan menambah pengetahuan secara maksimal, sambil pelan2 membangun diri yang konsekuen dan mandiri. Banyak jalan menuju Cina, kata pepatah lama. Sepanjang caranya halal dan masuk akal. Rusaknya sistem kita juga sebagian karena kita terlalu serakah, manja, menggampangkan sesuatu dan malas.

Senang bisa bergabung dengan Bapak/Ibu/Mas/Mbak/Uni/Abang yang peka dan peduli masalah pendidikan. Salam,
E-mail Pengirim: qoraima@yahoo.com
Tanggal: 23 Agustus 2004


Nama: Rizki
Dari: Bandung
Saya: Mahasiswa itb
Saran: menurut saya, pendidikan mahal ini karena kegiatan pendidikan kurang efisien. Seharusnya pemerintah mensubsidi pendidikan di negeri tercinta ini. Tapi karena terlalu banyak dana yang dikorupsikan dan kurang jujur atau disiplin dan kurang pedulinya pemerintah yang berwenang, maka sekolah atau lembaga pendidikan lain terpaksa menaikkan biayanya sendiri. Ditambah lagi jika lembaga pendidikan tersebut tidak perduli dengan mampu atau tidaknya pelajar, mahasiswa, atau orangtua mereka sehingga mereka membangun atau menaikkan hal-hal yang tidak terlalu bermamfaat, dan tentunya semuanya itu memerlukan dana juga dari siswa/mahasiswa itu sendiri.

jadi saran saya, selain dari pemerintah yang harus "beres", pihak sekolah atau universitas juga harus melakukan efisiensi untuk menurunkan biaya pendidikan. Selain itu juga sebaiknya program beasiswa diperbanyak.
E-mail Pengirim: regression132@yahoo.com
Tanggal: 24-08-2004


Informasi:
Tanggal: Tuesday, August 24, 2004
pendidikan tinggi di indonesia semakin mahal, terbukti dengan meningkatnya biaya spp bagi mahasiswa yang tiap tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan, bagaimana masyarakat cendikiawan menanggapi hal ini ,dan bagaimanakah nasib masyarakat yang kurang mampu, bagi sebagian besar perguruan tinggi negeri mungkin disediakan ,beberapa tipikal beasiswa namun dengan syarat akademis dengan batasan minimal ips minimal 3 dalam skala 4.0, tapi untuk mencapai ip tersebut rasanya akan susah sekali bagi mahasiawa kurang mampu ,karena keterbatasan bahan kajian kuliah, buku kuliah yang mahal , praktikum yang membutuhkan biaya, dan tak pelak juga mereka dibenturkan oleh masalah kehidupan, pencarian penghidupan, dengan kerja sambilan hanya untuk memenuhi tenaga tubuh, kadang biaya hasil sambilan pun tak cukup untuk kehidupan sehari hari, sementara tugas akademis menanti mereka ,adakah yang bisa secara cerdas menanggapi masalah ini,

tolong dibahas ,dan tolong ditampung aspirasi saya, dan anggap ini adalah sebuah bentuk cetak dari suara hati orang kecil,
agus
mahasiswa
a_widodo19@yahoo.com


Nama: Joeyce
Dari: Jakarta
Saya: Masyarakat Jakarta
Saran: Pendidikan Mahal???
Yap.. itulah kenyataannya. Pendidikan yang bukan hanya mahal tapi sangat mahal bagi sebagian orang. Berikut adalah cuplikan pembicaraan saya dengan 2 orang ibu yang kebetulan sedang mencari buku buat anaknya:
Ibu 1: Maaf Mbak, Gramedia dimana ya?
Saya : O ada di Matraman bu, ayo bareng saya aja. (Kebetulan saya mau ke Gramedia Matraman juga)
Ibu 2: Waduh susah sekali sekarang cari buku anak2.
Saya : Memangnya kenapa bu?
Ibu 1: Mbak bayangin aja kita udah cari buku di Pasar Senen dan pasar yang ada jualan buku laen tapi gak ada juga?
Saya : Ehm..Kenapa gak beli di sekolah aja Bu?
Ibu 2: Waduh Mbak, beli buku di sekolah itu mahal banget belum lagi uang sekolahnya ditambah segala tetek bengek lainnya.
Saya : Oh ya?
Ibu 2: Apalagi orang seperti kami, anak udah sekolah udah syukur banget tapi ....
Ibu 1: Tapi biayanya itu yang buat kami pusing, kalau dulu buku kakaknya masih bisa dipakai adik tapi sekarang tiap tahun ganti buku karena alasan ganti kurikulum padahal hanya beberapa halaman aja yang diganti. Mana gurunya mewajibkan ganti lagi. Kasihan anak saya Mbak kalau gak ganti nanti bingung nyari halamannya.Yah.... (dengan mata menerawang memikirkan kesulitannya).
Ibu 2: Tapi gimanapun kami mau anak kami sekolah jadi yah begitu deh Mbak...
.........bersambung..........
Saudara-saudara, itu hanya cuplikan kecil dari pembicaraan saya dengan 2 orang ibu belum lagi dengan para suir taksi/bajaj yang entah kenapa suka cerita mengenai mahalnya pendidikan dan kesulitan mereka kepada saya. (Kebetulan yang aneh... tapi menyedihkan). Dan bukan hanya mereka.... SAYA JUGA sebenarnya berpendapat yang sama. Tapi anehnya, entah kenapa pendapat2 ini sepertinya merupakan PENDAPAT yang tindak lanjutnya tidak berujung pada perbaikan anggaran pendidikan dan kualitas pendidikan. Siapa yang patut disalahkan? Pemerintah? Pihak Sekolah? Orang tua? atau situasi? Jawabannya adalah "???". "???" turut andil dalam menyebabkan pendidikan mahal. Kenapa? Karena jika "???" (yang tidak merasa merenung, yang merasa berubah ya...!!) tidak berusaha mengambil untung ganda pada saat penjualan buku maka harga buku bisa ditekan, jika "???" tidak berusaha memotong beasiswa yang didapat anak-anak maka pasti akan meringankan beban siswa, jika "???" tidak gonta-ganti "kulit" kurikulum dengan alasan perbaikan mutu tapi sebenarnya tidak mendasar dan untuk kepentingan penerbit maka "buku turunan" yang tidak mahal bahkan bisa gratis itu dapat diperoleh siswa dari kakak kelasnya, jika "???" tidak hanya berteriak perbaiki mutu pendidikan tapi mempertahankan anggaran pendidikan kecil dan menaikkan anggaran yang kurang perlu, jika "???" tidak hanya berbicara tapi melakukan aksi nyata dengan perbaikan cara mengajar sebagai kewajiban moral dan bukan pendapatan semata, dan jika "???" terdidik secara benar dari awal baik pengetahuan, moral dan spiritual. Maka....akan ada banyak pimpinan, pekerja dan pendidik yang benar-benar terdidik. Maka... akan bermunculan si A,B,C dst yang walaupun anak supir taksi/bajaj/angkot, tukang kue, atau apapun namanya, yang benar-benar mengecap pendidikan sampai tingkat tinggi dan melakukan perubahan yang membuat ayah-ibunya bangga karena prestasinya. Maka...Indonesia akan "BANGKIT", dan itu semua adalah buah dari pendidikan yang TIDAK MAHAL tapi bukan berkualitas MURAH.
E-mail Pengirim: joeybeen@yahoo.com
Tanggal: 26 Agustus 2004


Nama: triestyani
Dari: tasikmalaya/jawa barat
Saya: Mahasiswi uny
Saran: menurut kita, BOP emang perlu tapi jangan kelewat mahal dong!!! kalo dikit sih gak apa2 maklum lah bokap kita kerja sebagai PNS di Sekolah Dasar lagi. Oh ya, buat rektor di semua PT bagi2 dong persenan BOPnya, jangan dikantongin sendiri, kan perut buncit keliatan banget.Saran kita sih sederhana, biayanya jangan kemahalan, kita gak minta gratis kok!!
E-mail Pengirim:
Tanggal: 29 agustus 2004



Ke Halaman: 2

Kembali ke Halamam Utama