|
Nama: Nia Dari: Banda Aceh Saya: Masyarakat Banda Aceh Saran: Saya sangat prihatin sekali dengan pendidikan yang sangat mahal. Memang sih ada pepatah yang mengatakan bahwa pendidikan itu mahal tapi lihat dong kondisi masyarakat kita sekarang tidak memungkinkan jika biaya pendidikan sangat tinggi. Kita harus real bahwa tingkat kesejahteraan sebagian masyarkat kita sangat rendah dan tentunya ini akan membebani mereka dan mengakibatkan banyaknya anak yang akan putus sekolah.
Ekses dari ini akan meningkatkan kriminalitas di negara ini. Ini seharusnya menjadi bahan pemikiran buat negara untuk memberikan subsidi kepada anak-anak yang tidak mampu bukan kepada mereka yang kaya. Selama ini kan beasiswa yang diberikan juga kepada siswa yang kurang mampu tidak pernah tepat sasaran. Malah anak orang kaya yang dapat beasiswa dan beasiswa itu mereka gunakan hanya untuk traktir teman-temannya. Betapa tragisnya kan berbahagia di atas penderitaan yang lain.
Oleh karena nya pendidikan seharusnya memihak kepada azaz keadilan. Boleh saja mahal tapi untuk anak-anak orang kaya. Sedangkan untuk anak-anak orang miskin di berikan subsidi dong!!!!@ E-mail Pengirim: hsb_tina@yahoo.com Tanggal: 30 Agustus 2004
Nama: Renov Natalina Dari: Medan/sumatera Utara Saya: Mahasiswa Medan Saran: saya prihatin atas dunia pendidikan yang 'berbau' kapitalisme itu. artinya pendidikan nantinya akan hanya dinikmati oleh yang punya duit saja, yang tidak punya tidak menikmati. Saran saya adalah realisasikan segera anggaran pendidikan sebesar 20%, Kemabalikan PT pada hakekatnya (BHMN) dicabut. Pendidikan adalah hak setiap warga negara (UUD 1945) E-mail Pengirim: lina66_anipar@yahoo.com
Saran Webmaster: Sebetulnya pendidikan biasanya murah atau gratis di sistem dan negara "kapitalisme", mereka sangat menghargai pendidikan dan perkembangan negaranya. Masalah disini adalah korupsi. Berapa % anggaran negara dibagi untuk pendidikan, berapa % untuk korupsi? Memberantaskan korupsi - pendidikan murah! Salam hormat, Webmaster. Tanggal: 30 Agustus 2004
Nama: Mochammad Syifa Dari: Kediri/Jawa Timur Saya: Mahasiswa UMY Saran: Pendidikan mahal seharusnya bukan menjadi tanggungan masyarakat. Pemerintah seharusnya harus serius mengatasi masalah ini. Klo menurut pendapat orang awam seperti saya, pendidikan mahal disebabkan karena para pejabat kita korupsi terus, sehingga dana pendidikan yang seharusnya untuk rakyat menjadi berkurang. Untuk itulah, ayo para pejabat semua jangan pada korupsi, kasihan kita rakyat kecil yang harus "tercekik" dengan biaya pendidikan. Hidup pendidikan!!!!!!! E-mail Pengirim: zeev4_young@yahoo.co.uk Tanggal: 6-9-2004
Nama: Y A N T O Dari: Malang-Jawa Timur Saya: Mahasiswa FE Universitas Muhammadiyah Malang Saran: QuoVadis Sekolah Favorit
Jarak antara sekolah favorit (baca: unggulan) dengan sekolah pinggiran (baca:non unggulan) semakin merentang jauh. Pandangan positif kepada sekolah favorit perlu disoal kembali. Sebab sebagaimana pisau bermata dua, keberadaannya membawa implikasi pada diskriminasi pendidikan. Inilah yang disebut quo vadis.Akhirnya keadilan berdasarkan proporsional benar-benar terjadi. Bagi keluarga miskin yang tidak memiliki banyak uang, harus siap bersekolah dengan prasarana yang sangat minim. Bahkan mereka juga harus siap menjadi korban dari adanya kebijakan sepihak pemerintah. Contohnya, kebijakan memperketat kelulusan untuk naik kejenjang pendidikan berikutnya, dengan dalih peningkatan mutu out put pendidikan.
Disinilah masalah industrialisasi pendidikan mengemuka. Sudah jelas jika pendidikan dimaksud sebagai dasar untuk menanjak pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maka kenaikan biaya-biaya yang melambung tinggi, khususnya pada sekolah favorit akan menyebabkan lebih banyak keluarga miskin frustasi. Kemudian meningkatkan spekulasi pelajar yang terancam putus-sekolah. Dibalik itu persoalan teknologi juga menjadi kendala yang menyertai kualitas out-put pendidikan. Alih-alih peran dan fungsi pemerintahan terhadap keberhasilan maupun kemunduran dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan sama sekali.
Conny Semiawan (1996) menekankan, pendidikan memiliki peran ganda pada tiap jenjang pendidikan, yaitu sebagai (1) dasar untuk menanjak pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, (2) memiliki kesiapan tertentu untuk memasuki dunia kerja dan untuk mencapai kemandirian kerja (self-employment). Untuk itu bukan ketrampilan lahiriah dan perolehan pengetahuan substansial saja yang diperlukan untuk berkinerja, melainkan peningkatan ketrampilan berpikir yang berkualitas (quality thinking skills) yang harus ditempa sejak dini. Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah harus dipertajam, demikian juga kemampuan mengatasi masalah harus menyertai pendidikan teknologi dan upaya melek teknologi.
Mengenai masalah ini, Francis Wahono (2001)menemukan, daya dukung ekonomi bangsa yang berat dalam menyelenggarakan kependidikan nasional, dapat dibaca dari masih amat rendahnya tingkat pencapaian semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar, sampai, menengah pertama dan atas, bila dibandingkan dengan tingkat pendaftarannya. Kalau tingkat pendaftaran dari anak usia sekolah SD sangat tinggi (berkisar antara 93.90% sampai 95.37%) dari tahun ketahun sejak tahun 1994 sampai 1998 (95.31% untuk perempuan dan 94.85 untuk laki-laki), baik untuk anak laki-laki maupun perempuan, maka tingkat pencapaian jenjang kelulusan amatlah rendah (antara 26.39% sampai 30.57%), hanya sepertiga dari tingkat pendaftarannya. Jadi itu berarti yang duapertiga anak-anak yang bersekolah dijenjang SD menjalankan putus-sekolah (drop out). Menurut Wahono, berbagai alasan dapat diberikan. Tetapi terutama dalam kaitan dengan beban ekonomi masyarakat untuk menopang pendidikan yang amat besar, adalah karena kesulitan finansial, yang akhirnya ujung-ujungnya demi alasan membantu ekonomi orang tua, anak-anak terpaksa sudah harus masuk pasar kerja yang keras kompetisinya sebelum kedewasaan psikologi-sosialnya dan fisiknya memungkinkan untuk itu.
Otonomi daerah pun bukan jawaban manjur bagi problematika pendidikan. Utamanya dalam hal pengembangan mutu sekolah. Hak pengaturan dalam otonomi pendidikan yang dimaksud sebagai dasar pengembangan potensi lokal banyak disalahgunakan. Sekolah-sekolah yang difavoritkan masyarakat, secara merata hampir disetiap daerah, melegitimasi jenis-jenis biaya baru menjelang penerimaan siswa baru. Salah satu contohnya adalah kasus di kota Malang. Disinyalir ada 50-an sekolah yang patut diduga melanggar ketentuan. Beberapa lembaga pendidikan itu tersebar dari tingkat dasar sampai ke tingkat menengah serta sekolah kejuruan. Menurut Kepala Bawasda Pemkot Malang, Mardiono, berdasarkan laporan masyarakat yang masuk ke Bawasda, sekolah-sekolah favoritlah yang paling banyak melakukan pelanggaran (Suara Indonesia,3/9/2004).
Kondisi ini sangat memprihatinkan. Ditinjau dari aspek sosial dampak industrialiasi sekolahan kepada kalangan keluarga miskin sekurang-kurangnya terdapat beberapa hal. Pertama, akibat fasilitas dan SDM pendidik (baca: guru) yang minim kualitas, maka secara equal mencetak out-put asal-asalan. Maksudnya asal mendapatkan ijasah sekolah. Soal kecakapan berpikir sekaligus penguasaan teknologi nomer kesekian, artinya tidak perlu merasa dirisaukan.
Dalam jangka panjang, bangsa ini akan mengalami kerugian serius. Sebab penduduknya semakin banyak, namun kualitas hidupnya merosot tajam. Masyarakat menjadi power-less ditengah-tengah persaingan global. Sehingga berpengaruh kepada penurunan mutu daya saing pekerja. Kedua, pendidikan menjadi triger atas keresahan masyarakat menyangkut beban hidup yang semakin berat. Dengan terbatasnya nalar dan kemampuan memecahkan suatu masalah, masyarakat cenderung mudah marah dan melakukan hal-hal yang sifatnya irasional, merusak, kriminal dan lain sebagainya. Ketiga, menegaskan adanya struktur atau kelas-kelas dalam kehidupan sosial masyarakat. Hal ini menyebabkan kesenjangan bukan hanya masalah ekonomi tetapi juga sudah mencakup masalah pendidikan.
Campur tangan pemerintahpun tidak sepenuhnya dapat berhasil dalam membina sekolah-sekolah yang mahal. Sebab, kewenangan tersebut hanya sebatas memberikan rambu-rambu saja dan memperingatkan hal yang diluar ketentuan peraturan. Diluar itu pemerintah tidak akan mampu memberikan sangsi tegas karena belum ada perundangan yang mengatur. Akhirnya masyarakat sendirilah yang diharapkan menjadi watch dog atau pengontrol keberadaan sekolah.
Indra J. Pilliang (2003) menceritakan pengalamannya yang menarik sehubungan masalah ini. Dari seorang sopir taksi diketahuinya, ada sekolah negeri dibilangan Cikampek yang mempersulit setiap calon siswa baru untuk mendaftar. Walaupun sang calon siswa juara pertama dari SD sampai SMP, dikatakan oleh sekolah tersebut si siswa "tidak dapat bangku". Hampir setiap wali murid diberi jawaban yang sama. Tetapi diketahui kemudian petugas sekolah minta uang Rp 2,5 juta per anak. Apa yang terjadi? Wali murid sepakat tak memasukkan anak-anak mereka disekolah negeri itu, tetapi memilih sekolah swasta. Sekolah negeri tadi pun akibatnya hanya punya beberapa murid kelas satu.
Gambaran ini jelas memberikan pengertian, sikap kritis dari masyarakat sebagai salah satu pihak yang sangat berkepentingan dengan pendidikan itu sendiri tidak dapat diabaikan. Bagi sekolah, kendala operasional yang berkaitan dengan biaya harus dijadikan suatu tantangan untuk melakukan inovasi. Bagaimana menciptakan sumber-sumber pendanaan diluar konteks menarik dana sepenuhnya dari orang tua siswa. Salah satu contohnya, seperti rencana pengembangan sekolah tembakau di kota Jember. Dengan demikian sekolah akan mampu menarik para investor untuk menyumbangkan dananya karena memiliki kepentingan atas sekolah tersebut.
Penulis:YANTO
Mahasiswa FE Universitas Muhammadiyah Malang
E-mail Pengirim: yanto_sagu@yahoo.com Tanggal: 1 September 2004
Nama: Abdillah Hanadi Dari: Malang/Jatim Saya: Dosen UM Saran: Mahal atau tidak itu relatif. Kalau kita punya uang, 200 juta rupaih tak mahal. Kalau tidak punya, 2000 rupiahpun mahal.
Manurut saya, kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa biaya pendidikan itu mahal, karena masih banyak pula yang murah; yang biasanya dimuat di media massa biasanya adalah kasus-kasus yang dirasa mahal.
Seharusnya biaya pendidikan itu yang adil, artinya bagi yang mampu ya biayanya agak tinggi, sedangkan yang tidak mampu ya jangan disamakan dengan yang mampu. Biaya tinggi dari yang mampu itu juga mestinya bisa "membantu" yang kurang mampu.
Pemerintah juga harus sungguh-sungguh dalam efisiensi anggaran dan merealisasikan prioritas anggaran untuk program pendidikan. Birokrasi pendidikan harusnya lebih mengutamakan layanan pendidikan, bukan minta dilayani oleh pelaku pendidikan dan masyarakat.
Wassalam E-mail Pengirim: wanabid@telkom.net Tanggal: 12-09-04
Nama: Sangadi Dari: Semarang Saya: Staf Administrasi Saran: mahal! emang buku itu loh yang paling mahal masa sih harus ganti tiap tahun, punya kakak tak bisa dipakai oleh adik padahal kan perbedaannya tak banyak ya yang beda aja yang harus di beli yang sama jangan, sekarang guru juga pada bisnis sih itu yang bikin mahal. E-mail Pengirim: Tanggal: 23-9-2004
Nama: Priadi Pracoyo Dari: Bandung Jawa Barat Saya: Staf Administrasi FRI-YPSDM Saran: Di Negara yang entah kenapa saya bela ini, Harga apa yang bisa menjadi murah selain Harga diri?
Jika kita hitung-hitung biaya yang dibutuhkan untuk membangun sekolah, menggaji guru, menggaji staf, membayar biaya operasional, membeli peralatan, dll memang realistis jika mahal.
Kenaikan biaya pendidikan memang merupakan konsekuensi logis dimana negara tidak sanggup lagi membiayai.
Tapi bagaimanapun juga penyelenggaraan pendidikan merupakan tangungjawab negara. Jadi jika pemerintah ingin negara ini tetap berdiri tegar, pendidikan harus dimudahkan karena pendidikan adalah tiangnya kemajuan bangsa. Pada saat kampanye, partai dan capres mengumbar janji akan mengalokasikan 20% untuk dana pendidikan, marilah kita sama sama perhatikan apakah betul betul terealisasi dan tepat. Saya fikir kita harus bersama sama memperbaiki ini. saran saya:
untuk pemerintah:
Tolong sadarilah bahwa pendidikan adalah tiang menuju indonesia yang lebih baik. Berantas korupsi karena korupsi adalah kejahatan yang paling terkutuk. KArena korupsilah dana untuk pendidikan jadi dikurangi. Realisasikan 20% dana APBN untuk pendidikan secara tepat.
untuk masyarakat:
Taatlah membayar pajak karena dari pajak pula lah negara mendapatkan dana untuk pendidikan.
untuk webmaster:
Terimakasih E-mail Pengirim: dodo_028@yahoo.com Tanggal: 13 Oktober 2004
Nama: Mita Dari: Jawa Timur Saya: Dosen Institut di Madiun Saran: Saya ingin memberikan tanggapan tentang semakin mahalnya pendidikan di Indonesia terutama untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Selama ini masyarakat memilih PTN karena kualitas yang bagus dan biaya yang murah, dan ini sangat menunjang bagi masayarakat menengah ke bawah yang mempunyai kemampuan akademik diatas rata-rata untuk melanjutkan sekolah di PTN, tetapi dengan mahalnya biaya pendidikan di PTN, masyarakat tersebut menjadi enggan. Sebagai contoh ada tetangga saya diterima PMDK di sebuah PTN Terkenal di Yogyakarta dan diminta membayar 10 juta, sedangkan orang tuanya hanya seorang tukang becak, mana mungkin dia mampu membayar uang tersebut, akhirnya mengundurkan diri dan kuliah di Univ. swasta di kotanya, padahal anak tersebut mempunyai kemampuan akademik yang bagus.
Sedangkan sekarang pada PTN diterapkan subsidi silang, tapi kenyataannya kebanyakan yang diterima yang mau membayar mahal, bahkan sampai ratusan juta rupiah pada jurusan-juran favorit seperti kedokteran, Ekonomi, Teknik Industri, Dll., yang biasanya mereka hanya memiliki kemampuan akademik pas-pasan dan bahkan kurang sekali. Karena kemampuan yang pas-pasan tadi sehingga biasanya pada waktu kuliah mereka keteteran, terutama mahasiswa fakultas kedokteran tetapi karena mereka mampu meberikan fasilitas pada PT maka akan ditoleransi. Saya prihatin, bagaimana nanti mereka akan mengabdikan diri pada masyarakat setelah menjadi sarjana nanti, terutama dari kedokteran yang menyangkut nyawa manusia. Apa mereka bisa menjadi sarjana yang bisa mengemban ilmunya kepada masyarakat? Atau hanya bisa menjadi sarjana atau dokter yang hanya mengeruk uang bahkan sering terjadi mal praktek yang disebabkan karena mutu dari sarjana/dokter tersebut yang kurang. Ini perlu ditanggapi secara serius, PTN jangan hanya memikirkan uang saja tetpai harus memikirkan juga kualitas dari sarjana yang dikeluarkan. E-mail Pengirim: Mita@PENDIDIKAN.zzn.com Tanggal: 15 Oktober 2004
Nama: Abd. Radjab Dari: Makassar/Sulsel Saya: Masyarakat Makassar Saran: Biaya Pendidikan kita dikatakan mahal tergantung yang memandangnya, kalau orang mampu hal tersebut tak ada masalah tetapi bagi orang kurang mampu memang terbilang mahal. Saya rasa, biaya pendidikan kita dapat menjadi murah sekalipun mereka yang kurang mampu melihatnya, yakni diharapkan kepada Presiden terpilih kita harus menempatkan orang-orang bersih dan sangat tahu kondisi masyarakat Indonesia terutama yang bermasalah pokok tentang dana (uang) dan program kerja yang bernama proyek ini dan itu yang sering mengalami kebocoran. Tindakan KKN harus tegas dan terlaksana hukumnya. Kalaupun nantinya biaya pendidikan tetap mahal tetapi hasil yang diperoleh harus memuaskan.
Saran saya, pemerintah juga harus memperhatikan SDA pengajar, maaf masih banyak guru-guru sekolah yang ongol-ongol & berpengetahuan rendah dan Kepala sekolah yang berotak bisnis di lingkungan sekolah yang dipimpinnya. E-mail Pengirim: irradjab@yahoo.com Tanggal: 17 Oktober 2004
Nama: Subenk Dari: Jawa Timur Saya: Mahasiswa Malang Saran: AGAMA adalah tempat berpijak bagi umat manusia dalam membangun pilar peradaban yang berlandaskan pada nilai-nilai etik dan spiritual. Namun bukan berarti agama selalu memerankan diri dalam bentuk yang ideal tersebut. Bisa jadi peran agama justru membeku serta tak sanggup menjawab persoalan aktual yang kini dihadapi umat manusia. Agama dipenuhi dengan dogma yang tidak bergerak, yang biasanya disebut sebagai kitab suci (sacred text). Agama menjadi kehilangan nafasnya tatkala umat manusia tak mampu menangkap spirit kitab suci dan dogma-dogma tersebut untuk dihadirkan pada alam realitas kekinian. Maka sikap kritis diperlukan agar ajaran agama bisa hidup dan senantiasa aktual dalam menafsir makna zaman. E-mail Pengirim: zoob_khan@yahoo.com Tanggal: 19 Oktober 2004
Nama: Ahmad Fidar Firdausy Dari: sidoarjo/jatim Saya: Siswi sman 1 gedangan Saran: subsidi yang diberikan oleh pemerintah pada dunia pendidikan janganlah dibatasi, karena taraf pendidikan Bangsa Indonesia sangat kurang karena keterbatasan buku penunjang belajar yang diberikan kepada kami karena buku yang diberikan oleh pemerintah yang semuanya berada di perpustakaan tidak sesuai dengan kurikulum yang diterapkan disekolah saya yaitu KBK. Saya mohon kepada pemerintah sekarang untuk memenuhi kebutuhan buku untuk sekolah-sekolah yang kurikulumnya KBK di Sidoarjo Jawa Timur E-mail Pengirim: labkom@sman1g.com Tanggal: 24oktober2004
Nama: hantoro Dari: salatiga jateng Saya: Mahasiswa Saran: PENDIDIKAN YANG ADA DI INDONESIA SAAT INI MAHAL KARENA DI SEBABKAN ADANYA POLITIK YANG ADA ,YAITU BAHWA DENGAN ADANYA PENDIDIKAN INI KEMUDIAN DI JADIKAN SEBAGAI AJANG BISNIS DI DALAM BIDANG PENDIDIKAN ITU SENDIRI, DENGAN TIDAK ADANYA UANG SPP BAGI SEKOLAH SD SMP DAN SMA NAMUN KEMUDIAN DI GANTI DENGAAN DANA YANG LAIN. PADAHAL BAGI MASYARAKAT YANG TINGKAT PEREKONOMIANYA MENENGAH KEBAWAH, UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP NYA SAJA SUDAH MERUPAKAN BEBAN YANG BERAT.
DENGAN ADANYA AJANG BISNIS DALAM PENDIDIKAN ITU YANG SELANJUTNYA TERJADI KESENJANGAN SOSIAL YANG TIDAK ADA BERAKHIRNYA, UNTUK ITU SEBAGAI PEMUDA HANYA SATU TEKAT SATU TUJUAN PERLAWANAN KITA SEBAGAI INTI PERUBAHAN DI DALAM MASYARAKAT TERHADAP PENYIMPANGAN YANG TERJADI DITINGKATAN PENDIDIKAN UNTUK ITU SEKALI LAGI MARI BERSAMA LAKSANAKAN REVOLUSI PENDIDIKAN.LAWAN KETIDAK ADILAN! E-mail Pengirim: HAN_TORO@yahoo.com Tanggal: 29 OKTOBER 04
Nama: SUTRISNO Dari: BANDUNG Saya: Dosen BANDUNG Saran: Di negara manapun di dunia ini Pendidikan adalah "COST CENTER" karena pendidkan adalah harapan masa depan bangsa, sedangkan di Indonesia, negeriku tercinta ini, sejak PTN menjadi BHMN pendidikan bergerak menuju ke "PROFIT CENTER". Yang selanjutnya dicontoh oleh sekolah2, institusi pendidikan dijadikan bisnis pribadi. Saran saya : Amandemen UU Pendidikan, BUBARKAN BHMN jika kita masih menginginkan masa depan yang lebih baik.
Yang punnya ide bikin BHMN itu bagaimana cara berpikirnya ???? Mau dikemanakan masa depan bangsa ini? E-mail Pengirim: sutrisno@len.co.id Tanggal: 30-10-2004
Nama: SAI Dari: Cirebon Saya: Siswa SMAN1 Saran: Ass.
Sebenarnya biaya pendidikan dapat lebih ditekan kalau saja pemerintah lebih serius menangani. "Cari dana buat kampenye aja bisa..." Tapi itu bukan berarti sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Masyarakat kalangan atas juga seharusnya turut turun tangan, misalnya dengan menjadi orang tua asuh. Yang harus dilakukan bangsa Indonesia saat ini untuk bangkit adalah memajukan pendidikan moral dan IPTEK sehingga "INSYA ALLAH" tercipta generasi yang tangguh. Kita semua harus bersatu, meningkatkan kepedulian terhadap sesama bukannya cuek.
ALLAHU AKBAR!!!
Wass. E-mail Pengirim: Tanggal: 24-11-2004
Nama: Izzah Dienillah Dari: Cirebon Saya: Siswa SMAN1 Saran: Ass.
Pendidikan mahal itu sebenernya karena pemerintah ndiri ngelepasin tanggung jawabnya dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Nah, karena pemerintah udah lepas tangan, muncul "tangan-tangan" yang membisniskan pendidikan, gtu loh. Walhasil terciptalah pendidikan yang mahal n tak terkontrol. Woy pemerintah!!! Kemana dikau, jangan mentang-mentang banyak utang, pendidikan jadi no buntut alias kagak diurusin donk!
Wass. E-mail Pengirim: Tanggal: 24-11-2004
Nama: Eka Dari: Sumatra Utara Saya: Siswi Medan Saran: Saran saya memang pendidikan patut mahal akibat dari perkembangan zaman. Tapi, tidak akan terasa mahal jika anda benar-benar menikmati hasil dari jerih payah yang anda berikan untuk masa depan anak-anak anda. Memang sebagai orang yang kurang mampu merasa sangat susah untuk bertahan hidup, namun jika anda inginkan adanya perubahan haruslah dimulai dari diri sendiri yang dahulu berubah. Jika anda merasa lemah, anda dapat memohon bantuan dari Yang Maha Kuasa. Anda juga harus mau belajar untuk tidak hanya bergantung pada Yang Maha Kuasa. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk mengajukan saran.
Mohon maaf jika ada kata atau kalimat yang tidak berkenan di hati anda. E-mail Pengirim: ekawati_ritonga@yahoo.com Tanggal: 30-11-2004
Nama: Adem Dari: Majalengka/Jabar Saya: Guru SMAN 1 Majalengka Saran: Salam,
Untuk mencerdaskan anak bangsa sesuatu yang disebut pendidikan perlu dana sampai besar (mahal) boleh saja, kita danai bersama. Memang hasil pendidikan akan dirasakan manfaatnya oleh diri peserta didik sendiri, tapi pada gilirannya si peserta didik itu akan memberi kontribusi pada bangsa, menjadi aset bangsa, aset suatu perusahaan misalnya yang membuat perusahan itu semakin maju, berkembang dan bertambah keuntungannya, dan akan menjadi pelaku terjaminnya keberlangsungan peradaban manusia.
Danai pendidikan ini oleh negara, swasta pemilik perusahaan atau yang mulia para dermawan, dan oleh peserta didik. Kenakan pada yang terakhir ini sedikit saja dana yang ditanggungnya, ga usah gratis, kalau maksa mau digratiskan semoga diikuti dgn ketulusan. Salam. E-mail Pengirim: ademsmansa@plasa.com Tanggal: 2 Desember 2004
Date: Sun, 12 Dec 2004
From: "Zoeraini Djamal" asosiasi_dosen@yahoo.com
Pendidikan Mahal?
"Mengapa Pendidikan Mahal"
Oleh: Zoer’aini Djamal Irwan
Memang terasa sekali pendidikan itu mahal sekarang. Lebih ironis lagi sudahlah uang pendidikan terasa tinggi, hasilnya atau mutunya atau kualitasnya konon menurun. Disamping kita juga kita merasakan kekurangan sekali yang berkaitan pendukung pendidikan seperti gedung, perlengkapan, guru/dosen yang nasibnya menyedihkan dengan gaji yang sangat kecil. Kalau kita telaah secara keseluruhan semua bahan-bahan pendidikan maupun bahan makanan juga mahal, dan pengangguran juga semakin banyak. Sebenarnya kenapa dan apa yang jadi masalah. Coba kita telusuri:
1. Kalau kita kembalikan kurs dollar sebelum reformasi, yaitu sepertiga lebih dari sekarang, artinya pendidikan itu hanya sekitar sepertiganya dari yang sekarang
2. Konon uang dikorupsi bisa sampai 40-60%, apakah uang pendidikann itu juga dikorupsi? Mungkin saja, karena pembangunan gedung misalnya bisa saja di “mark up” sampai 100% bahkan ada yang lebih
3. Pendapatan masyarakat yang rendah, sehingga daya beli/bayar juga rendah
Kalau begitu kita adapt ambil kesepakatan bahwa, bila korupsi berkurang, kita dapat menaikkan gaji guru/dosen. Bila gaji guru/dosen baik, menjadikan guru/dosen itu sejahtera, maka para guru dan dosen itu dapat mencurahkan perhatian kepada tugas pokoknya yaitu mendidik. Untuk itu mereka harus selalu meningkatkan profesionalismenya.
Bila profesionalisme guru/dosen terbangun dan terus meningkat, akan dapat meningkatkan proses belajar mengajar, sehingga suasan kondusif di sekolah/di kampus terbangun maka diharapkan mutu juga dapat meningkat.
Sekarang bila perubahan dapat terwujud dalam pemerintahan, dimana pendidikan menjadi fokus, anggaran pendidikan dari APBN/APBD paling tinggi seperti di Malaysia, bila Korupsi/Kolusi/Nepotisme berakhir, maka Insya Allah pendidikan dinegeri kita ini akan sukses. Dengan demikian mungkin juga biaya pendidikan dapat ditekan. Mungkin kita tidak merasakan biaya pendidikan itu mahal, karena tidak akan banyak lagi pungutan-pungutan diluar yang sudah diatur pmerintah/ yayasan.
Kalau KKN dapat berakhir, paling tidak berkurang secara bertahap dan lama kelamaan hapus, Insya Allah setiap orang akan bergaerah, orang dapat bekerja sesuai dengan keahlian/lemampuan/keinginannya. Tentu saja pendapatan orang akan meningkat, orang akan mampu membayar biaya pendidikan, dan tidak lagi dirasakan mahal.Untuk membrangus KKN harus dilaksanakan penegakan hokum secara adil, benar, konsekuen dan konsisten.
Jadi kesimpulannya dirasa biaya pendidikan memang mahal atau relative dirasa mahal:
Karena ada KKN, banyak pungutan-pungutan lainnya
Karena pendapatan masyarakat/keluarga yang rendah
Kurang mendapat perhatian dari pemerintah
Mutu/kualitas lulusan semakin menurun
Mudah2 an tulisan ini menambah urunan pemikiran dari lainnya.
Wass
Zoer'aini Djamal Irwan
Nama: rostini Dari: makassar/sul-sel Saya: Mahasiswi unm Saran: saran saya yaitu biaya pendidikan kalau bisa diturunkan karena banyak orang yang tidak mampu sehingga mereka tidak menikmati kemerdekaan karena tidak mendapatkan pendidikan, dan itu menyebabkan banyaknya banyaknya pengangguran.
masih banyak saudara-saudara kita yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik karena itu saya berharap agar biaya pendidikan di turunkan. agar semua rakyat indonesia bisa pintar dan tidak terbelakang sehingga sdm dapat ditingkatkan. E-mail Pengirim: ros_tin@yahoo.com Tanggal: 15 desember 2004
Nama: Aurapurify Dari: Makassar/Sul-sel Saya: Siswi SMUN 17 Saran: MENGAPA BIAYA SEKOLAH MAHAL???
banyak alasan yg sdh dituturkan diatas....salah satunya korupsi ,tapi menurut saya...justru "BUDAYA GENGSI"-lah yang sdh membawa masyarakat Indonesia ke krisis multidimensi sekarang ini.Demi "gengsi" banyak yg sering korupsi....untuk stasus "hey,liat saya orang kaya nih...!!".....
Kenapa sih....di Indonesia ada yg namanya GENGSI???kenapa sih harus ada perbedaan SI FULAN ORANG KAYA,SI FULANAH ORANG MISKIN...???!!!Kenapa harus ada "STATUS" yg 'brengsek' ini..!!!Daripada jaga gengsi diri sendiri mulu bikin muak dan sebbel aja(kapan sih,si "GENGSI" ini jadi nggak ngetren lagi??),mendingan "JAGA GENGSI BANGSA INDONESIA"...malu dicap sbg negara yg banyak tingkat korupsinya,gak?? nunggu pemerintah bertindak majuin pendidikan,tapi terlebih dahulu mo berantas korupsi dulu...KAPAN REALITASNYA??KAPAN KENYATAANNYA??
menurut saya ,MENDING LAKUKAN SENDIRI!!! JADIKAN PENDIDIKAN INDONESIA MURAH, SEKARANG JUGA ...GAK ADA ISTILAH NGOLOR2 WAKTU!!!KARENA DAH GAK ADA WAKTU LAGI!!!caranya...semua orang bisa lakukan..."NGILANGIN GENGSI!!!"Kalo si virus gengsi yg dah merusak sluruh aspek bangsa ini bisa dilumpuhkan....Saya yakin dengan usaha semua kita bisa jadi bangsa yang maju!!!!GAK ADA YG GENGSI KALO MAU NGASIH UANG KE TETANGGA YANG BUTUH BIAYA SEKOLAH, GAK ADA YANG GENGSI KALO GAK KORUPSI,GAK ADA YANG GENGSI KALO GAK TAMPIL TRENDY N STYLISH,dari pada duit ANDA hambur2 kan demi menjaga GENGSI anda....lebih baik diberikan pada PENDIDIKAN!!!!!titik.....sekian...dari saya..... E-mail Pengirim: kurage_ina@yahoo.com Tanggal: 22/12/2004
Nama: Dhila Dari: depok/jawa barat Saya: Mahasiswi depok Saran: pendidikan kita mahal karena kesalahan pemerintah yang enggan memfokuskan penyelesaian kasus korupsi di setiap jenjang birokrasi. bahkan yang paling memalukan, komite sekolah yang seharusnya menjadi kubu oposisi dalam mengawasi sekolah juga melakukan korupsi dana pendidikan.
mengapa kita tidak mencontoh Cina. negara ini pada tahun 80-an menggalakkan wajib belajar 9 tahun bagi warga negaranya yang telah mencapai usia sekolah. pendidikan 9 tahun ini diberikan secara gratis, tanpa imbalan apapun. wahai bapak-bapakku di pemerintahan, bapak amat bodoh jika menyangka rakyat bapak akan diam saja terhadap kezaliman yang bapak sebabkan. sesungguhnya niat baik akan memiliki pahala yang lebih berlipat ganda apabila diiringi dengan tindakan nyata. karena itu tolong tanah air yang menangis ini!!!!!!
E-mail Pengirim: dhila_hasby@yahoo.com Tanggal: 22 Desember 2004
Nama: dani hendra Dari: bandung Saya: Mahasiswa upi Saran: saya tidak mengerti dengan bangsa ini, ceritanya mo mencerdaskan kehidupan bangsa, eh...kenyataannya malah melepaskan tanggung jawab (sedikit tanggung jawab). lenin saja tokoh komunis berkata bahwa negara harus menghemat anggaran negara kecuali dalam hal atau bidang'pendidikan'. bangsa Indonesia tercinta ini bangsa yang kaya akan segala-galanya, dan akan mampu meningkatkan mutu pendidikan masyarakatnya, masa kita kalah ama negara vietnam yang merdekanya saja duluan kita.
mari kita semua berdoa semoga pemerintahan yang baru terbentuk ini dapatdiberikan jalan yang terang oleh 4JJI swt, dan diberikan kesadaran bahwa pendidikan itu merupakan barang yang penting dan sangat berharga demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang lebih cerah lagi. amin..... E-mail Pengirim: dani_valentinik@plasa.com
Saran Webmaster Berdoa itu baik, tetapi Indonesia adalah negara yang termasuk paling sering berdoa di dunia, karena negara ini yang mayoritas Islam, yang berdoa paling sedikit 5 kali sehari, yang paling besar di dunia, berarti rakyat Indonesia termasuk yang paling sering berdoa di dunia. Mengapa negara ini termasuk yang paling korupt dan membagi anggaran buat pendidikan yang sangat rendah? Mengapa dapat jadi begini?
Dengan sesuatu yang di luar jangkauan kita (misalnya cuaca), kita hanya dapat berdoa saja.
Dengan hal seperti korupsi dan pendidikan, dua-duanya ada di tangan kita dan kalau kita sendiri tidak berusaha, yang jahat (yang juga berdoa) akan menang. Siapa yang mau membantu orang atau negara yang tidak mau membantu diri sendiri? Apakah, Tuhan mau?
Kita sendiri (rakyat Indonesia) yang bertanggungjawab untuk korupsi dan pendidikan rendah dan mahal di negara ini karena kita diam (dalam berusaha).
Pemerintah adalah karyawan kita. Kalau karyawan kita mencuri dan kita diam saja, apa lagi senyum saja (tidak protes) - mereka (pemerintah) akan mencuri terus (senyum kita berarti kita setuju).
Rakyat Indonesia pilih saja:
- Mau diam dan tidak berusaha untuk merubah keadaan, atau
- Mau bersuara dan berusaha untuk memperbaiki keadaan di negara kita termasuk pendidikan.
Masa depan bangsa (dan cucu bangsa) ada di tangan kita (Rakyat Indonesia - Pemilik Indonesia)!!! Bukan yang berkuasa sementara!!!
Kalau karyawan kita mencuri - di hukum dan diganti dengan yang mau bertanggungjawab! Yang tidak berhasil diganti secepat mungkin!
Salam Hormat dan Selamat Berjuang!
Phillip R., Webmaster Tanggal: 22 desember 2004
Nama: Puji Masir Dari: Ciputat/Banten Saya: Mahasiswi Akademik Bahasa Asing Saran: pendidikan memang butuh dana dan biaya apalagi namanya pendidikan yang berbasis swasta bisa di manage oleh para managemennya, tapi anehnya pendidikan yang berbasis negeri yang sebagian staff pengajar, fasilitas dsb dapat dari pemerintah, seharusnya memberikan keleluasaaan kepada para siswa yang tidak mampu untuk mengenyam pendidikan tapi justru anehnya malah dibikin bisnis oleh para manegemennya, tolong berlakulah adil jangan serakah kita bisa lihat pemimpin kita SBY dan Hidayat Nurwahid. terima kasih Bapak-bapak, semoga anda istiqomah E-mail Pengirim: nestyaputri@yahoo.com Tanggal: 29-12-2004
Nama: ryan Dari: malang-jawatimur Saya: Mahasiswa univ.negeri Malang Saran: biaya pendidikan di Indonesia mahal, hal ini dapat terjadi karena Pemerintah sangat kurang kepeduliannya terhadap pendidikan di indonesia. pendidikan merupakan sektor terpenting dalam sebuah negara, dan seharusnya bangsa indonesia menyadari hal itu.
untuk menjadi bangsa yang memiliki kualitas pendidikan yang baik, seharusnya dana APBN disisihkan 20% tiap tahunnnya untuk pendidikan, tentu saja dengan pemanfaatan yang tepat guna. korupsi di dalam dunia pendidikan juga masih jadi kendala utama dalam pemerataan pendidikan. E-mail Pengirim: ryan_sweet85@yahoo.com Tanggal: 31 desember 2004
Nama: Antonio Dante Dari: Palembang/Sumsel Saya: Mahasiswa Fak. Kedokteran Unsri Saran: Nampaknya kebijakan pemerintah utk menerapkan sistem pembelajaran KBK, sejauh ini belum sepenuhnya berhasil. Padahal para siswa (termasuk saya sendiri) mengharapkan dgn adanya kurikulum ini kami dpt lebih bebas berpikir, berkreasi dan meghasilkan pemikiran2 baru dlm belajar.. Semoga saja pd thn2 mendatang kurikulum ini terus dikembangkan dan BUKAN DIUBAH (lagi)! Terlau derasnya arus reformasi dan banyaknya perubahan dlm tubuh pendidikan Indonesialah yg-mungkin-mengakibatkan perkembangan pendidikan di negeri ini seperti "jalan ditempat". Saya sbg siswa selalu mengharapakan agar pemerintah (siapapun yg akan memerintah nantinya) dan kpd diknas khususnya agar selalu melakukan eveluasi dan perbaikan2 thd pendidikan di negera kita ini... E-mail Pengirim: Flash_Gordon@yahoo.com Tanggal: 01/01/2005
Nama: akram Dari: gorontalo/gorontalo Saya: Guru smu gorontalo Saran: pendidikan kita tidaklah mahal, memng untuk mendapatkan ilmu perlu pengorbanan, dengan biaya pendidikan yang sekarang tidak sesuai denagn kemampuan seseorang, kita hanya menarik sana sini, banyak kepentingan di dalamnya (KKN), tidak akan maju selamanya kalau pendidik kita apalagi pememrintah selaku pengambil kebijakan didasari dengan penuh perasaan dan belas kasih yang salah pilih pdahal kalui ingin maju, siapa yang mapu dia yang dapat maaf coba kualitas dikedepanka bukan otot atau persaaan, bosan indonesia banyak KKN lebih baik belajar yang giata kemudian ke negeri orang saja good bye indonesia E-mail Pengirim: akram _@yahoo.com Tanggal: minggu, 16 januari 2005
Nama: junaidi Dari: Yogya/ DIY Saya: Mahasiswa UMY Saran: jangan ngomong seenaknya.
ada beberapa orang yang mengatakan kalau biaya pendidikan itu relatif. itu memang benar tapi tolong kalau mau berkata itu fikir lebih dalam lagi. ok bagi kita mungkin uang pendidikan sekarang ini tidak mahal tapi masih ban....yak oang yan tidak mampu sekolah, ya.. mungkin salah satu dari sekian alasan itu adalah "KORUPSI" selama ini banyak subsidi kepada yang menempuh pendidikan tapi kita lihat kenyataan di lapangan seberapa banyak sih.. yang benar benar sampai kepada orang yang tidak mampu. paling-paling bila ada orang tuanya dalam bidang tertentu yang memberikan beasiswa itu berfikir "lebih baik untuk anak saya daripada orang lain" sehingga kadang orang miskin yang mau menjalani proses untuk mendapatkan bantuan itu SEDIKIT DI PERSULIT.
sekian dulu
mohon kepada pihak yang berwenang. pendidikan harus utama jangan hanya di mulit saja di hati ogah. kapan indonesia akan baik jika tidak di mulai dengan pendidikan yang benar (kami ini bisa korupsi karena orang yang duluan berhasil dari kami yang melakukan korupsi)
mohon di renungkan demi anak cucu E-mail Pengirim: jun_gayo@yahoo.com Tanggal: 17 Januari 2005
Nama: galih ginanjar Dari: wonogiri Saran: pertama-tama pendidikan itu memang perlu untuk semua orang. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, itu semua juga karena pendidikan. Orang bisa disebut bodoh jika dia tidak mendapat pendidikan sehingga di tengah masyarakat dan pada saat dia melakukan sesuatu yang tidak dia dapat dari pendidikan. Pendidikan membutuhkan fasilitas. Mungkin ini yang membuat pendidikan mahal.
Seperti fasilitas alat juga fasilitas guru. banyak guru yang punya kualitas, tetapi karena dia punya kualitas menjadi dia harus dibayar mahal atas kualitas yang dimilikinya itu untuk diajarkan kepada para muridnya. Ya pendidikan mahal juga karena biaya perekonomian yang juga meningkat. Kenapa tidak orang yang berlebihan dana tidak menggalang dana untuk beasiswa buat anak didik. E-mail Pengirim: mass_galih2@plasa.com Tanggal: 22 januari 2005
Nama: susminto Dari: Kediri-Jawa Timur Saya: Guru SMA Hang Tuah 4 Surabaya Saran: sebagian dari kita berpendapat bahwa pendidikan mahal memang untuk mencapai kualitas yang lebih baik (it's OK), tetapi apakah tidak ada upaya yang lebih kreatif dari birokrat pendidikan dan khususnya pelaku pendidikan formal untuk mengusahakan kualitas dengan biaya yang relatif murah.
atau mungkin mahalnya pendidikan formal sekarang adalah karena pendidikan di semua tingkatan sudah disertai naluri bisnis di dalamnya?
saya seorang guru yang kebetulan tahu betul kondisi di sekolah (meskipun sekolah swasta) sekarang ini. tahu betul betapa pengelola sekolah ; termasuk guru; yang secara seenaknya dan sewenang-wenang menentukan apa-apa yang harus dibayar oleh orang tua siswa, termasuk dalam menentukan buku bacaan yang harus dibeli oleh siswa, tanpa ada pengawasan dari birokrat pendidikan.
jika kita mau pendidikan formal ini tidak terkesan mahal, maka yang harus kita teriakkan adalah mendesak birokrat pendidikan agar memberikan pengawasan kepada pengelola sekolah dalam penentuan biaya kepada siswanya (khususnya sekolah negeri, jika perlu dibuat standard maksimal biaya pendidikan yang harus dibayar siswa di setiap tingkatan.
tanpa pengawasan, sekolah memang cenderung seenaknya untuk menentukan biaya yang harus dikeluarkan siswa, karena memang pola pikir "kami" adalah yang butuh pendidikan formal adalah masyarakat, biaya semahal apapun pasti akan diupayakan demi sekolah anak.
atau jangan-jangan para birokrat pendidikan juga mendapat rejeki dari mahalnya penarikan biaya tersebut? (wallahu a'lam) E-mail Pengirim: simento2806@yahoo.com Tanggal: 31 Januari 2005
Mengunjungi:
Ke Halaman: 3
|